5 - Drop

251 23 0
                                    

"lu beneran gapapa? Kita ke dokter ya" tawar Jinhyuk. Sejak pagi tadi wajah Yoora sangat pucat dan tubuhnya lemas. Kali ini mereka sedang berada di mobil untuk menuju ke rumah pak Kang setelah meninggalkan hotel. Mobil itu hadiah dari pak Kang untuk pernikahan mereka.

"nggak usah" jawab Yoora singkat.

"Lu pucet banget ra. Kemaren lu ga makan sama sekali ya?" Jinhyuk terus melemparkan pertanyaan sambil fokus menyetir. Yoora tidak merespon.

"kita ke Rumah sakit aja ya?" tawarnya lagi.

"gue bilang nggak usah, kenapa keukeuh sih" Yoora mengomel dalam keadaan lemas. Jinhyuk tidak bicara lagi dan meneruskan kegiatan menyetirnya.

Tak berapa lama mereka sampai di depan kediaman pak Kang. Jinhyuk tidak langsung turun ia melirik arah Yoora. Masih, Yoora masih sangat lemas, dan wajahnya semakin pucat.

"lu yakin gapapa?" tanya Jinhyuk lagi. Ia sangat khawatir, tapi masih menghormati Yoora dan tak memaksakan kehendaknya sendiri. Jinhyuk berusaha membantu Yoora melepaskan setbelt Yoora namun tangannya ditepis.

"gue bisa sendiri" Yoora ketus, tapi bicaranya sangat lirih. Jinhyuk membiarkan saja. Ia akhirnya keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Yoora.

Yoora berusaha keluar dari mobil itu dan berjalan ke arah rumahnya. Jinhyuk mengikuti dari belakang. Saat hendak membuka pintu gerbang Yoora tumbang, ia pingsan. Jinhyuk panik namun dengan sigap menangkap Yoora agar tidak terjatuh di tanah.

---o0o---

Lee Jinhyuk. Pria jakung itu belum sempat beristirahat semenjak kepulangannya ke Korea 5 hari yang lalu. Banyak yang ia urus. Kepindahan, menata apatemen, mengurus kepindahan kerja, dan juga mengurus istri barunya.

Sebenarnya ia sendiri tidak menyangka jika ia akan langsung menikah saat sampai di Korea, dengan gadis yang tidak mengenalnya. Ia pun tidak ikut mengurus pernikahannya. Yah, pernikahannya memang berdasarkan perjodohan kilat tanpa kencan buta atau sekedar perkenalan singkat. Cukup gila memang. Tapi ya, apa boleh buat. Bagi Jinhyuk, jalani saja apa yang sudah terjadi. Lagi pula ia tidak suka menyulitkan diri.

Lelaki itu sama sekali tidak punya waktu untuk berdiam diri, ia harus pergi kesana kemari di tanah kelahirannya yang sudah banyak berubah itu. Beberapa kali ia harus putar balik karena salah jalan. Beruntung Mobil pemberian ayah mertuanya itu sudah dilengkapi teknologi canggih yang sangat berguna baginya. Rencananya untuk membeli mobil sudah tergantikan, ia bisa sedikit berhemat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, Jinhyuk baru saja kembali dari kantor catatan sipil. Baru saja ia mendapat telepon dari Minhee dan langsung bergegas menuju Rumah sakit.

---o0o---

Yoora membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat berat. Ia mengerjap-ngerjap menyesuaikan pengelihatannya dengan cahaya. Ruangan serba putih menyambutnya. Jarum infus menancap di tangan kirinya. Ia menghela nafas berat mengetahui jika dirinya harus berakhir di rumah sakit -lagi-.

"kakak udah bangun" tanya Minhee yang baru saja memasuki ruang VIP dan melihat Yoora memegangi kepalanya. Minhee kemudian menaruh 2 kantong palstik yang dibawanya di atas nakas kemudian memencet tombol merah di sebelah kasur Yoora untuk memanggil dokter. Tak butuh waktu lama seorang dokter muda berperawakan tinggi memasuki ruangan itu untuk memeriksa keadaan Yoora. Yang bersangkutan hanya diam saja. Ia sudah -sangat- terbiasa dengan hal seperti ini.

Saat dokter itu masih memeriksa Yoora. Jinhyuk memasuki ruangan itu dengan nafas terengah. Pemeriksaan itu hanya pemeriksaan biasa jadi tidak apa jika wali pasien juga ada di dalam ruangan. Jinhyuk yang melihat ada dokter dalam ruangan itu hanya memberi pertanyaan tanpa suara kepada Minhee. Minhee pun menjawab dengan hanya membuka mulutnya tanpa suara.

Not Bad | Lee JinhyukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang