❝Kenapa harus kamu, perempuan yang pernah berbagi rahim denganku❞
-Renjun.
Ini tentang si pelukis berdarah. Yang punya sejuta misteri mengerikan dan masa lalu kelam. Usia ke-21 tahun, di mana seharusnya ia mati, justru dia bertemu dengan perempuan y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⭐⭐⭐
Rania berjalan menunduk, ia mengamati trotoar yang basah setelah di guyur hujan sore tadi. Seketika ia merasa sangat sedih, terkadang rasa ini muncul setelah melihat tanah yang basah. Rasa kesepian, ia merasa begitu kesepian setelah keluar dari panti asuhan. Terkadang ia juga sangat penasaran, sebenarnya siapa orang tuanya. Dan apakah orang tuanya masih hidup? Jika iya, di mana mereka sekarang dan sedang apa. Mungkinkah ia juga memiliki seorang kakak? Begitu pilu membayangkannya.
Rania tersenyum getir memikirkan itu. Kakinya bermain-main di genangan air sambil berusaha menahan air matanya. Kemudian matanya melihat sepasang suami-istri dengan putri kecilnya tengah membeli jajanan di pinggir jalan. Si anak kecil merengek minta digendong oleh ayahnya, sungguh menggemaskan.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil kemudian mengalihkan perhatiannya. Sebuah mobil merah menepi dekatnya. Rania lalu mundur agar tidak menghalangi jalan bagi mobil tersebut. Namun justru mobil itu kembali mengklakson.
"Berisik banget!"
Tak lama seseorang keluar dari mobil tersebut. Sangat membingungkan ia melihat pacar temannya kini berjalan menghampiri. Entah mengapa rasanya Rania malas bertemu dengan Renjun.
"Hai!" sapanya.
"Ngapain lo? Nggak nganter Bela?" tanya Rania.
"Nggak, ngapain? Emangnya aku dibayar berapa buat antar jemput dia kaya supir?" Renjun tertawa pelan. Benar-benar ia tak percaya lelaki itu akan menjawab begitu, padahal Bela adalah pacarnya sendiri.
Lelaki itu bersikap sok manis bicara menggunakan 'aku-kamu'. Namun Rania tidak berniat ikut menggunakannya.
"Kan dia pacar lo."
"Oh iya pacar!" Renjun menepuk jidatnya. Aneh, kini semakin konyol tingkahnya.
"Terlalu banyak yang pengin jadi pacar aku. Jadi bingung."
"Nggak jelas." Rania berjalan meninggalkan Renjun. Namun lelaki itu mengikuti, bahkan menyamai kecepatan langkahnya.
"Butuh temen ngobrol? Aku siap."
"Nggak."
"Butuh temen curhat?" tanya Renjun lagi.
"Nggak!"
"Butuh temen hidup?" Pertanyaan kali ini berhasil membuat Rania menghentikan langkah. Ia menoleh menatap Renjun.
"Butuh tidur!"
"Temen tidur?" tanya Renjun lagi.
"Astagaaaa. Udah ah sana pulang, gue juga mau pulang."