"Aku suka kamu".
Hening, hanya terdengar debaran yang sedikit samar terbawa angin yang mengembus keras sore ini, debaran yang sama namun dengan arti yang berbeda.
Itu pernyataan paling ditunggu seharusnya, dengan jeda penuh debaran yang menggelitik sekaligus menyenangkan.
Namun kali ini jeda yang ada tersendat begitu lama, gadis yang dituju membisu dengan ledakan pikiran yang sedang coba ia pahami, bagaimana kenyataan membuat sebuah kejutan untuknya kali ini.
Tatapannya beralih, menatap si empunya suara tepat di titik terdalam matanya. Ia membuang nafas berat sebelum mulai bersuara, membuat halte bus yang begitu lenggang mengeraskan volume apa saja yang bersuara di sekitar nya.
"Bukankah kamu dan Rinai." Laki-laki yang beberapa bulan belakangan ini ia kenal dekat itu sontak terkekeh, lantas menggenggam tangannya dengan lembut.
"Tidak ada apa-apa dengan Rinai, yang aku suka sejak awal itu kamu. Dia hanya menjadi sumber informasiku." Sayang, penjelasan itu tidak menenangkan apapun.
Perasaan ini rumit, bukan hanya tentang dua hati dalam satu rasa, melainkan ada hati lainnya yang harus dijaga.
"Tapi selama ini harusnya kamu tau kalau Rinai suka kamu." laki laki itu menggenggam tangannya lebih erat.
"Hei, dengar Embun. Itu bukan urusanku, dia yang terlalu bawa perasaan untuk sebuah kebaikan yang wajar saja dilakukan. Intinya sekarang, aku menyukaimu dan mau kita bisa menjadi lebih dari sekedar teman dekat. Jadi, aku perlu jawabanmu." Embun bergeming, ini masih dalam luar batas pemahamannya.
Padahal selama ini Guntur selalu saja dekat dengan Rinai, mereka terlihat seperti pasangan yang bahagia di mata embun.
Rinai suka Guntur dan Guntur juga selalu menampakkan hal yang sama pada Rinai.
Ini bukan tentang perasaannya yang memang tidak pernah menyukai Guntur sebagai lawan jenis, tapi lebih kepada bagaimana bisa Guntur mengatakan semua hal yang bertentangan dengan kenyataan yang Embun pahami, tentang bagaimana perasaan Rinai pada Guntur yang ternyata tak pernah selaras.
"Maaf Guntur, tapi aku tidak pernah menyukaimu lebih dari sebatas teman. Seharusnya Rinai yang kamu suka, jangan aku." Ini berat, baik bagi embun dan juga Guntur.
Karena setelah kejadian ini, semuanya mungkin tidak akan lagi sama. Mungkin saja, akan ada yang berbeda diantara mereka bertiga.
Guntur melepas genggaman tangannya pada Embun, meremas rambutnya gemas, sebuah gemuruh dalam dirinya tersulut saat ini oleh jawaban embun yang sama sekali tidak diinginkannya.
"Tidak ada kata Rinai seharusnya, Embun. Tolong jangan bawa dia dalam pembicaraan ini, intinya hanyalah kita." Suara Guntur terdengar masih menahan diri untuk tidak berteriak. Namun Embun tetap tidak mengiyakan, karena memang tidak ada jawaban iya dalam hatinya.
"HAH..Persetan dengan Rinai." Guntur melenggang pergi dengan keadaan kesal, meninggalkan bekas pengalaman tak menyenangkan yang tidak pernah Embun inginkan.
Pengalaman cinta pertama Embun yang sama sekali tidak menyenangkan, hari ini benar-benar buruk. Mungkin begitu pula hari esok.
+++
Banyak perasaan tidak mengenakkan terjadi sejak kemarin, hari embun mendingin.
Begitu pula pagi hari ini yang sudah sejak subuh tadi di selimuti gerimis kecil tak berkesudahan. Hujan kali ini juga terjadi pada Rinai, kontaknya di ponsel Embun tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa penjelasan dan juga alasan, tidak ada foto seorang gadis yang tengah tersenyum ceria dengan dua jari yang sering dia tampakkan.
Mata bulat Embun bertabrakan dengan iris coklat menyenangkan milik orang yang begitu ia kenal sejak sekolah dasar.
Mulutnya yang sempat terbuka ingin mengatakan sesuatu seketika urung, pemilik mata yang sangat ia tunggu kedatangannya itu kini berubah asing.
Tidak ada lagi yang sama, seakan entah sejak kapan mata itu kini menyorotkan hal yang berbeda, terlalu asing untuk coba embun kenali.
Tidak hanya milik Rinai, baru saja embun memberikan sebuah langkah memasuki kelasnya. Tatapan semua yang ada di dalam ruangan tidak lagi memancarkan suasana untuk menghangatan dinginnya hujan di luar.
Sorot mata yang tanpa bersuara namun menghakimi tanpa penjelasan.
Tidak ada yang ingin memberi Embun penjelasan tentang apa yang sudah ia lewatkan sehingga menjadi begitu berbeda dengan sekitar, hanya tersisa beberapa yang acuh dengan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa dan juga tidak peduli. Namun tetap saja, Embun sendirian dalam kurungan pandangan memuakkan itu.
"Sahabat macam apa kamu itu hah?" Suara itu terdengar begitu saja dari Arus, matanya menyalak menatap Embun penuh kemarahan.
Embun memilih diam, nyalinya terlalu ciut untuk menatap sekitar. Karena tanpa melihat dengan matapun, ia tau kali ini dialah yang menjadi pusat perhatian dari seisi ruangan.
Seperti terdorong oleh permintaan tanpa suara dari mereka yang melihat, Arus menghampiri Embun yang terduduk diam dibangkunya, bersiap menyemprotkan tinta pekat yang telah ia siapkan dan akan terus bertambah seiring langkahnya pergi.
"Sejak kapan kau bisu hah, harusnya kamu minta maaf pada orang yang kamu sebut sahabat tapi malah kamu tikam dengan tepat dari belakang." Sebuah isakan sontak terdengar, Rinai menangis layaknya alunan lagu latar dalam dramatisasi puisi yang dibacakan Arus.
Sangat disayangkan bahwa kali ini semua itu nyata, bukan hanya latihan opera kelas. Hal yang sangat mengejutkan Embun dalam sekali sambaran. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk mencerna fakta.
Tatapannya terangkat, melihat bagaimana sahabatnya menangis seakan mengiyakan semua pernyataan Arus lalu pandangannya memutar tanpa persetujuan pemilik tubuh, membuat Embun bisa melihat dengan jelas semua tatapan tajam yang jauh lebih dalam menusuk daripada yang terlihat.
"Aku tidak menyangka kamu seperti ini, padahal selama ini aku menghargaimu dalam segala tindakan Embun. Bukankah seharusnya kamu yang paling tau kalau Rinai menyukai Guntur, tapi dengan gampang kamu malah menyatakan perasaanmu pada Guntur kemarin." Guratan miring tercetak di wajah Arus, kalimatnya masih belum selesai. Tapi Embun sama sekali tidak ingin menyela dan membela diri, tatapan semuanya cukup membuatnya tau bahwa suaranya sangat tidak diperlukan saat ini.
"Terkejut hah? Bagaimana kami bisa tau? Seharusnya kamu pikirkan bagaimana perasaan Rinai saat dia melihat sendiri apa yang terjadi."
"Benar-benar luar biasa, aku bahkan tidak menyangka kamu lebih buruk dari sampah." Percakapan panjang yang menguras habis waktu Embun itu diakhiri dengan akhir kata yang dipenuhi penekanan.
Nata datang melerai, meminta Arus untuk menghentikan kegeramannya sebelum suasana berubah lebih menyeramkan.
Sayang saja tindakannya bukan untuk menyelamatkan atau membantu Embun semata. ia hanya ingin menyelamatkan harinya dari kegaduhan.
Embun bahkan tidak mengerti bagaimana bisa Rinai mengarang cerita yang bertolak belakang meski dia tau sebenarnya.
Sesederhana itu, cinta dapat merubah ikatan menjadi titik kelam yang mengharuskannya berjalan sendiri mengakhiri akhir masa SMP nya, dengan benci dari sahabat yang ia jaga hatinya.
Guntur yang sama sekali tidak peduli bahkan setelah menyatakan kalau dia benar-benar menyukai Embun, dan pihak ketiga yang hanya mengerti apa yang mereka dengan semata.
Embun masih belum bisa mengerti, apakah perasaan memang selalu sebercanda itu kepadanya yang tak tau apa apa.
ia bahkan belum jatuh pernah jatuh cinta, tapi kenapa cinta sudah terlebih dulu menikamnya kuat?
+++
Saya publish work ini dengan banyak halangan.
Semoga semuanya cepat terselesaikan dengan hasil terbaik, soalnya work SEMESTA ini sudah saya siapin dari 4 tahun yang lalu sebenernya.Tolong tinggalkan jejak ya, saya sangat menghargai apresiasi kalian.
Salam hangat ♡

KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA (bicara tanpa bersuara)
Teen FictionPerasaan yang melibatkan semesta, tentang bagaimana menumbuhkan rasa yang mati sejak dari bibitnya. Embun yang bisu, Awan yang cerah bahkan hampir sempurna, Bintang yang gemilang, Langit yang kelabu dengan ribuan sisi misterius, dan Fajar yang setia...