Cieee ciee update😂😂
Nunggu yahh???Maapkan ya, baru sempet up😆 bussy banget deh... Dunia ku nggak cuma wattpad ajeehh.. Jadi maklum lah ya😁
Btw terhura banget loh aku sama kalian2 yang setia menunggu dan dukung aku😳😳 cintakk deh pokoknya!!
Cusslah.. Eksekusi😘😘
Koreksi typo yeessHappy reading all😍😍
Secha memandang sendu cincin emas bertahtakan berlian yang melingkari jari manis kanannya.
Susah payah ia menahan isakannya, entah sebenarnya kesakitan mana yang ia tangisi, semuanya terasa begitu menyakitkan, seolah ia sedang dipermainkan takdir.
Jauh dilubuk hatinya, Secha ingin bertahan dengan rumah tangganya, tetap berada disisi Seto, meski ia tau ia akan tersakiti lagi dan lagi, namun disisi lain logikannya tidak dapat bekerja sama, keinginan lepas dan bebas dari seorang Seto Nugroho sangatlah besar, ia tak tahan dengan semua kesakitan yang ia terima. Ia tau Seto tak menginginkan anak ini, ia tak mau kelak anaknya merasakan sakitnya tidak diinginkan oleh ayah kandungnya sendiri, membayangkan saja sudah membuat Secha menitikan air mata.
"Pulanglah, bicara baik-baik dengan suamimu, dia pasti mengerti... Bagaimanapun janin yang kamu kandung adalah darah dagingnya.", Secha tersentak, ia segera menghapus air matanya dan membalikan badannya dan menatap Wisnu dengan senyuman hambar.
"Dokter nggak ngerti.. bertahun-tahun saya hidup dengan Mas Seto, saya hafal betul bagaimana tabiatnya, bagaimana kerasnya ia pada hal-hal yang tidak ia inginkan dan sukai.", jawan Secha parau.
Wisnu menatap Secha sendu, lelaki itu mendekati Secha, wanita yang berstatus sebagai pasiennya, wanita yang tidak ia kenal sebelumnya, namun entah mengapa, hatinya terdorong untuk menolong wanita itu, memberikannya perlindungan. Seolah hatinya tak ikhlas melihat wanita bersorot sendu itu menitikan air matanya.
"Aku tidak memaksa.", ucap Wisnu dengan senyum hangatnya.
"Ambilah.", Secha menatap amplop berwarna coklat ditangan Wisnu.
"Uang hasil penjualan kalungmu.", imbuh Wisnu, seolah ia tau apa yang akan ditanyakan Secha.
Secha mengambil amplop berisi uang itu dengan perasaan tak karuan, kalung turun temurun yang selama ini ia jaga kini sudah berubah menjadi segepok uang.
"Sebanyak ini dok?", tanya Secha heran.
"Kamu bilang kalung itu memiliki sejarah, kalung antik turun temurun dari keluarga ibumu. Rasanya tak salah bukan kalau aku menghargainya dengan harga yang sepadan dengan nilai sejarahnya.", jawab Wisnu mengerlingkan matanya.
Secha kehabisan kata-kata, ia tak habis fikir dengan lelaki yang berdiri di depannya ini, bahkan lelaki ini belum genap seminggu mengenalnya, namun kenapa ia begitu baik(?)
"Saya nggak tau harus balas kebaikan dokter dengan apa.. Saya janji akan mengganti semua uang yang telah dokter keluarkan untuk saya.", ucap Secha dengan haru, dan diangguki oleh Wisnu.
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu ke stasiun, aku sudah membelikanmu tiket, kita berangkat jam 2.", lagi-lagi Secha tak habis fikir, beruntungnya ia bisa mengenal laki-laki sebaik Wisnu.
"Tidak usah memikirkan bagaimana cara mengganti semua uangku, cukup jaga kesehatanmu, dan kandunganmu. Antarkan dia menjadi seorang yang sukses dan berhati kuat dan baik sepertimu.", akhir Wisnu, sebelum ia menghilang di balik pintu.
****
"Pak, informasi terakhir yang kamu dapat tentang ibu, kemarin saya mengatar beliau ke rumah sakit, waktu itu saya belum tau ibu sakit apa, karena beliau hanya menyuruh saya menunggu diluar---
"Intinya saja!", sergah Setl cepat pada Bagas.
"Ibu hamil pak."
Duar!
Bagaikan sebuah petir yang menyambar dirinya, tubuh Seto menegang seketika, jantungnya berdebar tak karuan, nafasnya seolah tercekat. Jadi malam itu..
Ya Tuah... Ia telah menyakiti calon anaknya. Calon anak yang selama ini ia nantikan, buah dari kerja kerasnya dan juga obat hormon penyubur yang selama ini ia minum dan minumkan pada Secha.
"Dimana mereka?! Dimana istriku?! Dimana calon bayiku?!", todong Seto sambil mencengkram kerah baju Bagas.
"Anak buah saya mensinyalir dokter yang memeriksa Ibu kemarin, ada hubungannya dengan kepergian ibu, sepertinya dokter itu membantu ibu kabur pak.", Jelas Bagas.
"Karena tercatat di rumah sakit, kemarin ibu kembali memeriksakan diri kepada dokter bernama Wisnu Aditama itu, dan setelahnya jejak ibu sangat sulit ditemukan.", jelas Bagas.
Rahang Seto mengetat, ia mengepalkan kedua tangannya.
"Cari alamat dokter sialan itu sampai dapat!"
Bagas mengangguk, "saya sudah mendapatkan alamatnya pak, namun saat saya datangi, rumah itu hanya ditinggali oleh ibu dan beberapa pembantunya pak.", jelas bagas.
"Aku tidak peduli! Bawa dokter bajingan itu ke hadapanku! Dalam keadaan hidup ataupun mati!"
Bagas tak berkutik, "mohon maaf pak sebelumnya, saya tidak berani berbuat senekat itu, itu melanggar hukum pak, dia bisa saja melaporkan bapak ke polisi kalau memang ia tidak tau menau masalah hilangnya ibu pak, karena hal tadi baru spekulasi terdekat saja, meski saya berani menjamin kebenarannya pak. Namun alangkah baiknya bapak menemuinya sendiri.", ucap Bagas menerangkan.
Seto menggeram.
****
"Dokter akan pergi ke Solo juga?", tanya Secha heran, pasalnya Seto juga mempunyai tiket yang sama dengannya.
"Tentu, aku akan memastikan bahwa pasienku ini baik-baik saja sampai ditempat barunya.",jawab Wisnu menggoda Secha.
Secha tertawa pendek, "dokter terlalu baik.. saya takut nanti-nanti saya akan dilabrak oleh istri dokter.", kekeh Secha.
"tenanglah Cha, ini tidak gratis..", Secha mendelik tajam menatap Wisnu, bola mata coklat milik Secha seolah menabrak tepat di retina Wisnu.
"Just kidding.. Ngomong-ngomong aku duda.", ucap Wisnu.
Secha tersenyum kecut memandang Wisnu, ia tak tau harus berkomentar seperti apa.
"Jadilah istriku saat kamu telah menjanda kelak."
Cuttt😋😋😋😋
Kira2 Secha mau nggak ya😂😮
See you next😆
Kecup manjahhh dari Author nocturnal😂

KAMU SEDANG MEMBACA
(un)Loved Wife [END/COMPLETE]
Chick-Lit#1 on WEDDING {25.02.20} #5 on TEARS {25.02.20} #2 kn TEARS {28.07.20} "Aku akui dan sadar betul betapa sombong dan angkuhnya aku dulu, tapi bisakah kau melupakan semuanya? Bisakah kita menjalani rumah tangga kita dengan normal? Karena aku.. Mulai m...