Suasana malam itu memang menjadi terasa mencekam di kabuyutan Gluntung, karena tiba-tiba di desa itu kedatangan para perampok yang sekian lama hanya terdengar kabar beritanya saja, namun malam itu ternyata giliran desa mereka yang harus berurusan dengan para perampok itu. Di sisi lain, karena tidak adanya kentongan yang dibunyikan oleh para peronda, maka penduduk yang telah tidur sejak hari berganti malam masih terbuai dalam alunan mimpi mereka.
Dengan perasaan gembira para perampok yang telah selesai menjarah beberapa rumah di pojok desa itu segera bergegas meninggalkan korban-korban mereka yang masih ketakutan dengan kejadian yang tak pernah mereka sangka-sangka itu, dan mereka sama sekali juga tidak bisa berkutik ketika puluhan anggota perampok kemudian menjarah harta benda yang mereka miliki baik perhiasan maupun hasil panen yang mereka simpan di lumbung sebagai persediaan hidup mereka.
Tawa kegembiraan yang silih berganti terdengar dari para perampok yang telah meninggalkan desa dan menyusuri bulak desa yang menghubungkan kabuyutan Gluntung dengan wilayah lain yang terbentang di luar desa.
Namun setelah cukup jauh mereka meninggalkan desa dan tiba di tengah bulak para perampok itu dikagetkan dengan adanya puluhan obor menyala yang digenggam puluhan orang yang terlihat menunggu kedatangan mereka. Maka langkah kaki para perampok tampak dipercepat guna mengatahui siapa gerangan yang sengaja menghadang mereka di tengah bulak itu."Siapa kalian, berani menghalangi jalan kami, kalian belum kenal kami, perampok dari Hutan Dodogan yang bahkan para prajurit Wilwatikta saja terkencing-kencing begitu mendengar bama kami disebut" ujar pimpinan perampok berteriak kepada Sancoko dan rombongannya yang telah bersiap dengan senjata di tangan menghadang para perampok itu.
"Kami tidak peduli kalian perampok dari mana, dari Hutan Dodogan, dari Hutan Kedawung atau dari neraka sekalipun kami tidak peduli, yang jelas kalian harus mengembalikan harta yang kalian jarah milik warga Gluntung dan tangan kalian akan kami ikat kemudian kami bawa ke Wilwatikta untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian" ujar Arya Wiguna dengan tenang dan jelas menjawab teriakan pimpinan peramppok.
"Gila, kesurupan setan darimana kamu hingga berani menantang Jaran Legong, perampok yang paling ditakuti di seantero Wilwatikta, Jenggala sampai Daha" teriak pimpinan perampok yang ternyata bernama Jaran Legong
"Tidak usah berteriak-teriak, cepatlah menyerah agar kami tidak harus menjewer kuoing kalian" jawan Arya Wirayuda memanas-manasi para perampok
"Edan, Kebo Tamping ayo kita habisi cindil-cindil tidak tahu diri ini" teriak Jaran Legong
maka demikian lah para perampok segera berteriak sambil menarik senjata mereka dari sarungnya dan segera menyerbu para pemuda kabuyutan Gluntung yang segera menyesuaikan berkelompok-kelompok untuk menghadapi para perampok itu.
"kakang Gupita, hadapilah Kebo bau itu, biar Jaran pincang itu urusanku" kata Arya Wirayuda sengaja mengejek kedua pimpinan perampok itu dengan harapan mereka akan semakin emosi sehingga tidak lagi jernih dalam berfikir.
"Kurang ajar, cindil jelek, aku bunuh dan akan aku seret mayatmu ke rumahmu agar orangtuamu menagis merauang-raung melihat anaknya terbunuh karena pokalnya sendiri" teriak Jaran Legong sambil melompat menerjang Arya Wirayuda.
Sementara Kebo Tamping juga seegera menerjang ke arah Gupita yang telah mempersiapkan diri menghadapi osalah satu perampok itu.
"Kawan-kawan, ingat jangan keras-keras menjewer jangan sampai mereka menangis karena telinganya kita jewer terlalu keras" teriak Arya Wirayuda menyemangati Sancoko dan kawan-kawannya namun juga mengejek para perampok agar para perampok semakin panas hatinya dan awur-awuran dalam bertempur.
Dan benar saja para perampok yang sudah panas hatinya itu semakin ngawur dalam bertempur, namun mereka juga heran karena baru pertama kali itu mereka merasa tidak mudah mengalahkan orang-orang desa yang mereka rampok.
"Gila, setan alas mana yang manjing di diri kalian" teriak Jaran Legong yang tidak menyangka bahwa tidak satu pukulan dan tendangan yang dia lakukan bisa bersarang di tubuh lawannya, saat dia melirik Kebo tamping, dia pun melihat bahwa Kebo Tamping menjadi bahan mainan dari anak muda lawannya.
"Tidak usah teriak-teriak jaran pincang, menyerahlah agar tidak perlu kugebuk tubuhmua dengan sapu" kata Arya Wirayuda sambil tertawa mengejek.
"Setan alas, kamu memang tidak bisa diberi hati, jangan salahkan jika pedangku ini akan segera menyayat nyayat tubuhmua" ujar Jaran Legong yang tampak etlah menggenggam pedangnya dan mencoba merangsek ke arah Arya Wirayuda.
Arya Wirayuda kemudian tampak mengeluarkan cambuknya untuk menghadapi pedang Jaran Legong

KAMU SEDANG MEMBACA
Paregreg, Senjakala Wilwatikta
Fiction HistoriqueCerita fiksi sejarah ini mengambil setting masa Wilwatikta (Majapahit) pasca Hayam Wuruk mangkat yang kemudian timbullah perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg Arya Wirayuda, seorang bangsawan muda, cucu dari bekas senopati perang Majapa...