Chapter 10

734 41 1
                                    

Jangan lupa vote dan komen yaa

~•~

Tiga gadis itu tampak tidak selera lagi untuk makan di kantin, tempat cengunguk itu berada. Kini mereka melewati jalan yang sama ketika mereka datang. Putri menyenggol lengan Seli sambil mengangkat-ngangkat alisnya.

"Widiih, yoi gitu dong temen gue, berani lawan!" pungkasnya sambil mengepalkan tangan ke atas.

Seli melirik dan mengangkat alisnya. "Iya dong! Siapa dulu gurunya, haha," balasnya tanpa menoleh.

Jujur walau terasa sudah lega, tetap saja perkataan Tio tadi membuatnya sakit hati. Apa seburuk itu wajahnya sampai terang-terangan cowok itu bilang dia jelek?

"Iya Sel, mending kayak gue. Cukup liat video youtubenya oppa-oppa korea, semua sudah beres tanpa beban~," tuturnya sambil mengangkat tangannya 'lega'.

Seli menempeleng pelan kepala gadis itu. "Yeu dasar halu," balasnya.

"Mwehehe biarin."

Putri melirik wajah kawannya itu yang tampak tidak berkonsentasi. Dia sangat paham, Seli pasti sangat hancur karena perkataan Tio tadi. Dasar cowok bejat!

Di tengah santainya mereka berjalan, tiba-tiba ada cowok yang menghadangnya. Mata Putri melotot kaget sampai badannya mundur sedikit. Begitupun juga kedua temannya yang ikut berhenti.

Cowok itu adalah Angga. Dia nekat menghadang cewek belut ini yang selalu saja kabur jika bertemu dirinya. Angga membuka tangannya sampai hanya ada celah sempit di sisi koridor, walau sisinya lapangan basket tapi tetap saja tertutup jaring. Masih dengan seragam basketnya, membuat Putri teringat bagaimana bau ketek cowok ini.

"Ngapain sih lo?!" pekik Putri masih setengah syok.

"Lo-nya tadi malah pergi pas ada gue," tutur Angga lalu menurunkan kedua tangannya.

"Siapa yang pergi, lo-nya aja yang nongol terus akhir-akhir ini," pungkas gadis itu tak mau salah.

Angga menghela napas. "Iya iya udah terserah lo," kata cowok itu mengalah. "gue pengen ngomong."

Putri melirik ke kedua sahabatnya. Seli dan Mira hanya mengangkat bahu tidak tahu.

"Em yaudah lo berdua duluan aja," tuturnya.

Tanpa menjawab, kedua sahabatnya itu jalan mendahuluinya. Hanya tinggal Angga dan Putri di sana. Semua orang di kantin atau mungkin juga di kelas, membuat tempat itu kini sepi hanya tersisa lapangan kosong.

Putri mendelik kesal pada Angga yang selalu saja muncul belakangan ini.

"Mau ngomong apaan sih?" tanyanya judes.

"Duduk dulu kek, judes amat." Angga berjalan ke pinggir lapangan yang terdapat kursi panjang di sana.

Mau tak mau Putri mengikutinya supaya urusan ini cepat selesai. Dia cepat-cepat langsung duduk di kursi itu mendahului Angga. Cowok itu menyengir melihat tingkah gadis itu, lalu dia pun ikut duduk di sampingnya, jujur dia jadi penasaran dengan cewek ini.

"Ngomong apa?"

Angga merogoh kantong almamater yang sedari tadi ditentengnya. Lalu tampaknya gelang merah tua di tangannya.

Mata Putri berbinar sekaligus kaget saat tahu ternyata gelangnya ada di cowok, yang entah siapa namanya ini.

"Nih, gelang lo kan?" kata Angga sambil menyodorkan gelang itu di tangan kekarnya.

Putri mengambil gelang itu. Jujur senang sekali menemukannya lagi, tapi...

"Kok ada di lo?" tanyanya menyernyit, sekejap dia menutup mulutnya tidak percaya. "iih lo nyuri ya?!"

Angga gelagapan dan menggeleng-geleng cepat. "E-eh enggak enggak," tuturnya dengan nada meyakinkan.

"Gue nemu nih gelang pas lo ngatain gue bau ketek," imbuhnya lagi.

Putri tertawa kekeh sekejap lalu menahan mulutnya agar tidak tertawa lagi. Dia tetap menutup mulutnya dengan tangan yang mengepal gelang itu.

Angga merengut. Dia melihat cewek itu menahan tawa karena dirinya. Kata orang cewek ini jutek abis, tapi ternyata tidak sejutek itu.

Cowok itu ikut terkekeh. "Lo ketawa?"

Putri menurunkan tangannya dan menampakan senyumnya. "Abisnya lo tadi ngaku kalo lo bau ketek, akhirnya sadar."

Angga menegakan tubuhnya dan menyengir tidak terima. "Eh enggak ya, gue tadi cuma biar lo inget," elaknya lalu tertawa.

Putri menatapnya tidak percaya, masih dengan sisa lengkung di sisi bibirnya lalu tak lama dia bangkit. Angga agak terkejut dan ikut berdiri.

"Makasih ya," ucapnya sebelum akhirnya melenggang pergi.

"E-eh kok main pergi aja," protesnya sambil melihat punggung gadis itu. "iya, sama-sama."
.

.

Tanpa sadar dari kejauhan dua orang entah siapa memotret mereka berdua. Saat beberapa pose tertangkap, dia terkikik girang. "Haha, bakal viral nih."






















MATSA

To be continue

MATSA [ Tamat ] 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang