10. Sang Prajurit, Sena

513 57 9
                                    

Dentuman musik cadas adalah hal pertama yang menyambut langkah berbalut sepatu datar merah tua milik Dara, tubuhnya yang dibalut gaun hitam elegan dengan bagian atas tertutup, datang bersama Aya yang memakai baju tanpa lengan dengan rok selutut.

Aya mencermati wajah Dara, dari cara pandangnya saja Aya sudah tahu bahwa Dara tidak nyaman berada di sini. Maka dari itu digenggamnya tangan Dara seraya berkata, "udah tenang aja, ada aku." sedikit memekik menembus nyaringnya musik.

Mereka berjalan menuju halaman belakang pusat di mana pesta diadakan. Dara hanya cukup berjalan dan diam saat Aya melempar senyum kepada banyak lelaki yang menyapanya. Hingga keduanya tiba dan segera disapa, "akhirnya datang juga."

"Kak Danar, HAPPY BIRTHDAY." Aya berseru heboh, dan segera dibalas ucapan terimakasih oleh Danar.

Lelaki dengan setelan jas hitam pekat nampak begitu maskulin. Dara merutuk dalam hati lantaran warna baju keduanya cukup serasi. Dara menyalahkan takdir malam ini, karena dia tidak percaya kebetulan.

"Makasih sudah datang," ucap Danar manis.

Dara tersenyum, "sama-sama, kak." Lalu menyodorkan kotak kecil berwarna biru gelap kepada Danar, yang diterima dengan senang hati. "Selamat ulang tahun."

"Sekali lagi, terimakasih."

"Sama-sama." Selebihnya, keadaan menjadi agak canggung. Dara menatap punggung Aya yang kian menjauh, sepertinya sibuk menyapa beberapa teman yang lain.

Baru saja hendak menghampiri Aya, Danar lebih dulu menggenggam tangannya dan membawa pergi dari sana. Ke tempat yang lebih senyap, yakni di pekarangan depan.

Dara masih menatap genggaman tangan yang belum terlepas, maka dari itu dia harus melepaskannya lebih dulu.

"Eh, maaf-maaf," sesal Danar, menyadari bahwa tindakannya telah membuat Dara tidak nyaman.

"Acaranya nggak dimulai, kak?" tanya Dara.

"Sebentar lagi, karena aku masih ingin bicara dengan kamu. Lagi pula mereka menikmati musiknya."

"Kakak ingin bicarakan apa?"

Danar tersenyum begitu manis dengan tatapan dalam. Sedang Dara hanya mengamati bunga mawar berwarna merah menyala yang ditanam di sini, enggan menatap wajah tampan yang membosankan.

"Terserah, asal semua yang berkaitan dengan kamu," jawab Danar. "Kata Aya, kamu pendiam ya?"

"Kenapa musiknya terlalu keras? Memang nggak apa sama orang tua kakak?" tanya Dara tiba-tiba.

"Keluargaku lagi di apartemen. Pagi tadi pestaku bersama keluarga, kalau malam ini pesta khusus teman-temanku. Memangnya kenapa? Kamu nggak suka musiknya terlalu keras?"

Pantas saja pestanya dibuat semirip diskotek, diberi kebebasan ternyata, pikir Dara. "Bukan tidak suka, hanya tidak terbiasa saja."

"Kalau kamu mau, aku bisa kecilkan volumenya," tawar Danar, berusaha membuat gadis itu senyaman mungkin berada di sini.

Dara menggeleng lalu menolak, "nggak perlu, kak. Aku nggak apa, kok."

Hari ini, dilihat dari bagaimana tema yang Danar pilih untuk pesta ulang tahunnya, Dara beranggapan bahwa Danar lebih cocok bersama Aya. Karena keduanya sama-sama suka keramaian dan euforia. Entah mengapa Danar bisa jatuh cinta padanya, apa sesuatu yang ada pada diri Dara sampai mampu membuat Danar terkesima.

"Aku kenal Aya di salah satu organisasi kampus." Sepertinya Danar ingin bercerita saat mendapati Dara hanya diam saja, "kebetulan waktu itu, aku lagi butuh seseorang untuk ganti posisi anggota yang keluar. Yang aku lihat, Aya punya satu teman yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, yaitu kamu."

Dari Semesta untuk Dara [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang