6. Sampai Pada Waktunya

649 73 7
                                    

Setelah tiga hari tanpa kehadiran Aya, pada akhirnya gadis tengil satu itu kembali bersama cerianya. Dara dan Aya janjian agar datang satu jam lebih awal sebelum kelas di adakan, lantaran Aya ingin mengobrol lama dengan Dara. Memilih kafe Senandika dekat kampus, keduanya telah duduk di meja dekat jendela. Seperti biasa.

Baguslah jika Aya datang secepat ini, dengan begitu setidaknya mampu meminimalisir kemunculan manusia aneh bernama Sena. Sadar atas nama siapa yang baru saja di sebut, Dara segera menggeleng kuat. Pikiran aneh, enyahlah!

"Kamu nggak bosan, Ra?"

Dara mendongak, lalu menatap Aya dengan heran, "bosan kenapa?"

Sejenak, Aya menyesap kopi yang baru saja di tiupnya sebelum berkata, "ya bosan, hidupmu tidak ada yang berubah. Semua masih tetap dan biasa saja, kalau bukan kuliah, menulis, ya di rumah. Standar manusia tidak memiliki angan yang di tuntut agar jadi kenyataan."

Dara terdiam sebentar, lalu tersenyum tipis.

"Aku bilang seperti ini bukan bermaksud mengkritik kamu, tapi agar supaya kamu itu bisa jadi selayaknya manusia yang hidup di bumi. Kamu nggak marah, kan?"

"Sama sekali tidak," balas Dara, "lagi pula apa yang di katakan kamu itu benar adanya. Hidupku biasa saja, dan aku juga merasa bosan jika terus berada di dalamnya."

"Lalu, kenapa kamu masih bertahan walau sudah jelas kamu bosan?" Aya menuntut jawab dengan alis menukik.

"Karena aku lebih suka duniaku, Ay. Aku memiliki apa yang mungkin tidak di miliki oleh mereka."

"Contohnya?"

"Sepi," binar mata Dara meredup, "aku tidak ingin berbagi dan lebih suka merasakannya sendiri."

"Kenapa? kenapa begitu?" Aya bertanya menggebu, yang lagi-lagi di balas dengan senyum sedikit pilu.

"Nanti, kalau mereka tau duniaku yang sebenarnya, mereka juga akan merasa bosan, dan aku tidak suka mengecewakan."

"Sekalipun denganku?"

"Sekalipun," tutur Dara, "karena aku yakin bahwa Aya, temanku yang biasa terjaga di tengah euforia tidak akan mampu bertahan lama di dalam duniaku yang biasa saja."

Yang Dara lihat, Aya mengerucutkan bibir tanda kesal, "begitu susahnya bicara dengan penulis. Bahasanya susah di mengerti."

"Aku bukan penulis, Ay." Dara menyela dengan tertawa, "tapi sedang berusaha jadi penulis,"

Aya mengibaskan tangan, "terserah,"

"Nenek kamu bagaimana? sudah sehat?" tanya Dara.

"Ya begitu, Ra. Di bilang sehat iya, tapi masih sakit saja. Penyakit tua."

"Nanti kalau kita mulai menua, seperti apa ya rasanya?," membayangkan seperti apa rasanya menua di kelilingi kehangatan keluarga, Dara ingin mengukir senyum, namun sayangnya urung, lantaran satu pertanyaan tiba-tiba terlintas begitu saja, apakah masih layak di sebut keluarga jika perpisahan telah memecah segalanya?

"Ih, jangan dulu deh, Ra. Aku masih ingin menikmati masa muda," kata Aya.

Dara hanya bisa geleng kepala.

"Oh iya, Ra. Nanti malam aku di undang party sama kak Danar, yang cakep itu loh, anak kedokteran semester 6."

"Kamu saja yang pergi, aku enggak," tolak Dara final, karena hafal betul maksud dari kalimat Aya mengatakan ini semua.

"Ayo lah, Ra. Tadinya kak Danar juga ingin undang kamu, tapi takut kamu tolak katanya."

"Sudah tau ujungnya di tolak, kenapa kamu masih ajak?"

Dari Semesta untuk Dara [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang