17. Asmara yang Berhasil Dipadamkan

904 38 0
                                    

Sepasang muda mudi memasuki gerbang desa. Seorang pemuda desa menatap mereka dengan tatapan aneh. Kemudian pemuda itu langsung berlari dan hilang di antara rumah penduduk. Hal ini tak luput dari perhatian Pendekar Sedeng. Penduduk desa ini pasti telah mengenalinya karena menghajar pedagang kain tadi. Ia harus membawa Roro Wening pergi dari desa ini.

"Mereka semua terlihat sibuk, Kakang. Siapa yang dapat kita tanyai?" tanya Roro Wening.

"Tidak usah di desa ini! Ada banyak desa lain yang penduduknya lebih ramah!" kata Pendekar Sedeng sambil menggamit tangan Roro Wening.

Saat mereka hendak melesat, segerombol warga menghadang. Pandangan mereka terlihat mencurigai kedatangan sepasang muda mudi itu. Pemuda yang melihat mereka pertama kali datang bersama lurah desa tersebut.

"Itu dia, Ki Lurah!" katanya.

Ki lurah mendekati mereka. Pendekar Sedeng merasakan ketidaksenangan di wajah para penduduk. Namun tiba-tiba mereka tersenyum. Membuat Roro Wening apalagi Pendekar Sedeng jadi terkejut.

"Saya mendengar bahwa Pendekar telah mengusir pedagang angkuh itu dari desa ini," kata Ki lurah.

"Oh... saya cuma gusar dengan tingkahnya, Ki."

"Dia menjual kain dengan harga mahal. Kami dipaksa membeli dagangannya. Kalau tidak para anak buahnya akan menghajar kami. Saya yakin setelah Pendekar menghajarnya dia tidak akan datang lagi ke desa ini," papar Ki lurah.

"Saya juga berterima kasih Pendekar. Berkat kain yang Pendekar hamburkan, saya bisa memakai pakaian yang bagus," kata seorang wanita tua. Roro Wening menatap Pendekar Sedeng. Katanya sang pendekar membeli pakaian itu dengan kepengnya, ternyata ia mencuri dan membagi-bagikannya dengan para penduduk.

"Kami juga berterima kasih, Pendekar," tambah seorang pria.

"Ah... biasa saja. Tadi saya cuma iseng." Pendekar Sedeng merendah.

"Silahkan Pendekar, mampir dulu ke rumah saya," ajak Ki lurah.

"Tidak usah, Ki. Kami sebenarnya ingin bertanya... kemana arah menuju Gunung Wilis?"

"Saya tahu Pendekar!" sahut seorang laki-laki. "Pokoknya Pendekar ikuti saja jalan tanah ini terus. Jalan ini akan membawa kalian menuju Gunung Wilis. Tapi sebaiknya Pendekar sering bertanya pada warga yang ditemui," sarannya.

"Terima kasih. Kami juga perlu dua ekor kuda," tambah Pendekar Sedeng.

Ki lurah mengangguk. "Akan saya sediakan."

Pendekar Sedeng tak menyangka. Keisengannya justru menyelamatkan penduduk desa dari kebengisan pedagang itu. Dan jika mereka menyerang, tentu saja ia akan membalas.

"Kamu bisa berkuda, Wening?" tanya Pendekar Sedeng.

"Saya putri pedagang yang erat dengan aturan tata krama. Bopo tidak pernah mengizinkan saya untuk melakukan hal yang dilakukan oleh para laki-laki," jelas Roro Wening.

"Bagaimana ya?" Pendekar Sedeng menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Perjalanan kita masih jauh."

"Saya mau jika harus belajar berkuda. Asalkan Kakang yang mengajari saya," pinta Roro Wening dengan agak tersipu.

"Itu mudah!" balas Pendekar Sedeng. Lalu melangkah mengikuti sang lurah menuju gedhogan untuk memilih kuda yang jinak sebagai tunggangan Roro Wening.

Pendekar Sedeng pun mengajari Roro Wening berkuda. Ternyata gadis itu cukup cekatan dan berhasil mengendalikan kuda hanya dalam waktu dua hari. Perjalanan menuju Gunung Wilis kembali dilanjutkan. Keakraban Roro Wening dan Pendekar Sedeng pun semakin terjalin.

Renjana BerdarahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang