|3| Pertemuan

55 21 1
                                    

Rapat dadakan semua guru berlangsung sekitar 10 menit yang lalu membuat para murid senang akan bebasnya belajar bahkan diperbolehkan makan di kantin.

Kelas X IPS 2 terletak di lantai 2, pandangan dari kelas tersebut dapat melihat langsung ke arah lapangan.

Suara riuh teriakan para murid perempuan membuyarkan lamunan Pita, dia penasaran dan menengok ke samping melihat lapangan yang sudah penuh dengan orang, bagaimana tidak? kelas XI IPA 1 sedang bermain Volly bersama kelas XI IPS 2, kedua kelas tersebut sangat populer akan kepintaran dan visualisasi wajah di atas rata-rata tapi tidak semuanya.

Pita hanyut melihat para cogan sedang bermain volly. Tapi pandangannya fokus kepada 1 orang lelaki yang membuatnya menarik untuk dilihat.

"Ta kantin kuy" Ucap Tania datang tiba-tiba

"Eh apa?" Pita kaget saat Tania memanggilnya

"Ta kamu kenapa? Kok nangis? Apa aku salah sama kamu? Cerita dong ta jangan kaya gini" Sikap kehebohan Tania memang tidak ada duanya

"Hah, nangis? Kapan? Siapa? Aku?"

"Sekarang, iya kamu kan aku lagi ngomong sama kamu masa sama setan sih?"

"Ada setan? Dimana? Tan aku takut"

"Ya ampun kok jadi setan sih, aku cuma nanya kamu kenapa nangis?"

Pita memegang pipinya dan benar saja dia mengeluarkan air mata di mata kanannya.

"Kok aku nangis?"

"Kan dari tadi aku nanya kenapa kamu nangis, malah balik tanya"

"Nggak tau, nggak kerasa air mata jatuh mungkin kelilipan"

"Udah kaget aku tuh ta"

"Jangan lebay deh, katanya mau ke kantin, btw Mawar mana?"

"Kamu juga lebay! Mawar udah duluan tapi dia ke lapangan katanya mau liat cogan"

Sebelum mereka pergi, Tania melihat ke samping

"Ta!"

"Apalagi Tania?"

"Sini deh" Pita dengan lesu menghampiri Tania

"Itu kan cowok yang kemaren bawa kamu ke uks"

"Mana?"

"Itu" Tunjuk Tania pada seorang murid yang sedang bermain volly, dengan segera Pita mengikuti arah telunjuk Tania untuk melihat cowok tersebut.

Saat melihatnya...

"Itu kan cowok yang aku liatin dari tadi" Ucap Pita dalam hati.

"Oh itu" Hanya ber-oh ria sambil berjalan duluan meninggal Tania, padahal dalam hati dia merasa senang. Senang kenapa? Entahlah dia sendiri juga tidak tahu. Dengan cepat Tania menyusulnya

"Masa oh aja sih, you know dia itu cogan, pinter, jago main musik apalagi buat lagu, inceran para cewek di sekolah ini mungkin dari luar juga banyak, idaman banget deh" Tania sangat antusias mungkin dia juga terhadapnya.

Millions Of Dreams Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang