Siang ini, Sena merasa senang. Karena setelah sekian lama motornya tidak hanya diduduki seorang, melainkan dua bersama Dara. Dia mengatakan iya saat Sena ingin mengantarnya pulang, dia menganggukkan kepala saat Sena menawarkan motornya sebagai tumpangan. Jika keduanya sama-sama senang, maka sekali lagi Sena bilang bahwa dia yang paling senang.
"Itu rumah ayahku, pagar putih."
Mendengar instruksi Dara, Sena memelankan laju motornya sebelum berhenti tepat di depan rumah berpagar putih yang Dara tunjukkan.
"Jadi rumah ayahmu di sini?"
Dara mengangguk.
"Kamu tau? Rumah kakek saya ada di blok E."
"Ini blok apa?"
"Blok B, Dara," ungkap Sena. "Kamu bahkan tidak hafal rumahmu di blok mana."
"Yang aku ingat cuma jalannya. Soal blok enggak terlalu penting." Dara berkilah.
Sena tertawa. "Tempat tinggal kita sudah searah, hati kita kapan?"
"Enggak paham kamu ngomong apa."
"Entah saya atau kamu yang beruntung di sini."
"Kita berdua," jawab Dara dengan tersenyum kecil. "Karena kita sama-sama senang."
Sena juga ikut tersenyum. "Sana masuk. Siang sudah seperti sore."
"Maksudnya?"
"Langit mendung, Dara."
"Kamu ingin mampir dulu?"
"Kalau dulu saya diusir, sekarang malah disuruh mampir."
"Mau enggak, nih?" tanya Dara memastikan.
"Lain kali saja," tolak Sena. "Sudah sana masuk."
Dara berjalan membuka gerbang, langkahnya terhenti saat Sena bilang,
"Hati-hati."
"Cuma masuk ke rumah, kok."
"Ya hati-hati saat melangkah." Selepas itu, Sena menghidupkan motor dan pergi dari sana.
Dara merapatkan kembali pintu gerbang dan masuk ke dalam, sempat menyapa bi Harti yang sedang menyiram tanaman dengan air dari selang.
Begitu pergi ke dapur untuk minum, istri ayah terlihat sedang berdiri di depan kompor. Sepertinya sedang memasak sesuatu.
Terdengar bunyi dentuman kecil dari gelas yang beradu dengan meja makan, wanita itu menoleh, senyumnya merekah. "Sudah datang?"
Tidak menjawab, Dara hanya mengangguk.
"Mama sedang masak omelet. Kata ayah ini salah satu makanan kesukaan kamu."
Entah tulus atau memang sengaja untuk menarik perhatiannya, Dara tidak suka jika wanita ini memasak sesuatu untuknya. Bukan karena apa, Dara tidak ingin dia kelelahan dengan perut sebesar itu.
"Mama enggak perlu masak."
Seketika, pergerakan wanita itu terhenti. Beruntung omelet telah matang, tinggal memindahkannya saja ke piring.
Dia senang bukan main saat kata 'mama' keluar dari mulut Dara, apa yang ia nanti akhirnya tiba. Meski ia tahu bahwa Dara belum sepenuhnya rela menganggapnya sebagai mama, setidaknya ia cukup senang.
"Kenapa mama nggak boleh masak untuk kamu?"
Dara menghela napas kesal.
'Coba belajar melupakan yang lalu, belajar memaafkan sesuatu, belajar menerima bahwa waktu harus terus berjalan maju.'

KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Semesta untuk Dara [TAMAT]
Teen FictionSemesta punya beribu cara agar mampu mengembalikan tawa Dara yang telah lama sirna. Dan salah satu diantara seribu, ada satu yang tak pernah sia-sia, yakni dengan mengirim salah satu manusia bernama Sena. ©2019 dorafatunisa