Karina merasa diabaikan oleh pacarnya, Hesa, yang lebih memilih latihan band daripada mengantarnya pulang. Saat memesan Grab, ia bertemu dengan Jeno, seorang driver santai yang berhasil menghiburnya.
Namun, segalanya berubah saat Karina mengetahui...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dua bulan berlalu sejak malam itu, ketika Karina memutuskan untuk benar-benar memulai hidup barunya. Hari-harinya sekarang dipenuhi dengan hal-hal yang dulu jarang ia perhatikan. Ia aktif mengikuti kegiatan kampus, mencoba hobi baru seperti fotografi, dan bahkan mengambil kelas seni lukis di akhir pekan. Fokus utamanya sekarang adalah dirinya sendiri, sesuatu yang dulu sulit ia lakukan.
Hubungannya dengan Jeno berkembang dengan cara yang unik. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, tapi tanpa ada label yang menekan. Jeno tetap menjadi teman terbaiknya, seseorang yang selalu mendukungnya tanpa syarat. Ada perasaan nyaman dan aman yang Karina rasakan ketika bersamanya, namun ia juga tahu bahwa saat ini ia ingin terus memperbaiki dirinya sebelum berpikir untuk menjalin hubungan baru.
Hari itu, Karina sedang duduk di salah satu taman kampus, memotret dedaunan yang jatuh dengan kameranya. Senyum kecil terukir di wajahnya saat ia melihat hasil tangkapan lensanya. Suara langkah kaki yang mendekat membuatnya menoleh.
"Eh, serius kamu sekarang jadi anak fotografi?" tanya Winona, yang tiba-tiba muncul dengan Segan di sampingnya.
Karina tertawa kecil. "Nggak kok. Aku cuma iseng aja, Win. Tapi seru juga, ya. Kamu liat nih hasilnya."
Winona mengambil kamera dari tangan Karina dan menatap layar dengan serius. "Wah, kamu punya bakat, Rin. Harusnya kamu seriusin ini!"
Segan mengangguk setuju. "Iya, ini keren. Kalo lo pamer di Instagram, gue yakin banyak yang bakal notice."
Karina hanya tersenyum kecil, tapi kali ini senyumnya penuh rasa percaya diri. "Mungkin nanti, kalo aku udah lebih jago. Sekarang aku mau nikmatin aja proses belajarnya."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebelum mereka bisa melanjutkan percakapan, suara familiar memanggil dari kejauhan. "Karina!"
Mereka semua menoleh, dan Karina melihat Jeno berjalan ke arahnya, membawa sebuah tas besar di tangannya. Dia tampak santai seperti biasa, tapi senyumnya yang lebar membuat Karina merasa hangat. Ah iya,Jeno sudah berhenti menjadi driver grab. Sepertinya ke-gabutan-nya sudah hilang.
"Lo lagi ngapain di sini?" tanya Jeno sambil duduk di sebelahnya.
"Iseng motret. Lo sendiri ngapain bawa tas gede gitu?"
Jeno membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa kotak makanan. "Gue baru balik dari tempat makan favorit gue. Gue pikir lo belum makan siang, jadi gue bawain makanan."
Winona menyikut lengan Karina dengan senyum jahil. "Wih, perhatian banget nih, Rin!"
Karina memutar matanya, tapi pipinya memerah. "Makasih, Jen. Lo nggak perlu repot-repot, sebenernya."
Jeno mengangkat bahunya santai. "Bukan repot. Gue cuma pengen lo makan makanan enak."
Winona dan Segan pamit pergi tak lama kemudian, meninggalkan Karina dan Jeno berduaan. Mereka duduk di bangku taman, berbagi makanan sambil mengobrol tentang hal-hal kecil.
"Gue seneng, akhir-akhir ini lo lebih menikmati hidup ," kata Jeno sambil menatap Karina.
Karina menoleh padanya dan tersenyum. "Mungkin karena gue udah berhenti ngejar hal yang salah. Gue belajar buat lebih sayang sama diri gue sendiri."
Jeno mengangguk pelan, matanya menunjukkan kebanggaan yang tulus. "Gue bangga sama lo, Rin. Lo udah jauh lebih kuat dari yang lo pikirin."
Karina terdiam sejenak, menikmati momen itu. Dalam hatinya, ia tahu bahwa Jeno adalah bagian penting dari perjalanannya untuk bangkit. Tapi yang paling penting, ia tahu bahwa dirinya sendiri yang telah memutuskan untuk berubah.
Langit sore itu mulai berubah jingga, mengingatkan Karina pada malam di taman dua bulan lalu. Namun, kali ini, ia merasa jauh lebih ringan, lebih percaya diri, dan lebih siap menghadapi apa pun yang akan datang.
Dan meskipun masa depannya bersama Jeno masih menjadi misteri, Karina tahu satu hal dengan pasti: ia akhirnya menemukan kebahagiaan dalam dirinya sendiri.