Setelah Jumono kembali duduk di tempatnya semula, maka kakek Sancoko kemudian berdiri di hadapan anak-anak muda Gluntung yang ikut berlatih kanuragan malam itu.
"Malam ini, kalian mendapatkan pelajaran yang berharga, dua anak muda yang menjadi tamu dari Ki Buyut telah memperlihatkan bahwa semangat serta kemampuan memainkan jurus tidak cukup untuk memenangkan sebuah pertandingan, ada lagi yang harus diperhatikan dalam sebuah pertandingan, yaitu siasat, dan itu yang harus kalian tanamkan dalam diri kalian, kemampuan membaca kelemahan lawan"
Panjang lebar kakek Sancoko memberi sesorah dan pengertian kepada anak-anak muda Gluntung agar mereka bertambah giat dalam berlatih untuk berjaga-jaga jika ada gangguan keamanan terhadap desa mereka.
"Baiklah, malam ini latihan kita cukupkan sekian, kita berjumpa lagi besok pada malam Sukra" ujar kakek Sancoko menutup sesorahnya.
Demikianlah maka kelompok demi kelompok anak-anak muda itu kemudian meninggalkan halaman rumah Ki Buyut, meskipun masih ada beberapa gerombol yang masih berbincang-bincang di halaman rumah Ki Buyut itu.
Tak lama Sancoko sudah muncul dari dalam rumah membawa nampan berisi minuman hangat dan makanan kecil yang disajikan untuk kakeknya, ayahnya serta kedua anak muda yang menjadi tamu di desanya.
"Kalian kalau mau minum dan makanannya ambil sendiri di dapur" kata Sancoko kepada teman-temannya yang masih berbincang-bincang di halaman rumahnya.
"Perkenalkan Ki, saya Wirayuda dan ini Kakang Gupita, kami ini adalah pengelanana yang bermalam di banjar desa sebelum besok melanjutkan perjalanan kami menuju Lamajang" ujar Arya Wirayuda memperkenalkan diri kepada kakeknya Sancoko
Kakek Sancoko yang sebelumnya tidak terlalu memperhatikan wajah Arya Wirayuda kali ini secara seksama mengamati wajah Arya Wirayuda membuat Arya Wirayuda agak bertanya-tanya dalam hati.
"Wajahmu itu sepertinya kok tidak asing bagiku anak muda, padahal aku yakin kita sama sekali belum pernah bertemu sebelum ini, kalau boleh tau darimanakah asalmu" tanya Kakek Sancoko
"Kami berdua berasal dari lereng Gunung Pawitra Ki" jawab Arya Wirayuda
"Gunung Penanggungan, sebuah gunung yang tidak sembarang orang tinggal di lerengnya, apa hubunganmu dengan Gusti Arya Sentanu?" tanya Kakek Sancoko
Terkejut Arya Wirayuda ketika mendengar Kakek Sancoko menyebut nama kakeknya di kala muda, yang tidak setiap orang bahkan murid-muridnya di padepokan mengetahuinya.
"Aki kenal dengan kakek saya?" Arya Wirayuda balik bertanya kepada Kakek Sancoko
Demi mendengar pertanyaan dari Arya Wirayuda tiba-tiba kakek Sancoko menghaturkan sembah kepada Arya Wirayuda sambil berkata " Ampunkan hamba Raden, sejak tadi sebenarnya hamba merasa seperti melihat Gusti Arya Sentanu di kala muda, dan ternyata Raden adalah cucu dari Gusti Arya Sentanu"
"Bangunlah Ki, jangan seperti itu, apalah bedanya saya ini adalah cucu dari Arya Sentanu atau cucu dari Dadap atau Waru" ujar Arya Wirayuda
Sementara itu Ki Buyut dan yang ada di halaman rumah itu kaget demi melihat dan mendengar bahwa kakek Sancoko memanggil tamu Ki Buyut dengan sebutan Raden.
"Sebenarnya siapakah kalian berdua ini anak muda?" tanya Ki Buyut
Sebelum Arya Wirayuda menjawab, Kakek Sancoko lebih dulu yang menjawab "Anak muda ini adalah cucu dari bekas Senopati Agung di Wikwatikta, salah seorang kerabat dekat mendiang Prabu Rajasanegara, saudara seperguruan mendiang Gusti Patih Gajah Mada, tak heran dalam latih tanding tadi mereka berdua dengan mudah menang melawan jurus-jurus yang dimainkan Gumboro dan Jumono, padahal jurus yang dipakai oleh Gumboro dan Jumono bukan jurus sembarangan, kalau hanya melawan prajurit biasa saja, masuh hebat Gumboro dan Jumono" ujar Kakek Sancoko
Demi mendengar yang diucapkan oleh kakek Sancoko, serentak semua yang ada di halaman rumah itu menghaturkan sembah kepada Arya Wirayuda dan Gupita.
"Sudah-sudah, ini terlalu berlebihan, kita tidak sedang di Balai Manguntur (pendopo kraton) jadi tidak usah memakai adat yang berlebihan seperti ini, di sini saya ini cuma seorang yang menumpang menginap karena kemalaman" ujar Arya Wirayuda.

KAMU SEDANG MEMBACA
Paregreg, Senjakala Wilwatikta
Historical FictionCerita fiksi sejarah ini mengambil setting masa Wilwatikta (Majapahit) pasca Hayam Wuruk mangkat yang kemudian timbullah perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg Arya Wirayuda, seorang bangsawan muda, cucu dari bekas senopati perang Majapa...