"Senang tidak saya bawa kamu ke sini?"
Dengan dua tangan yang tenggelam dalam saku jaket, Dara mengangguk, membiarkan Sena terus menatap wajahnya dari samping.
Pagi ini dingin sekali. Walau Dara masih kesal, setidaknya dia senang karena Sena mengajaknya ke sini. Tadi setelah menunaikan sholat subuh, ayah masuk ke kamarnya dan bilang bahwa ada Sena di depan. Dara awalnya menggeleng tidak percaya kalau Sena ke rumahnya saat pagi buta. Namun mengingat kembali bahwa Sena adalah lelaki aneh yang punya berbagai cara, Dara percaya saja. Dan benar Sena sudah duduk di atas sepeda motornya.
Sena bilang, dia akan mengajak Dara melihat matahari terbit. Sena juga sudah dapat ijin dari ayah, beliau cuma berpesan jangan terlalu lama. Akhirnya mau tak mau Dara setuju.
"Dingin ya, Ra?" tanya Sena.
"Harusnya aku tidur lagi di rumah kalau kamu nggak ajak aku ke sini."
"Kamu marah saya ajak ke sini? katanya tadi senang?"
"Sempat mau marah, tapi senang duluan."
Sena terkekeh pelan, lesung di pipinya tidak terlalu kentara karena langit masih petang. Dia meraih kedua tangan Dara yang semula bersembunyi di saku jaket, lalu menangkupnya. "Sudah tidak terlalu dingin?"
Dara terdiam menatap tangannya dengan hati berdebar. Darahnya berdesir lembut saat Sena tersenyum kearahnya.
"Kenapa diam? Malu ya?"
Dara menarik tangannya dari genggaman Sena, lalu berpaling muka.
"Benar malu ternyata." Sena terkekeh lagi. "Diam terus, padahal saya ingin kamu bertanya."
"Tanya apa?"
"Alasan saya ajak kamu ke sini. Tau, tidak?"
Dara menggeleng pelan.
"Kalau dulu kita melihat senja sebelum saya pergi, maka kali ini kita melihat fajar setelah saya kembali."
Sena menatap lurus ke depan, di mana sinar yang sedari tadi bersembunyi mulai muncul di ufuk timur sana. "Pada dasarnya, saya yang tidak bisa meninggalkan kamu."
"Terus kenapa kamu pergi?"
"Saya SD di Jember, kemudian SMP dan SMA di Jakarta. Kembali ke Jember lagi untuk kuliah. Mama Papa saya ada di Jakarta, mereka minta saya pulang selama beberapa hari, bertepatan dengan kamu yang kembali kepada Rama. Melihat kamu tertawa bersama Rama, saya sudah tidak berharap apa-apa. Saya merasa semua usaha saya juga tidak berbuah apa-apa. Dan saya pikir, saya akan pergi ke Jakarta sebentar. Dan setelah kembali, saya bertekad akan menganggapmu bukan siapa-siapa."
"Tapi selama di Jakarta saya tidak bisa tidak memikirkan kamu. Jakarta kota yang ramai, tapi tetap saja saya merasa sepi, karena kamu tidak ada di dalamnya. Dan saat Tegar membawa kabar bahwa bunda meninggal, saat itu juga saya khawatir. Saya kembali dan melupakan tekad yang saya bangun kuat-kuat. Kamu tau kenapa?"
"Kenapa?"
"Karena saya tau kamu butuh tempat untuk menangis. Saya merasa yakin kalau kamu butuh saya, tapi ternyata saya yang butuh kamu."
"Aku juga butuh kamu, Sena." Dara berujar dengan senyum kecilnya.
Sena mengerjap sesaat, lalu tersenyum. "Saya lebih."
"Aku putus dengan Rama setelah sadar bahwa aku butuh kamu. Kamu yakinkan aku dengan berbagai cara, kamu bilang bahwa kamu utusan semesta. Dan sekarang, kamu adalah alasanku untuk kembali tertawa."
Keduanya saling melempar senyum. Fajar menyingsing di bukit ini, para petani mulai memanen daun teh. Dara menatap Sena yang tengah menikmati pemandangan ini, lesung di pipinya nampak manis sekali.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Semesta untuk Dara [TAMAT]
Novela JuvenilSemesta punya beribu cara agar mampu mengembalikan tawa Dara yang telah lama sirna. Dan salah satu diantara seribu, ada satu yang tak pernah sia-sia, yakni dengan mengirim salah satu manusia bernama Sena. ©2019 dorafatunisa