Jangan lupa vote dan komen ya kalo ada typo, biar aku semangat!
~•~
"Aduh aduh aduh!" ringis Seli sambil menangkis tangan Putri, saat hampir saja mereka sampai di kantin.
Mira pun juga melepaskan tangan Putri. "Tau nih, kenapa sih dorong-dorong?" kesal gadis itu sambil menyernyit.
Bukannya merasa bersalah, cewek berambut panjang itu malah cengengesan sambil menggaruk kepalanya sendiri.
"Males gue berurusan sama cowok tadi," jawabnya jujur seraya memutarkan bola matanya lalu mendengus.
Kedua sahabatnya mengangguk percaya lalu melengos lanjut memasuki area kantin diikuti Putri yang menyamakan langkah. Seperti biasa Putri menjadi sorotan semua orang perihal keributan tadi pagi yang terjadi.
Bukannya malu atau takut, Putri menatap balik mereka yang menatapnya sambil berbisik-bisik. Dia tertawa renyah ketika satu orang langsung membuang muka dengan gugup.
"Idih, giliran diliatin balik malah melengos, haha," tutur Putri santai.
Tiba-tiba Mira berhenti berjalan dan memegang bahu Putri dan Seli. "Eh eh guys, liat tuh! Itu bukannya Tio?" unjuknya sambil menyodorkan jari telunjuknya kearah meja paling di ujung kantin.
Putri memajukan wajahnya dengan mata menyipit, sedangkan Seli menepuk tangan Mira. "Het, mana sih?" tuturnya penasaran.
Mira menegaskan tunjukkannya tapi kedua temannya tetap tidak melihat.
"Het! Mata lu pada kemana sih, ayo deh ikut gue!" ucap gadis berambut ikal sebahu itu.
Putri dan Seli mengikuti Mira dari belakang. Setelah menurutinya, benar kata Mira. Seli mengepalkan tangannya, matanya memanas dan tak lama air matanya berlinang di pelupuk.
Mira memajukan dagunya isyarat menunjuk, sedangkan Seli diam saja dengan wajah memerah. Putri menatap Tio remeh dan menghampirinya santai.
Brak!
Dia menggebrak meja cowok itu sampai akhirnya Tio dan satu cewek, bernama Cindi itu menoleh kaget. Sontak seketika seisi kantin menoleh kearah mereka. Putri menatap Tio sambil menyunggingkan bibirnya lalu menoleh kearah Seli.
Cowok itu pun ikut menoleh, dia terkejut lalu bangkit dari duduknya. "Seli?"
Seli menghampiri Tio dengan langkah penuh emosi. Air matanya sudah tidak ada lagi, dia hanya menatap Tio penuh kekecewaan dan banyak pertanyaan.
"Bener ya kata Putri, kalo cowok modelan kayak lo, gak akan pernah bener!" dengusnya dengan mata memerah.
"Sel Sel, maafin aku, ini cuma temen kok." Tio menghampiri Seli lalu hendak memegang tangannya tapi keburu disergah.
Putri menatap Seli dengan mata menyipit dan menggeleng memberi isyarat 'bullshit'. Seli tahu apa maksud Putri.
"Basi!" pekiknya. "semua cowok bejat kalo keciduk selingkuh pasti jawabnya gitu kok!" tuturnya sambil menyengir miris.
Tio merengut lalu sesaat membuang mukanya tidak percaya. "Cih! Gue kayak gini juga karena lo! Cewek jelek kayak lo mana pantes sama gue?! Udah culun, tuh poni kemana-mana, sok imut, manja!" kata Tio terang-terangan.
Dengan sekejap seolah hatinya seperti disambar petir. Sesaat kemudian terasa hening dan hanya terdengar detak jantung dirinya sendiri. Ingin sekali menangis saat ini juga tapi dia tidak boleh terlihat lemah di depan makhluk sialan ini.
Dia menarik napas walau sebenarnya matanya sudah panas.
"Jelek? Gue ini nyetarain penampilan gue sama lo! Kalo lo-nya aja penampilannya kayak gini, masa gue harus jadi cewek cantik? Nanti lo malu sama diri lo sendiri," ledek gadis itu pada akhirnya. Dia terkikik remeh walau matanya terpampang jelas bahwa hatinya tertampar kata-kata Tio barusan.
"Sial!" erang Tio marah. "asal lo tau, selama ini gue gak cinta sama lo! Kalo gue suruh milih, gue lebih milih Cindi dari pada lo!" tampik cowok itu sambil menunjuk-nujuk wajah Seli.
Seli menatapnya nanar, sesekali mengerjap. Sungguh, baru pertama kali dirinya dibentak seseorang selama hidupnya. Hatinya hancur, matanya memanas, tapi hanya dia lampiaskan pada kepalan tangan.
Seli mengangkat sebelah alisnya. "Lagian, siapa yang nyuruh lo buat cinta sama gue?" sindirnya. "bukannya waktu itu lo yang mohon-mohon ke gue, supaya gue nerima lo?" imbuhnya lagi lalu menyedekapkan tangannya.
Tio mengangkat tangannya lalu tertahan ketika Putri berjalan maju mendekati Seli dan Tio. Gadis itu bertepuk tangan kagum bermaksud meledek lalu menjentikan jarinya di depan wajah cowok itu.
"Halo? Udah pembelaannya?" sindir Putri dengan nada menantang.
"Apa? Mau mukul? Lo gak takut sama nih kamera?" imbuh Mira sambil menunjukan kamera yang sudah aktif sedari tadi.
"Udah ayo, kita pergi aja dari sini," pungkas Seli lalu melenggang pergi meninggalkan kerumunan itu.
Seli tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang. "Kita putus, barang mahal yang gue beli buat lo, gak perlu lo balikin. Gue gak butuh," imbuhnya sebelum akhirnya melenggang pergi.
Putri sengaja berjalan paling belakangan dan menoleh pada Tio yang mendelik tidak terima. "Hebat 'kan anak didik gue?" sindirnya lalu melengos.
Kerumunan yang sedari tadi berkumpul menonton kejadian itu bersorak pada Tio dan mendukung Putri sambil memanggil-manggil namanya.
"Yuhuu, Putri! Putri! Putri!"
"Gila si Seli jadi jago ngomong lawan cowok kayak Tio!"
"Yoi karena cewek gue tuh!"
"Yeuu apaan lo, mana mau Putri sama lo!"
Napas Tio menderu kesal penuh emosi lalu menggebrak meja dan berteriak, membuat Cindi yang dari tadi diam saja terkejut bukan main.
"Pergi lo semua!" hardiknya.
Semua orang pun menatapnya penuh tatapan aneh dan berangsur-angsur semuanya pergi sambil membawa makanan mereka masing-masing.
"Awas lo Put! Cewek sial!!"
.
.
.To be continue
Haloo maaf banget belakangan ini jarang up karena tugas nyepam terus kemarin.
(╯°□°)╯︵ ┻━┻

KAMU SEDANG MEMBACA
MATSA [ Tamat ] 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶
Teen FictionHanya cerita si cewek yang mati rasa bernama Putri. Sudah berkali-kali dikecewakan oleh cowok-cowok yang selalu mempermainkan dirinya, membuat Putri menutup diri dan tidak peduli lagi dengan apapun yang berhubungan dengan laki-laki, apalagi ternyata...