15. Secangkir Kopi dan Kata Pasti

459 46 6
                                    

"Coba beri alasan kenapa aku harus percaya, setelah semua yang kamu lakukan mampu memberiku cukup luka."

Helaan napas lelaki itu terdengar pelan, Rama tahu bahwa Dara tidak sebodoh dulu, ia juga tahu bahwa hati gadis itu telah tertutup luka yang pernah diberikan olehnya. Tapi Rama juga tahu, bahwa Dara masih memiliki rasa untuknya. Jadi kini tugas Rama hanya satu, mengambil kepercayaan Dara walau belum yakin sepenuhnya.

"Aku sudah nggak ada hubungan apa-apa sama Vira—"

"Tapi kamu—"

"Dengar dulu, Damara," Rama balas menyela. "Aku sama Vira putus satu bulan setelah hari kelulusan." Dara bersedekap dada, maniknya terus memandang jalan raya seolah enggan mendengar kalimat Rama. Meski begitu Rama akan terus bercerita selama Dara tidak menutup telinga.

"Jujur, aku pernah merasa nyaman dengan Vira saat kami sering menghabiskan waktu berdua, menunggu dan pulang naik angkutan umum sama-sama. Tapi hanya sebatas itu saja, Ra. Karena akhirnya aku sadar bahwa aku hanya merasa nyaman, bukan sayang."

"Aku nggak minta kamu beri penjelasan."

"Tapi aku harus menjelaskan," Rama meraih pipi Dara agar mau menatapnya. "Karena sampai kapanpun, rasa sayangku hanya untuk kamu, Damara Adara."

"Dulu kamu juga bilang begitu, tapi akhirnya pergi meninggalkan pilu."

"Dara, aku menyesal, dan aku tidak bohong," ungkap Rama bersesal hati, ia menangkup kedua pipi Dara sebelum berkata, "coba tatap mataku, lalu cari segala pura-pura di sana."

Dara menatap manik Rama, menuruti apa yang lelaki itu minta. Dan setelah begitu lama, Dara juga berpikir bahwa tidak ada yang pura-pura dalam manik Rama.

"Aku bukan kamu yang mampu membaca perasaan seseorang lewat mata, tapi aku sangat yakin bahwa di matamu tidak ada yang namanya pura-pura, karena kamu mengungkap penyesalan lewat mulut, bukan mata."

Baru saja hendak tersenyum, Rama kembali dibuat bungkam.

"Tapi aku cukup terkesan dengan ungkapan penyesalan. Terkadang, manusia harus dibuat kehilangan agar tidak malas mencari sesuatu yang memang benar dibutuhkan."

"Aku menyia-nyiakan mu, lalu tak lama aku merasa kehilangan. Setelah lama mencari akhirnya mampu kutemukan, dan aku ungkapkan rasa penyesalan. Apa semua belum cukup, Dara?"

Mendengar itu, Dara tertawa hambar. "Kalau memang belum, bagaimana?"

Rama menunduk, mengacak frustrasi rambutnya yang semula rapi. Tidak menyangka bahwa membujuk Dara ternyata sesulit ini.

Gadis itu bangkit dari duduknya, lalu memegang pundak Rama. "Kalau kamu tau, sampai saat ini aku masih menyukaimu. Dan harapanku semoga kamu juga tau, luka yang aku terima sempat berkata bahwa ini bukan saatnya untuk percaya sama kamu, Rama."

***

Beberapa hari belakangan kondisi bunda semakin menurun drastis, kini beliau lebih sering terbaring di atas kasur daripada melakukan aktifitas seperti biasanya.

Jika dibilang khawatir, tentu Dara teramat khawatir. Bahkan dia rela mengalah dari egonya dan membiarkan ayah datang setiap hari guna menyuapi bunda, karena Dara tahu bahwa kebahagiaan bunda hanya satu, yaitu ayah.

Tubuh ringkih itu kini tengah terbaring dengan urutan napas teratur. Dan saat Dara berjalan mendekat, kelopak mata bunda terbuka mengerjap.

"Bunda bangun?" tanya Dara.

"Kamu dari mana saja, nak?" Beliau merubah posisi menjadi duduk.

Bingung mencari alasan, Dara justru membalikkan pertanyaan. "Bunda sudah makan?"

Dari Semesta untuk Dara [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang