Chapter 8 : Obrolan Tinju

113 13 26
                                    

Waktu paling sibuk bagi pegawai tempat hiburan adalah di akhir pekan. Para pengunjung berdatangan untuk menikmati waktu luang mereka hanya dengan bermodal ongkos yang lumayan kecil. Tempat ini hanyalah hiburan bagi kaum menengah ke bawah dengan wahana yang bisa dijangkau kantong-kantong mereka. Dengan gemerlap lampu sorot bak madu yang mengundang kawanan lebah untuk mendekat.

Meskipun sudah berpuluh-puluh kali, mereka, Sena dan kawan-kawan menginjakkan kaki di Pantai Losari, pesona deru ombak Losari tetap memesonakan mata. Karena lokasi PM Disney mereka cukup dekat dengan pantai, Sena dan yang lain menyempatkan jalan-jalan siang di pantai. Menghabiskan rokok sambil menikmati matahari tenggelam. BTW, sunset di Losari sangat indah.

"Sepertinya kalian berdua cocok menjadi bodyguard Panji dan Tris. Tidak boleh ada apa pun yang menghalangi jalan kami untuk bersama. Hahaha...," kata Tris sambil menunjuk Sena dan Gun di belakangnya.

"Tris. Ke PD an amat lo. Mbok sekali kali punya harga diri sedikit apa?" ejek Sena.

"Biarin! Kalian tahunya apa?! Huh.. " dumal Tris. Tris malah merangkul lengan Panji makin erat. "Panji. Jangan hiraukan mereka! Anggap saja lalat hijau. "

Cuaca mulai terik saat matahari terasa tepat di atas kepala. Trisni menghampiri Panji yang hanya duduk sedari tadi memandang ombak yang menghantam karang.

"Panji, punya minum ngga? "

"Tidak. " jawab Panji sambil menggeleng. "Ayo, kita cari di dekat parkiran. Disana banyak yang jual cemilan juga. " ajak Panji.

"Yuk! "

Sena dan Gun tak mau ketinggalan. "Tunggu woy!" seru Sena.

Mereka berempat berjalan ke parkiran bersama. Beberapa penjual jajanan berjajar. Menyajikan makanan dan minuman pengganjal perut sementara.

"Tris. Es kamu rasa apa? " tanya Gun.

"Taro. Sama kayak Panji. Hehe.. "

"Dasar tukang tiru!" kata Sena.

"Apa? "

"Lintah. "

"Lintaaahh? Siapa? Siapa?!" Trisni meledak lagi. Sifatnya yang meledak-ledak ini malah membuat Sena semakin usil menggodanya.

"Kamu tu lintah. Nempel terus di Panji. Gak mau copot kalo bukan kemauan sendiri."

'hiiiih'

Tris melempar Sena dengan ciloknya. Tapi karena Sena menghindar, cilok itu malah salah sasaran mengenai orang yang berada di belakang Sena.

"Siapa nih yang lempar?"

"Ma-maaf mas. Nggak sengaja," ucap Tris terbata. Pemuda yang tampaknya mahasiswa itu sedikit kesal karena bajunya kotor dan lengket terkena saos cilok.

"Lain kali hati-hati mbak, makannya! Nggak sopan banget," kata pemuda itu marah.

"Iya mas, maaf," sesal Trisni.

"Kesal tau. Maunya happy malah kena timpuk somay. Siapa nama kamu?? " cowok Mahasiswa itu berkata tegas.

"Tris. "

"Minta nomormu! Biar sewaktu waktu kuhubungi untuk minta pertanggung jawaban!"

"Eh? Nomor?" Trisni berkata bingung.

"Mas mau pesan nomor berapa? "
Panji yang angkat bicara.

"Pesan? Otakmu nggak waras? "

"Maksudnya, Mas mau pesan nomor antrean rumah sakit ke berapa? Oh ya ... Itu kan tergantung seberapa parah cideranya. " kata Panji dingin.

PANJI  (Completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang