Hari ini, tanggal 1 juni, jam 3.30, mata Tamara masih setia terbuka, membaca novel Agatha Christie tanpa gangguan siapapun, karena ia sudah berbohong terlebih dahulu. Izin tidur ke semua penghuni asrama lelaki ponselnya, dan tidak aktif di sosial media manapun sejak jam 9 tadi memang menjadi andalannya sejak dulu, pembohong handal. Prinsipnya, kebohongan tidak akan menjadi kebohongan jika tidak ada yang tau kebenarannya.
Handphonenya bergetar, dari nomor tidak dikenal. Tamara yang merasa terganggu langsung mengangkat panggilan itu agar urusannya cepat selesai.
Oh shit! Gue kan harusnya udah tidur?! Ini siapa coba?! Tamara berpikir cepat.
".. Halo?"
"Mulai sekarang."
"Doyoung? Doyoung ya?"
"Gue tunggu di lobby."
"Hah? Halo? Doy-Ah apa coba!"
Tamara dengan cepat mengambil croptop putih dan high waisted shorts yang tergantung di pintu kamar, memakai parfum dan turun kebawah. Iya, baju itu belum dicuci. Yang penting cepat 'kan?
Pintu lift terbuka di lantai 1, menampakan diri Doyoung yang sedang menunggu Tamara. Belum sempat Tamara menyapa, Doyoung sudah menariknya kembali kedalam lift.
"Apart lo lantai berapa?"
"Mau pacaran di apart gue?"
"Mau nyuruh lo ganti baju."
"Lo jadi pacar gue bukan berarti lo berhak ngatur baju gue, Doy." Tamara menekan tombol lift untuk menuju ke lantai 5.
"Kalau lo sakit berarti gue pacar yang?"
"Emm.. yang bukan dokter? Apaansih. Mana gue tau, anjir."
"Biarin gue jadi pacar yang baik selama 24 jam dong, Tam." Tamara mempersilahkan Doyoung masuk dan mencari baju di lemarinya karena pasrah dengan titel 'pacar' yang dibawa Doyoung.
"Kenapa baju lo crop dan fit body semua sih?"
"Emang kenapasih?"
"Baju lo nggak ada yang loose?"
"Lo pacar gue atau emak gue?
"Tam--"
"Kim Doy--"
"Tamara."
"iya."
Doyoung memberi baju tersopan dari semua baju Tamara, dan boyfriendjeans. "Ganti."
Mata Tamara dan Doyoung bertemu, keduanya berbicara kepada satu sama lain dengan isyarat mata namun tampaknya tidak ada koneksi diantaranya. Doyoung bingung kenapa Tamara tak kunjung mengganti bajunya, sementara Tamara bingung kenapa Doyoung tidak keluar dan membiarkan tamara mengganti baju.
Setelah lelah kontak mata dengan Doyoung, Tamara memutuskan untuk sedikit iseng menggoda Doyoung.
Ia membuat gestur seakan akan melepas bajunya di depan doyoung, bahkan bajunya sudah terangkat dan menunjukan perut putih tamara.
"Lagian lo nggak keluar-keluar Doy." Tamara tertawa, membuat Doyoung berpikir, kenapa gue nggak keluar ya?
Tapi bukan Doyoung namanya kalau tidak membalas argumen, Doyoung tidak kalah semudah itu.
"Kalo gue apa-apain lo, gimana?" ucapnya dengan nada menantang.
Tamara tersenyum miring. "Then let's see what you got." Tamara melanjutkan dalam hati, lagiangue yakin lo nggak berani ngapa-ngapain gue.
Tentu ia sudah memikirkan resiko perkataannya, coba kalau yang dihadapannya sekarang adalah Jaehyun atau Taeyong? Cari mati namanya.
Tamara berjalan mendekat membuat mata Doyoung membulat sempurna seiring dengan badannya yang mundur. "Tam..," nada memohon terdengar dari suara Doyoung yang sudah membuang muka.
"Sana keluar." ucap Tamara.
"H-hah?" Tamara merespon dengan menaikan dagu Doyoung menggunakan telunjuknya. "Lo mau liat gue ganti baju beneran?"
Doyoung berjalan cepat keluar, memijat keningnya dengan keadaan pipi memerah karena malu, kalah telak oleh pacarnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.