[21+] Dia adalah Min Yoongi. Tetangga baru yang tiba-tiba melamarmu dengan cara yang tidak biasa.
---
[After Marriage]
Sequel dari New Neighbor.
Setelah janji bersama sehidup semati disaksikan dan disumpah dihadapan Tuhan dan para jemaat, semua fakt...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak semua obat memberi reaksi sama.
Seperti pelukmu yang membuat rancu.
Layaknya aspirin yang memabukkan,
rengkuhmu bagai obat yang membingungkan.
~~~
Sampai di rumah, Vee bingung. Linglung lebih tepatnya. Tak tahu harus berbuat apa. Begitu juga dengan Seokjin. Hanya berdiam diri di meja makan. Menerawang gelas kosong yang isinya sudah ia tegak beberapa saat lalu.
Dua kakak beradik itu dikuasai hening dengan harapan kepala mampu mencerna atau memecah sebuah kejut prahara yang sangat memusingkan. Tapi sepertinya isi kepala mereka terlampau kusut yang berakhir memilih diam demi mengurangi pening yang berdenyut di ujung-ujung kening.
"Kak, aku lebih baik pulang." Mungkin lebih baik begitu. Pulang, berbaring, dan tidur.
"Kau sudah di rumah, Ve..."
"Oh iya aku sudah di rumah..." Namun kebingungan lain mengikis waras. Mencipta linglung yang membuat Vee terlihat idiot di depan sang kakak.
Seokjin menghembuskan napas sangat berat. Pandangannya kini lekat pada sang adik yang kembali duduk di ruang santai dekat dapurnya.
Seokjin tahu maksud Vee pulang ke mana, pasti gadis itu ingin kembali ke apartemen Suga karena setelah menikah ia tinggal di sana. Tapi bagi Seokjin, apartemen ini tetap rumah bagi Vee. Bukan sepenuhnya milik Seokjin karena mendiang papanya membeli apartemen ini untuk kedua anaknya.
"Tapi papa sudah tidak ada... dan mama bilang yang penting aku sudah menikah. Bukan kah itu berarti aku tak berhak lagi menganggap ini rumah?" Mungkin bodoh sudah merajainya, tapi Vee mencoba menyangkalnya. Mencari pembenaran dari apa yang ia katakan.
"Ya Tuhan, Ve..." Seokjin buru-buru menghampiri sang adik yang terlihat begitu muram. "Kenapa kau bicara seperti ini? Apartemen ini tetap rumahmu. Papa memberikannya pada kita berdua. Kau ingat kan dulu papa sudah bilang, rumah di Busan milik papa dan mama. Lalu sebagai tanda cintanya papa pada mama, papa membelikan rumah untuk mama di Buamdong. Dan apartemen ini papa belikan untuk kita agar kita tidak terlalu jauh dari sekolah dan tempat kerja."
Vee hanya diam. Matanya menatap nanar sang kakak yang sudah ada di depannya, menekuk lutut sambil meremas kedua tangannya yang dingin.
"Tapi tadi seolah mama bilang--"
"Aku tahu maksudmu, tapi seperti jawaban yang kuberikan tadi, meskipun menurutmu jawabanku tidak relevan. Tapi itu kenyataannya. Mama selalu khawatir denganmu. Kau yang tak bisa masak sendiri, kau tidak punya banyak teman, dan hampir tidak pernah berinteraksi dengan siapapun. Mama hanya lega kau sudah ada teman hidup. Paling tidak, dia bisa menjagamu sekalipun kau bisa jaga diri."