Sebuah pengakuan

9.6K 428 101
                                    

Puncak acara haflah akhirussanah Pondok Pesantren Raudlatu Thalibin di laksanakan malam ini. Masyarakat dari berbagai penjuru datang memenuhi area acara. Bagi para alumni moment ini mereka jadikan sebagai ajang lepas kangen dengan teman-teman seangkatannya.

Dibagian luar tepatnya di pinggir jalan menuju pesantren berderet-deret pedangang kaki lima menjajakan dagangannya. Beberapa santri pun ikut andil membuka beberapa stan, menjual hasil karya para santri, mulai lukisan, ukiran, berbagai macam jajanan, kerajinan tangan dan lain sebagainya.

Sesuai janjinya Nadia mengajak Robeth untuk jalan-jalan mengitari stan-stan bazar untuk mencari sesuatu yang diinginkannya. Dua insan beda generasi itu tak sadar jika ada dua pasang mata yang mengawasi setiap gerak gerik mereka dari kejauhan.

"Gadis itu mampu menaklukkan hati siapapun yang berjumpa dengannya. Meski dari luar ia selalu bersikap menjengkelkan bahkan kadang   sedikit garang, tapi pancaran keteduhan dari wajahnya telah mengalahkannya. Dan mungkin juga sampean juga merasakannya, Kang." Sontak Yusuf mengalihkan pandangannya kepada lelaki yang tengah menatap lurus ke arah seseorang yang namanya selalu menjadi candu baginya.

 "Maksudnya gimana, Gus?"

"Bukankah sampean sempet ngisi kelas dia dan berakhir karena suatu kasus?"

Yusuf terdiam, bingung harus menjawab pernyataan gusnya itu gimana. Ia tak menyangka jika pada akhirnya Zaen mendengar perihal kasusnya beberapa bulan lalu itu, padahal ia tak pernah menceritakan. Pun kejadiannya sebelum kepulangan Zaen ke tanah air.

"Wajar saja, Kang. Sampean mungkin orang yang ke seribu yang tertarik kepadanya. Ndak nyangka juga ternyata selama disini selalu bikin heboh. Padahal dulu dia lebih suka aktif di organisasi sama kegiatan ekstra. Jarang bisa diem katanya Syifa." Zaen terkekeh hingga lesung pipitnya terlihat.

'Aku menjadi merasa bersalah, Gus. Jika sedari awal aku menyadari dia adalah orang yang kau cintai tentu saja aku tak akan pernah berani jatuh cinta kepadanya.' Yusuf menghela napasnya pelan.

"Aku juga belum tau bagaimana perasaan dia, Kang, entah kita jodoh atau tidak. Terlebih kabarnya aku harus menikah dengan orang lain."

"Kok bisa, Gus? Tapi masak iya semudah itu sampean akan menikah dengan orang lain?"

"Tradisi pesantren soal perjodohan mengharuskanku untuk  melakukannya. Bisa saja aku menikah dengan siapa pun, tapi untuk melupakan masa lalu dan benar-benar membuang rasa yang sudah mengakar apa mampu? Jika saja bisa mungkin butuh waktu lama." 

Hening. Hanya suara riuh dari para tamu haflah yang terdengar di antara keduanya.

"Ngapunten, Gus, jenengan dipanggil kaleh Abah, ada tamu penting kadose," ucap Fahmi yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.

"Oh, iya terima kasih, Kang."

Zaen pun melangkah kakinya meninggalkan balkon yang menampakkan pesona pemandangan langit malam yang begitu indah.

Fahmi menghampiri Yusuf yang masih saja termenung. Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa ia tengah terlanda kebingungan.

"Kang ada apa?" tanya Fahmi.

"Nadia Hasna itu masa lalunya Gus Zaen. Ah sudahlah ayo ke bawah, sepertinya tamu semakin banyak. Ndak enak kita santai-santai di sini." Yusuf berusaha mengalihkan pembicaraan dan berlalu begitu saja dari hadapan Fahmi. Meninggalkan sebuah rasa penasaran di benak lelaki yang berkulit sawo matang itu.

MAHLIGAI CINTA SANTRI NDALEM Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang