Seorang perempuan berkulit sawo matang dengan tinggi sekitar 153 cm. Memakai celana jeans dan kaos biru muda bertuliskan "I am here" melangkah ke arah tangga dengan langkah malas sambil membawa sebuah kantung belanjaan di tangan kirinya. Rambut bob sebahunya yang lurus sedikit bergoyang, saat dia naik ke atas tangga. Perempuan tersebut tidak melihat diriku yang sedang menuruni tangga, karena dia terlalu fokus melihat ke arah anak tangga dengan kepala menunduk. Dia langsung terkejut dan hampir terjatuh saat melihat aku yang sudah berada di depannya. Untung dengan sigap kuemeluk pinggang perempuan tersebut dengan tangan kananku sementara tangan kiriku memegang erat pegangan tangan di tangga.
Satu detik berlalu, dua detik berlalu dan sepuluh detik berlalu, perempuan tersebut baru sadar bahwa yang memeluknya adalah diriku, berjenis kelamin laki-laki dan langsung teriak keras.
Aku? Tentu saja kaget lah, mendapati perempuan yang kamu tolong berteriak keras begitu, walau sebetulnya, ini bukan pertama kalinya bagiku. Tapi tetap saja, kaget. Sudah begitu, dia menampar pipiku. Dia menampar pipiku dengan sangat keras dan dua kali. Dua kali sodara-sodara! Apakah hanya sampai di situ saja? Tentu saja tidak. Lalu dia teriak, "Lepaskan! Lepaskan!" sambil meronta.
"Tu—tunggu, nanti jatuh," kataku yang masih memeluk erat pinggang perempuan tersebut. Jujur saja aku ingin melepaskan perempuan itu. Tapi aku tidak tega melihatnya jatuh. Selain itu, tamparannya tidak sekeras dihajar Kak Ade.
"Tolong! Tolong!" seru perempuan itu kemudian.
"Akan kulepaskan, tapi berdirimu yang benar. Nanti bisa jatuh," kataku, berusaha berkata dengan suara yang tidak kalah kerasnya dari perempuan tersebut, agar perempuan tersebut mendengarku.
Dan berhasil. Perempuan tersebut mendengar perkataanku dan dia membetulkan berdirinya dengan benar. Perlahan, kulepas pelukanku di pinggang perempuan tersebut, seraya berkata, "Maaf."
"Siapa kamu!" seru perempuan tersebut dengan wajah galak, menyembunyikan perasaan malunya karena telah dipeluk oleh seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.
"Pencuri ya?!" serunya lagi.
"Bukan. Aku penjaga baru kos ini," jawabku datar.
"Masih berani bohong lagi! Kamu pasti pencuri! Ayo ngaku!" perintah perempuan itu.
"Aku bukan—"
Belum sempat aku membalas perkataan perempuan itu, aku merasa ada yang memegang pundakku dari belakang dengan hawa ingin membunuh.
"Hooo, berani sekali mencuri di kos ini," kata seorang perempuan yang memegang pundakku.
"A—aku bukan pencuri. Namaku Afiq, adiknya kak Ade. Aku penjaga baru kos ini," jawabku sambil membalikkan tubuhku ke arah belakang.
Sebuah kepalan tinju melesat cepat dan langsung mengenai perutku. Hampir saja aku terjatuh ke belakang, kalua saja tangan kananku tidak segera memegang erat pegangan tangga.
"Sudah ketahuan, masih berani mengelak, rupanya," kata perempuan yang memberi pukulan ke perutku.
"Loh, Afiq, rupanya," kata perempuan tersebut yang tidak lain ternyata Ira.
"Ha—lo, kak..." jawabku, berusaha menahan rasa sakit di perutnya. Untung, aku sudah terbiasa menerima pukulan dari Ade, sehingga aku tidak langsung pingsan waktu menerima pukulan Ira yang ternyata sama kuatnya dengan pukulan Ade.
"Kak Ira kenal?" tanya perempuan berambut bob itu.
Ira mengangguk, "Dia adiknya kak Ade. Penjaga kos baru di sini. Kemarin baru sampai, sih."
Ira mendecakkan lidah kemudian berkata, "Kukira ada pencuri beneran, ternyata bukan. Padahal sudah semangat aku tadi."
Oioioi, maksudnya apa coba itu, batinku.
"Maaf deh, sudah mengecewakan Kak Ira," kataku tanpa ada nada rasa bersalah sama sekali.
"Oh iya, namanya Marisa. Dia adik kelasku sejak SMA," kata Ira seraya memperkenalkan perempuan yang suka teriak itu kepadaku. "Kalau cowok ini, namanya Afiq. Dia juga penjaga kos sini," lanjutnya.
Aku mencoba tersenyum ke arahnya dan langsung mendapat tatapan jijik dari Marisa. Tatapan yang sudah lama tidak kudapatkan sejak tinggal di kos ini.
"Aku mau ke kamarku dulu, kak," kata Marisa yang masih memandangku jijik seolah-olah aku itu kotoran yang harus dilenyapkan selamanya.
"Oke," jawab Ira.
Marisa melanjutkan kembali langkahnya menuju ke kamarnya sementara punggungku tiba-tiba dipukul Ira dengan sangat keras.
"Tidak usah diambil hati untuk yang tadi, ya!" katanya dengan nada ceria seraya menyengir lebar.
Aku tentu saja langsung memegang punggungku yang sakit luar biasa, karena baru saja dipukul dengan sangat keras.
"Aku mau kembali ke kamar dulu," kata Ira, mulai melangkah pergi meninggalkanku.
"Oh iya, lupa. Mau ikut?" tanyanya dengan wajah polos.
Oi, oi, aku itu cowok. Yakin mau berduaan dalam kamar dengan cowok? Walau aku yakin, cowoknya yang bakal babak belur, kalua berani main-main sama dia sih, batinku.
"Masih banyak yang harus kulakukan," tolakku halus.
"Oke deh," balas Ira santai dan langsung melangkah pergi begitu saja.
Aku hanya bisa menghela napas panjang.
"Hari ini, rasanya capek sekali," kataku lirih.
————————————————————————————

KAMU SEDANG MEMBACA
Kehidupan Sehari-hari Adik Laki-laki
HumorKehidupan sehari-hari Afiq dengan kakaknya Ade yang memiliki ukuran tubuh serta penampilan seperti anak SD umur sepuluh tahun. Mungkin kalian akan menemukan beberapa typo atau kesalahan. Tolong tunjukkan saja, biar saya bisa betulkan~ Jangan lupa be...