2. Penyusup

94 5 2
                                    

Eza berdecak sembari menatap wanita itu tajam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Eza berdecak sembari menatap wanita itu tajam. Sedangkan sang wanita memasang wajah seolah-olah merasa bersalah dengan lebay yang membuat Eza benar-benar ingin membunuhnya saat ini juga. Eza segera menyembunyikan pisau lipat ke saku celananya lagi ketika perlahan laki-laki itu mulai mendekat. Mereka berdua berdiri, dengan wanita itu yang bersembunyi di belakang Eza.

"Maaf mengganggu," ujar laki-laki itu ramah namun tampak menyelidik. "Apa Anda melihat seorang gadis memakai celana jeans putih dan blouse hitam?" Laki-laki itu menatap wanita di belakang Eza lekat.

Tentu saja Eza tidak bodoh. Dirinya tahu yang dimaksud laki-laki ini adalah wanita yang kini berada di belakangnya sambil terus berbisik mengucapkan kata tolong kepadanya. "Maksud Anda seperti yang dikenakan oleh kekasih saya ini?"

Oh, Tuhan. Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa dia sangat merepotkan bahkan di ujung kehidupannya.

"Kenapa kekasih Anda menyembunyikan diri seperti itu?" Laki-laki tadi mulai curiga.

"Tentu saja dia malu."

"Kenapa dia malu?"

"Saya terlalu banyak memberikan cupang di sekitar wajahnya."

Laki-laki tadi langsung berdehem. Tampak tidak menduga mendengar jawaban Eza yang terlalu intim. Apalagi Eza mengatakan tanpa malu. "Seharusnya Anda melakukannya di dalam."

"Kami lebih suka di tempat penuh dedaunan."

"Kenapa?"

"Romantis. Sepertinya."

"Oh, begitu." Laki-laki tadi kini terdiam. Namun tak kunjung beranjak dari tempatnya. Pandangannya masih tertuju kepada wanita itu. Ketika Eza ingin membuka mulutnya untuk bertanya kenapa laki-laki tadi tidak juga pergi, tiba-tiba tangan laki-laki itu bergerak hendak menarik tangan sang wanita yang langsung dijauhkan oleh Eza.

"Anda ingin bertindak macam-macam dengan kekasih saya?"

"Serahkan dia jika ingin selamat." Kini laki-laki itu tak sungkan menunjukkan kecurigaannya. "Saya tahu dia adalah gadis yang saya cari."

Eza tersenyum miring. "Tentu saja. Nanti. Setelah kami bersenang-senang," ucapnya sembari memelintir tangan laki-laki tadi. "Pergi," ucap Eza kepada sang wanita. Wanita itu segera lari. Tetapi tidak jauh, hanya bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang berjarak kurang dari sepuluh meter dari tempat Eza berdiri. Dasar bodoh.

Terjadilah adu tonjok yang dilakukan oleh Eza dan laki-laki tadi. Laki-laki itu terus mengarahkan tinjunya namun berhasil Eza hindari. Hingga Eza mengeluarkan tendangannya, namun berhasil dihindari oleh laki-laki tadi juga. Lawannya seimbang kini. Eza menyukainya. Mereka tampak bertatapan beberapa saat. Eza menangkap adanya pergerakan tangan laki-laki itu ke saku jaket hitam yang dikenakannya, sepertinya hendak mengambil pistol. Tapi Eza segera mencegatnya dengan menendang kepala laki-laki itu. Sayang, laki-laki itu cukup tanggap dan berhasil melindungi kepalanya dengan tangan dari tendangan Eza. Tonjokan serta tendangan brutal kembali dikeluarkan keduanya hingga satu tonjokan berhasil mendarat di perut laki-laki tadi yang membuatnya meringis cukup kesakitan. Laki-laki itu membalas Eza dengan beberapa tonjokan dan tendangan tetapi berhasil Eza hindari. Lagi, laki-laki itu tidak menyerah hingga satu tonjokan berhasil mengenai pipi Eza yang membuat Eza tersungkur dan ujung bibirnya mengeluarkan darah.

Circle : The ReverengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang