Dara mengerjap sesaat, rasa kantuknya selama duduk di mobil selama kurang lebih empat puluh lima menit mendadak hilang kala hamparan ombak berdebur dengan manisnya. Gadis itu melepas alas kaki sebelum berlari, meninggalkan Sena yang diam-diam terkekeh kecil.
Kalau hanya dengan melihat deburan ombak kamu akan bahagia, maka saya rela menjadi laut untuk bisa melihat kamu tetap tertawa, pikir Sena sembari menyusul Dara.
"Kamu langsung tersenyum, sepertinya kamu senang."
Dara membasuh tangan dengan air ombak yang menghampirinya, lalu tersenyum ke arah Sena. "Pantai Papuma punya kenangan sewaktu aku kecil. Bunda, ayah, aku, kita selalu ke sini setiap libur kenaikan kelas. Tidak melakukan apa-apa, cukup duduk bertiga menunggu senja, kita sudah bahagia."
Sena tersenyum melihat rasa antusias Dara ketika bercerita. Dan saya beruntung, karena kali ini saya menjadi manusia yang akan menemanimu melihat senja di pantai Papuma. Terima kasih, Ra, karena kamu mengizinkan kita untuk melihat senja bersama.
"Sena." Dara yang entah kapan telah duduk di atas batu besar melambaikan tangannya, "sini."
Keduanya duduk bersisian. Dengan sabar menunggu matahari dengan warna jingga saat tenggelam.
"Sena?"
"Hm?"
"Terima kasih," ungkap Dara tersenyum manis.
Melihat itu Sena terdiam sebentar, mencoba memastikan bahwa Dara benar-benar tersenyum untuknya. Senyum yang sangat tulus, hingga membuat Sena tak kuasa berpaling muka.
Dara mengernyit, lalu bertanya, "kenapa?"
"Senyum kamu terlalu manis, saya masih belum terbiasa," ungkap Sena jujur.
Mendengar kalimat polos yang Sena utarakan, Dara tertawa. "Intinya terima kasih karena sudah ajak aku ke sini."
"Ini hanya hal sederhana, bukan apa-apa." Sena menunduk, memainkan pasir dengan jari kakinya.
"Aku senang, aku tertawa, aku bahagia. Ini semua berkat kamu, utusan semesta." Dara berkata tiba-tiba bersama kepala yang menyembul di hadapan Sena.
Sena terlonjak pelan, lalu menyentil dahi Dara. "Kamu tau? Saya baru saja terkejut."
"Saat kamu bicara dengan seseorang, jangan menunduk, tapi tatap matanya."
Oh... jadi saya tidak boleh menunduk saat bicara dengan kamu? Sena menatap lekat manik gadis di sampingnya, membuat Dara sedikit salah tingkah sebelum berpaling wajah.
"Giliran saya tatap, kenapa kamu malu?"
"Eng-enggak, aku nggak malu, kok." Dara berkilah, kakinya bergerak menendang pelan pasir pantai.
Sena tertawa, lalu menunjuk pemandangan di hadapannya. "Lihat Ra? bukannya kaki langit di ujung sana sangat indah?"
"Kaki langit?" Dara bertanya dengan air muka bingung.
"Adalah batas pemandangan secara horizontal yang seolah-olah langit bagian bawah berbatas dengan permukaan bumi, biasanya laut. Bisa juga disebut sebagai tepi langit, horizon, cakrawala, atau sederhananya batas pemandangan," papar Sena sedemikian rupa.
Dara berdecak, "hanya bilang batas pemandangan saja, susah sekali," protesnya.
Sena hanya terkekeh, "sebentar lagi matahari tenggelam." Ia mengeluarkan teropong kecil dari saku celananya.
"Selain melihat matahari tenggelam, apa saja yang kamu lihat saat senja?"
"Sinar kemerahan, langit menggelap, bintang muncul. Sudah, lalu pulang."

KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Semesta untuk Dara [TAMAT]
Novela JuvenilSemesta punya beribu cara agar mampu mengembalikan tawa Dara yang telah lama sirna. Dan salah satu diantara seribu, ada satu yang tak pernah sia-sia, yakni dengan mengirim salah satu manusia bernama Sena. ©2019 dorafatunisa