Bagian 01

12 1 0
                                    

Rinka menatap pilu benda yang ada di atas ranjang kamarnya. Tanda garis dua yang mungkin menandakan sebuah awal kehancuran dihidupnya. Pikirannya melayang pada peristiwa satu bulan yang lalu ketika dirinya menyerahkan hal yang seharusnya ia jaga untuk suami masa depannya direnggut oleh sang kekasih, Yoga Putra Khalafi.

Yoga yang saat itu mabuk di pesta ulang tahunnya yang ke 18 tahun melakukannya dengan paksa terhadap Rinka yang saat itu hanya tinggal mereka berdua di apartemen milik Yoga setelah teman-temannya pulang. Kuatnya tenaga dan gairah yang dimiliki Yoga saat itu mengalahkan Rinka yang terus memberontak melepaskan diri dari tindihan Yoga. Akibatnya sebulan setelahnya Rinka mendapati garis dua setelah membeli benda tersebut karena merasa ada kejanggalan pada tubuhnya selama seminggu terakhir.

Dan disinilah kini Rinka berada, di depan pintu apartemen milik Yoga. Ingin meminta pertanggungjawaban Yoga karena yang Rinka tahu Yoga menyayangi dan mencintainya.

Ting Tong...

Bel apartemen Yoga berbunyi dan tak lama kemudian nampaklah sosok pemuda dengan wajah tampan dengan senyuman kala menyambut kedatangan sang kekasih. Namun tak lama kemudian senyuman itu hilang diganti dengan raut wajah bingung melihat wajah sang kekasih yang tampak kacau dengan mata sembab dan rambut yang sedikit berantakan.

"Sayang, kamu kenapa? Kamu habis nangis? Ayo masuk dulu". Yoga mengambil tangan kiri Rinka dan menuntunnya ke ruang tv yang ada di dalam apartemen itu.

Setelah keduanya duduk, Yoga menghapus sisa air mata di pipi Rinka dan merapikan beberapa helaian rambut yang menutupi wajah cantik sang kekasih. Kemudian Yoga berdiri dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum guna menenangkan Rinka yang masih terisak. Yoga sebenarnya sangat ingin tahu apa yang telah terjadi pada kekasihnya, namun dirinya sadar kalau Rinka tidak akan nyaman bercerita jika keadaannya masih kacau.

Setelah memastikan Rinka minum dan keadaannya yang sedikit tenang,Yoga mengambil kedua tangan rinka dan menggenggamnya dengan lembut.

"Sekarang cerita kamu kenapa hem?" tanyanya lembut dan menatap Rinka yang masih menunduk.

Perlahan Rinka menaikkan wajahnya untuk menatap Yoga dan tak lama itu air mata kembali membasahi pipinya yang sedikit chubby.

"Aku...Aku...Aku...hiks hiks...Aku" Lidahnya terasa kaku untuk mengatakan sesuatu yang membuatnya hancur sejak kemarin. Rinka kembali terisak.

"sssttt udah. Kamu tenang. Jangan nangis lagi. Aku disini. Ayo cerita" Yoga kembali menghapus air mata rinka dan menangkup kedua pipinya. diciumnya lama dahi rinka lalu beralih kedua bolamatanya dan pindah ke kedua pipi chubby kekasih dan terakhir ke bibir ranum milik sang kekasih yang selalu menjadi candunya. Yoga sangat mencintai Rinka.

Rinka dapat merasakan rasa sayang dari perlakuan Yoga. Maka itu ia mencoba menenangkan dirinya dan mengatur nafasnya agar sesuatu yang ingin dia katakan sedari kemarin dapat disampaikan dengan baik kepada Yoga.

Setelah merasa tenang, Rinka menatap kedua mata Yoga dengan serius. Yoga yang memang telah menantikan apa yang akan dkatakan sang kekasih mulai merasa tidak enak. Dia takut sesuatu yang buruk telah terjadi.

"Aku hamil"

Hening untuk sesaat.

Setelah mengatakan hal yang sangat ingin dia katakan dari kemarin kepada Yoga. Dirinya dapat melihat keterjutan dan ketidakpercayaan di wajah Yoga atas apa yang Rinka katakan.

Yoga pun masih betah dalam keheningan. Merasa dirinya sangat yakin mendengar kata 'hamil' yang keluar dari mulut sang kekasihnya.

Tidak. Ini tidak seharusnya terjadi. Dia sadar jika mereka telah melakukan kesalahan ketika pesta ulang tahunnya namun dia tidak menyangka jika Rinka akan hamil. Karena dia ingat jika dia hanya mengeluarkan satu kali di dalam rahim Rinka Tidak mungkinkan membuat kekasihnya ini langsung hamil.

Yoga menggeleng dengan tawa sumbangnya. Menatap tidak percaya kepada Rinka.

"SIAPA YANG HAMILIN KAMU?!" Yoga bertanya dengan nada tinggi dan menatap Rinka dengan tatapan tajam. Tangannya yang tadi menggenggam tangan Rinka kini melepasnya dengan kasar.

Terkejut, Rinka terhenyak mendengar pertanyaan Yoga. Apa-apaan ini. Apa maksudnya siapa yang menghamilinya. Tentu saja pria yang didepannya ini yang melakukannya.

"Apa maksud kamu Ga? Rinka menggeram tidak percaya.

"INI ANAK KAMU! KITA LAKUINNYA SATU BULAN LALU SAAT BIRTHDAY PARTY KAMU DISINI!" Suara Rinka meninggi karena emosi mendengar pertanyaan Yoga.

Tetapi Yoga masih saja menggelengkan kepalanya seraya tertawa sumbang.dia tidak percaya itu anaknya. Karena dia memang hanya membuang benihnya satu kali di dalam rahim pacarnya ini.

"Heh, gue ngeluarin di dalem cuma sekali dan lo pikir gue percaya kalau itu langsung jadi bukti anak gue?"

"LO PASTI SELINGKUH KAN DI BELAKANG GUE! DASAR JALANG!!!

Apa ini?! Rinka benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Yoga. Yoga adalah tipe kekasih yang possesif jadi mana ada kesempatan untuk dia selingkuh. Tidak possesif pun Rinka tidak akan selingkuh karena dirinya benar-benar tulus mencintai Yoga.

"awh..." Rinka merintih kesakitan karena tiba-tiba saja rambut panjangnya dijambak Yoga dengan kasar. Bisa dilihat jika wajah Yoga kini menatap Rinka dengan penuh amarah bahkan wajahnya saja memerah karena emosi.

"SIALAN LO. LO BERANI SELINGKUH DAN SEKARANG LO BILANG HAMIL ANAK GUE! DASAR BITCH!"

"Ap...apa maksud ka...kamu Ga? Aku gak selingkuh. Ini memang anak kamu. Aku ngelakuinnya cuma sama kamu Ga" Rinka berkata dengan nada bergetar.

Yoga semakin emosi mendengar perkataan Rinka. Tidak mungkin kan Rinka langsung hamil sewaktu mereka melakukannya. Orangtuanya saja setelah 5 tahun menikah baru dia lahir.

Dengan kasar Yoga mendorong kepala Rinka ke meja yang ada didepan sofa yang mereka duduki.

Rinka mengerang kesakitan karena tubuhnya terdorong sangat kuat ke meja berbahan kaca itu. Meja kaca itu tidak pecah karena terbuat dari kaca yang sangat tebal dan kuat. Namun karena kepalanya membentur dengan sangat keras dengan ujung meja maka mengalirlah darah di ujung pelipisnya.

Bukan hanya sakit di bagian kepala yang dia rasakan. Hatinya hancur mendapati kekasihnya tidak mengakui buah dari perilakunya. Belum lagi sikap kasar yang dia terima. Salah. Ternyata selama ini dirinya salah. Orang yang selama ini dia pikir mencintainya ternyata tidak. Dirinya tetaplah sebuah obsesi semata bagi Yoga.

"SEKARANG JUGA LO PERGI DARI SINI!!! DAN JANGAN NGAKU-NGAKU KALAU ITU ANAK GUE KARENA SAMPAI KAPANPUN GUE GAK AKAN PERCAYA. GUE TAHU LO PERNAH JALAN SAMA DANNY. BRENGSEK LO RINKA!!! ARRGGHHH" Yoga memukul dengan kuat meja kaca yang ada didepannya.Yoga memanglah atlet Karate jadi untuk memecahkan kaca yang tebal pun dia bisa.

Rinka yang terkejut refleks beringsut menjauh. Dirinya tahu bagaimana seorang Yoga jika meluapkan emosinya.

Melihat Rinka yang beringsut menjauh karena takut,Yoga berjalan menuju Rinka dengan wajah yang masih diselimuti emosi. Tidak peduli dengan tangannya yang memar akibat menghancurkan meja kaca tadi.

Dengan gerakan cepat Yoga menarik kembali rambut Rinka dengan kasar dan menariknya kembali ke pintu keluar apartemennya. Yoga mengusir Rinka dengan kasar, namun sebelum tangannya menyentuh handle pintu Yoga membenturkan kepala Rinka ke dinding dekat pintu. Setelah puas menyiksa Rinka, Yoga membuka pintu dan menarik paksa Rinka yang kini terlihat lemas keluar dari apartemennya.

Rinka jatuh terduduk dengan lemas dengan kepala yang berdarah dan memar. Dan Yoga puas melihat keadaan sang kekasihnya ini. Atau mulai detik ini menjadi mantan kekasih.

TBC.

Lanjut ?

Hi Boys.. Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang