Bersama langit yang menjatuhkan hujan, pipi adalah tempat terbaik untuk air mata mengalir. Baik awan kelam maupun angin kencang, keduanya sama-sama menanggalkan langit biru yang sebelumnya baik-baik saja. Layaknya ramalan cuaca manusia yang kadang benar kadang tidak, runtutan peristiwa takdir tak selalu bisa ditebak.
Setibanya Dara di ambang pintu, mbak Puput segera keluar membawakan handuk, lalu menatap khawatir tubuh Dara yang berbalut pakaian kuyup.
"Bunda gimana, mbak?"
"Lagi istirahat, dokter pesan supaya bunda harus makan. Kalau enggak, lambungnya bisa kambuh,"
Gadis itu menyeka air matanya, mencoba menarik napas dalam-dalam, bagaimanapun bunda tidak boleh melihat kesedihan yang kerap kali muncul kala berita buruk dari beliau menimpanya.
"Bunda gimana bisa pingsan?" Dara menggenggam tangan beliau, wajahnya pasi dengan kantung mata yang nampak kentara.
Beliau tersenyum, "cuma kurang sehat saja, nak." Ungkapnya beralibi.
"Bunda ingin apa? Aku belikan ya?" Mendapat respon gelengan pelan dari bundanya, sebisa mungkin untuk Dara agar tidak menangis putus asa. Dan jika sudah begini, hanya ada satu pilihan yang berat untuk dilakukan. "Kalau aku telpon ayah biar kesini suapin bunda, bunda mau makan, kan?"
Mendengar itu, tak ada yang bisa mencegah senyum beliau untuk terulas, "iya, kamu telpon ayah. Bunda kangen sama ayah," serunya antusias, "kamu juga kangen sama ayah, kan?"
Dara terdiam, sebagai respon garis bibirnya membentuk lengkung tipis, aku kangen sama ayah, setiap hari malah. Tapi, alur takdir bilang kalau aku harus melupakan, melupakan hal yang bahkan tidak terlalu bagus untuk dikenang.
"Kalau gitu bunda istirahat dulu, ya? Nanti kalau ayah datang aku bangunin lagi." Setelah memastikan bahwa bunda benar-benar menutup mata, Dara keluar dari kamar lalu menangis dalam bungkam, tak ada lagi isakan walau pelan.
"Kamu kenapa, dek?"
Dara menyeka air matanya, lalu tersenyum, "mbak yakin tanya aku kenapa?"
Mbak Puput menggeleng, tidak ada yang berubah jika hanya bertanya 'kenapa'. Maka dari itu, mbak Puput membawa Dara dalam dekapannya, "bunda pasti sembuh, tugasmu hanya perlu bersabar, selayaknya yang pernah mbak Puput bilang ke kamu, Tuhan hanya akan memberi cobaan kepada manusia pilihan, manusia yang benar-benar kuat, yang menjadikan kesabaran sebagai pedoman."
"Tapi rasa sabarku ini ada batasnya, mbak." Jawab Dara.
"Dara, sabar itu tidak ada batasnya. Kalaupun ada, itu bukan kesabaran namanya, melainkan usaha untuk menahan segala perasaan yang tidak menyenangkan, yang sewaktu-waktu bisa meledak jika kamu lepas kendali."
Dara bergeming sesaat, "Sampai sini paham?" lalu tersenyum kecil, "paham, mbak."
"Ya sudah, kamu cepat mandi biar nggak sakit."
"Tapi mbak," mbak Puput menatap tanya lantaran Dara menyela, "bunda ingin makan kalau ayah ke sini, boleh aku minta tolong supaya mbak yang telpon?"
Wanita itu tersenyum, "iyo-iyo, ndang kono mandi."
Dara mengangguk sebelum benar-benar pergi untuk mandi. Sedang mbak Puput melakukan apa yang Dara katakan, menelpon ayah.
Sejak kedua orang tua Dara bercerai, saat itulah kata bahagia tak lagi ada. Bagaimanapun, tidak ada anak yang baik-baik saja ketika orang tua mereka memutus tali hubungan. Ayah bilang, alasan mereka bercerai karena rasa tak lagi ada. Dan jelang beberapa bulan, sepucuk undangan pernikahan mendarat di pekarangan. Dara kecewa dan menyayangkan keputusan ayah waktu itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Semesta untuk Dara [TAMAT]
Fiksi RemajaSemesta punya beribu cara agar mampu mengembalikan tawa Dara yang telah lama sirna. Dan salah satu diantara seribu, ada satu yang tak pernah sia-sia, yakni dengan mengirim salah satu manusia bernama Sena. ©2019 dorafatunisa