Rasa yang semestinya tak pernah ada. Lautan asmara yang harusnya menjadi indah. Tentang kehancuran yang membuatnya menjadi berbeda. Terimakasih karena pada akhirnya, ini menjadi cerita yang semestinya tak pernah dilupakan
Dan
Selamat datang di serib...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Introvert, ucapan sambutan ketika orang melihat dia. Yohandra Pangestu, laki-laki pendiam yang hanya memiliki sedikit pergaulan. Dia pintar tapi tak sombong. Dia ganteng tapi tak playboy. Lalu apa yang membuat dia memiliki sedikit pergaulan ?.
Dia terlalu dingin dan datar untuk laki-laki pintar dan ganteng seperti dia. Perempuan banyak tergila oleh dia, tapi mereka mempunyai sedikit nyali untuk berusaha dengan laki-laki ini. Bicara sedikit, langsung disambut wajah datar. Orang tertawa terbahak-bahak dia hanya tersenyum tipis.
Tapi siapa sangka, dibalik wajah ganteng datar nan tampan itu. Menyimpan sejuta kegilaan, kegilaan yang membuat sepupunya, Handika Yulio kewalahan. Kata Handika, Yohan itu kalau udah dekat sama orang. Bakal nunjukkin wujud aslinya.
Humoris, misalnya. Tapi kalau gak dekat, wiss mukanya minta digampar. Datar terus, tak ada senyuman sama sekali. Cuman walaupun gitu, Yohan juga punya geng main. Namanya Power Rangers terdiri dari Yohan, Handika, Woojin, Lucas dan Mark. Tapi sama orang-orang suka dibilang gengnya para cogan-cogan.
Ya kayakmana lagi. Yohan terkenal karena wajah datar nan tampan, Handika terkenal karena ketua basket tertampan, Woojin terkenal karena Kakak ketua Osis terimut, Lucas terkenal karena wink andalanya, lalu terakhir Mark cowok bule pindahan dari Kanada.
Mereka ini sebenarnya beda sekolah sejak dulu. Nggak pernah ketemu, nanti yang 3 lulus disini, eh yang 2 malah gak lulus. Tapi bersyukurnya, Sma ini mereka sama-sama lulus di satu Sma. Sma pustaka budi namanya
Kalau udah ngumpul, suka bikin orang ngelus dada. Ada yang ketawanya menggelegar, ada yang suka mukul-mukul meja, ada juga yang tingkah bobroknya diluar batas. Tapi yagitu, orang cukup maklum karena mereka pada ganteng semua.
Orang-orang juga suka bingung. Bagaimana seorang Yohandra bisa masuk ke geng yang bisa dibilang, gak ada kalem-kalemnya. Tapi Yohan cuman bisa bilang, 'mereka kayakgitu, karenapinginmencairkansuasana. Sayasenangpunyatemansepertimereka. Merekabaikdansayasukamenjaditemanmereka'.
Lalu semua orang jadi kaget, itu ucapan terpanjang pertama yang Yohan ucapkan setelah mereka bersusah payah mencari topik pembicaraan. Sejak saat itu, topik tentang persahabatan menjadi bahan utama yang akan ditanyakan pada Yohan.
"Yo, lo tau gak ?"
"Apaan Handika ?"
"Di Gramedia, lagi ada diskon besar-besaran. Rugi loh kalau gak datang"
"Saya lagi malas. Lagian tumben-tumbenan kamu ngajak saya pergi ke Gramedia. Kamu kan gak suka sama namanya buku"
"Ya bukan gitu Yo. Masalahnya ini ya, gua lagi gabut dirumah. Mama lo sama mama gue kan lagi kerumah nenek. Jalan-jalan gitu kek, gue kawani deh beli buku di Gramedia"
"Alahh, nanti saya ditinggal lagi kayak kemaren"
"Nggak Yo, janji deh"
Entahlah, hingga detik ini Yohan juga belum mengiyakan ajakan dari sepupunya itu. Ia masih terdiam, menatap televisi menunggu Handika memberhentikan ucapan ajakan itu. Hingga menit ke-10 Handika masih tetap kokoh mengajak Yohan untuk pergi. Dan Yohan hanya bisa pasrah, lalu menghembuskan nafas kasar.
"Yaudah, ayo"
"Yeee, Yohandra memang terbaik"
"Kayak gini, baru kamu muji saya. Kemarin-kemarin kemana ?"
"Nggak gitu Yo. Lo kan memang sepupu gue yang terbaik sejak dulu"
Yohan hanya bisa memutar bola matanya. Lalu beranjak pergi meninggalkan Handika, untuk pergi kekamarnya. Memang bukan Handika aja yang kewalahan punya sepupu kayak Yohan. Yohan pun juga kewalahan , punya sepupu kayak Handika itu kayak ngurus bayi gede. Padahal umur mereka sama-sama 15 tahun. Cuman, dia nggak bisa bohong. Kalau Handika itu memang sepupu terbaik sepanjang masa.
"Udah sampe nii, Yo. Langsung ke Gramedia atau cafe dulu"
"Gramedia ajalah, Han. Biar nanti kalau capek, bisa langsung ke kafe makan gitu"
"Okelah"
Dua saudara ini masih melanjutkan perjalananya. Menuju toko buku di seberang sana, yang terlihat sedang ramai. Lalu memandang sekitar, sambil sekali-kali mengambil foto. Satu lagi hal spesial dari Yohan, dia pecinta fotographer. Berjuta-juta momen atau berjuta-juta peristiwa telah tersimpan baik di Kamera kecil yang selalu ia bawa.
Mereka berdua masuk, lalu berpisah tepat ketika Handika memilih menuju rak buku sebelah kiri sedangkan Yohan memilih sebelah kanan. Lalu tanpa sengaja matanya menatap seorang gadis yang kelihatanya sedang bingung. Dengan dua novel berada ditangannya.
Ia tersenyum, lalu mengambil gambar gadis itu sejenak dan beranjak pergi mendekati gadis itu.
"Yang ini bagus, saya udah beberapa kali baca dan nggak pernah bosan ngulanginya"
"Hmm, makasih"
Gadis itu membalikkan badannya, lalu sejenak mata mereka bertemu. Ia tersenyum, lalu beranjak pergi.
"Kalau gak salah namanya Hyena. Sahabatnya Chaya. Chaya yang pernah suka sama Lucas. Tapi kok tadi saya bisa senyum ya sama dia. Kan saya gak terlalu kenal dia" gumamnya sendiri, sambil tertawa geli mengingat kejadian tadi.
Yeebohong..
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.