Jangan lupa vote, follow, dan komen sebanyak-banyaknya yaa
Tips: banyakin makan wortel ya, supaya lo nih yang suka baca, matanya sehat selalu..
Bacanya pelan-pelan..
~•~
Sudah satu jam lebih mereka berdiri di tengah lapangan. Putri kira Bu Desi tidak bersungguh-sungguh menghukum mereka untuk hormat 2 jam penuh seperti ini, tapi ternyata dia betulan. Gadis itu masih berharap Bu Desi hanya kelupaan lalu datang menghampiri mereka untuk menyudahi hukuman ini.
Putri yang memang sedang datang bulan membuat kepalanya terasa tiga kali lipat lebih pening di banding biasanya, ditambah tadi pagi dia tidak sarapan...
Bruk
Angga dan yang lainnya sontak menoleh ke arah Putri. Cowok itu kaget ketika tepat di sampingnya seseorang jatuh begitu saja. Dia langsung jongkok dan mengangkat kepala Putri yang pasti terbentur ke tanah.
Sesekali dia menepuk pipi gadis itu. "Put, Put eh bangun woy, weh gimana ini?"
Fion pun celingukan panik dan meletakan tangan dipipinya. "Bu Desi!! Ada yang pingsan nih!! Tolong! Tolong!" teriaknya histeris.
"Eh gendong gendong," tutur Reza sambil mendorong-dorong punggung Angga.
Angga pun yang tambah panik langsung menggendong Putri ala bridal style. Walau agak sulit karena rambut gadis itu yang panjang, tapi karena tubuhnya yang memang tergolong ringan, Angga bisa menggendongnya.
Bu Desi yang keluar kantor dengan mata membulat panik, dibarengi Angga yang sudah berlari kelimpungan ke arah UKS sambil menggendong Putri. Beberapa siswa yang kena hukuman langsung mencari kesempatan dan malah bertebaran kabur.
"Eh heh! Ada apa ini!!" pekik Bu Desi ketika baru saja sampai di tempat di mana mereka semua dihukum.
Fion yang sudah menjauh membuntuti Angga langsung berbalik dan berhenti. "Ke UKS bu, si Putri pingsan!" lalu berbalik dan mengikuti Angga lagi.
Bu Desi menyernyit. "Ya ampun! 'Kan yang pingsan satu orang doang, yang pergi malah semua," tuturnya lalu menghela napas.
~•~
Merasa sesak karena guncangan larian, gadis itu terbangun. Menatap ke atas dan terkejut saat wajah cowok yang berkeringat tepat terpampang di depan wajahnya. Dia tersadar bahwa kini dia tengah digendong cowok yang sebenarnya lumayan tampan itu. Namun tetap saja.
Disaat yang bersamaan Angga tersadar bahwa Putri tersadar dari pingsannya, disaat yang bersamaan gadis itu berontak dan langsung berdiri dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Lo ngapain gendong gue?!" itu pertanyaan yang pertama kali dia lontarkan setelah kepanikan dan kericuhan tadi.
Angga and the gank melongo ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Lah, 'kan tadi lo pingsan," jawab Angga masih dengan wajah bingung.
Putri merengut. "Hah? Pingsan?"
"Iya." Angga memajukan wajahnya sambil menyodorkan tangannya. "sini gue gendong lagi, lo masih lemes 'kan?"
Gadis itu memundurkan wajahnya. "Eh enggak enggak, gue gak jadi pingsan." sambil menggeleng, lalu. "mana tas gue?"
Reza yang memang membawa tas gadis itu sebelum lari langsung menyodorkannya tanpa berkata apa-apa.
Putri merampas tas miliknya. "Oke." lalu gadis itu berbalik dan melenggang pergi.
"Heh, jadi lo itu tadi pingsan apa enggak sih?" tanya Fion setengah teriak. Dia masih bingung dengan gadis itu yang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Gak tau, lupa!" balas gadis itu tanpa menoleh.
.
.
Putri mengendap-ngendap lalu mengintip ruang kelasnya yang kini sedang berlangsung pelajaran matematika. Dia menepuk jidatnya sendiri lalu kembali mengintip dari daun pintu.
Sialnya, Bu Novi malah menoleh ke arah pintu membuat akhirnya gadis itu terciduk telat masuk kelas. Putri melotot lalu langsung bersembunyi di balik tembok sambil memejamkan matanya seraya berdoa supaya guru killer itu tidak melihat dirinya.
Namun saat dia membuka mata dan menoleh ke arah kanan, terpampang jelas Bu Novi yang sedang menatapnya ganas seraya membawa buku dan map absen di pelukannya.
"Hari ini kamu absen di pelajaran saya," katanya singkat lalu melenggang pergi begitu saja.
Putri menatap punggung Bu Novi dengan perasaan lega. Lebih baik absen saja dibanding harus diomeli dan dihukum lagi. Seolah tahu, Seli dan Mira keluar kelas dan langsung memeluk sahabatnya dengan mulut melebar.
"Ih Put, lo tumben telat!" heboh Mira seraya berlagak khawatir.
"Tau lo, tumben," sahut Seli setuju.
Putri mengangkat kedua bahunya lalu berjalan memasuki kelasnya dan duduk di tempat duduknya yang sedari tadi kosong.
Seli dan Mira sontak mengikutinya lalu ikut duduk di tempat masing-masing.
Gadis itu menunjuk entah kemana dengan dagunya. "Gara-gara cowok itu tuh, kemarin pas gue niatnya mau me time, dia malah ngikutin gue terus, eh gue malah bocor," jelas Putri dengan wajah tidak selera.
Seli dan Mira membulatkan mulutnya, kaget. "Eh serius, terus gimana?" tanya Mira seraya memajukan badannya.
"Terus dia minjemin almamater dia ke gue, pas pulang terpaksa gue nyuci sama strika bajunya sampe malem, haahhh." gadis itu menguap dan menyenderkan kepalanya ke meja.
Seli menepuk jidatnya. "Ya kenapa gak besoknya aja Putri syantik," katanya penuh penekanan.
"Gue gak mau ketemu dia lagi, entar si angel-angel itu dateng terus, hih," ucap Putri dengan benar-benar memanggil nama cewek rempong itu dengan sebutan 'angel'.
Mira tertawa tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, lo bisa bahasa jawa Put? Hahaha."
Seli menyengir melihat dua sahabatnya. "Angel, Put. Bukan angel, hahaha!"
BRAKK!
.
To be continueSapa tuh man?

KAMU SEDANG MEMBACA
MATSA [ Tamat ] 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶
JugendliteraturHanya cerita si cewek yang mati rasa bernama Putri. Sudah berkali-kali dikecewakan oleh cowok-cowok yang selalu mempermainkan dirinya, membuat Putri menutup diri dan tidak peduli lagi dengan apapun yang berhubungan dengan laki-laki, apalagi ternyata...