Dara sudah bisa bernapas lega karena proses persalinan mama telah selesai. Ibu dan anak itu dalam keadaan baik-baik saja, beruntung tidak ada kejadian serius yang perlu dikhawatirkan. Setelah dokter memberinya ijin untuk masuk, Dara melangkah pelan mendekati malaikat kecil yang berada dalam inkubator. Maniknya masih terpejam rapat dengan tangan sibuk bergerak pelan.
Selesai mengumandangkan adzan, ayah terus menatap bayi kecil yang baru saja dipersilakan hadir di dunia ini. Dara melihat binar kebahagiaan terpancar di wajah ayah, Dara mengerti bahwa bahagia ayah tidak bisa dipungkiri. Bayi kecil itu, adalah hasil kesabaran ayah dalam penantian sembilan bulan lebih.
"Dara," ayah tersenyum dan menarik lengan Dara. "Ini adik kamu, laki-laki."
Ayah menyayangi bayi itu, tapi Dara yakin bahwa ayah tak kalah menyayanginya. "Iya, dia ganteng."
"Nggak mau lihat adik kamu dari dekat?"
Dara termangu sejenak, hatinya menghangat mendengar kata 'adik'. Sedari dulu, ia ingin memiliki adik yang bisa diajak bermain bersama. Dara ingin agar tidak selalu kesepian, ingin tahu seperti apa jika dirinya dijadikan sebagai panutan. Tak apa meski ia memiliki adik dari rahim yang berbeda, karena Dara akan tetap menyayanginya semampu yang ia bisa.
Saat mendekat, yang Dara lihat pertama kali adalah hidung yang mancung mirip sekali seperti ayah, dengan manik masih segaris saja. Saat Dara menyentuh tangan mungil itu, terasa begitu lembut, sangat rapuh apabila ditekan sedikit saja.
Tanpa sadar bibirnya tersenyum tipis.
Melihat itu, ayah juga ikut tersenyum. "Ayah menyayangi kalian berdua."
Dara menatap ayah, ia selalu merasa senang kala ayah menyatakan hal itu meski sudah berulang kali. Nyatanya, semua masih sama, hanya egonya saja yang membungkam hati untuk bicara yang sebenarnya. Dara masih menyayangi ayah, sangat. Dia tidak bisa selalu berpura-pura dan menekan perasaan dengan egonya yang kian dipaksa bertahan.
Maka dari itu, hari ini Dara akan memulai apa yang harus ia mulai. Egonya akan berhenti, dan kasih sayang akan mengalir kembali. Tidak ada kata yang tepat untuk membalas kalimat ayah selain, "aku juga sayang ayah. Maaf untuk segalanya."
Gadis itu menghambur ke dalam dekapan pria yang ia cintai sepanjang masa, juga cinta pertamanya. Dara meluapkan tangis yang selama ini tertahan mati-matian, dia ungkap rasa penyesalan atas semua yang pernah dilakukan.
Mulai detik ini, Dara berjanji akan menerima apa yang telah Tuhan beri. Dara akan bersyukur atas semua yang telah ia alami. Dan di hari kelahiran adik lelakinya, Dara ingin menunjukkan bahwa keluarga sesungguhnya benar-benar di mulai saat ini.
***
Setelah tiga hari menginap di rumah sakit, mama dan adik lelaki Dara sudah dibolehkan untuk pulang.
Oh iya, karena kulitnya coklat manis seperti Mu'adzin pada zaman Nabi, maka dari itu ayah memberi nama Muhammad Bilal. Dipanggil Bilal, tapi Dara lebih senang memanggilnya Bibil. Nanti kalau sudah besar baru Dara panggil dia Bilal. Mama dan ayah setuju saja, mereka malah meniru Dara untuk memanggil Bibil.
Usai membantu membereskan barang-barang, Dara duduk di samping mama yang sedang melipat baju. "Ma?"
Wanita itu berhenti sekejap, lalu menatap Dara. "Iya?" Bibirnya mengulum senyum.
Sejenak Dara menghela napas, jarinya mengepal kuat dengan bibir mengatup rapat. Kamu harus bicara, enggak boleh malu.
"Aku minta maaf," ucapnya setelah memberi sugesti.
Bola mata mama membulat tapi tidak terkejut, dia malah senang saat mendengar itu langsung dari mulut Dara. "Maaf untuk apa?"
"Karena sudah bersikap kurang baik," Dara berkata dengan kepala tertunduk.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Semesta untuk Dara [TAMAT]
Teen FictionSemesta punya beribu cara agar mampu mengembalikan tawa Dara yang telah lama sirna. Dan salah satu diantara seribu, ada satu yang tak pernah sia-sia, yakni dengan mengirim salah satu manusia bernama Sena. ©2019 dorafatunisa