Chapter 19

592 42 1
                                    

Jangan lupa vote, komen ya..

Pelan pelan bacanya..

~•~

Gadis itu akhirnya keluar dari kamar ketika sedari tadi setelah pulang sekolah berdiam diri tidak mau bicara. Dia punya misi untuk menyenangkan dirinya malam ini. Dengan hoodie dan celana beige, dia tampak santai sambil menggendong tas selempangnya.

Dengan senyuman manisnya yang terpampang jelas, dia menghampiri Evelyn dan Adam yang sibuk sendiri membaca buku buatannya.

"Ma, aku ke Pasar Malam dulu ya ma," gadis itu meraih punggung tangan ibunya lalu menciumnya.

Evelyn mengangguk. "Iya, kamu sendirian aja?"

Gadis itu terdiam sesaat. "Hm, iya ma? Kalo papa mau temenin juga boleh!" sahutnya sambil tersenyum--melirik ke arah Adam yang sedang membaca buku.

Evelyn tersenyum dan menoleh ke arah Adam. Dia menghela napas pada suaminya, kenapa tampaknya Adam benci sekali dengan Putri, dia masih heran.

Adam tahu dia diperhatikan, akhirnya dia melirik lalu beralih lagi pada bacaannya. "Pergi sendiri sana," ketusnya.

Hati gadis itu terasa tertusuk. Dia mengangguk--masih dengan wajah ceria. "Oke, aku pergi dulu ya, dadah!" gadis itu melambaikan tangannya sambil berjalan bahagia ke pintu depan.

Evelyn ngenas melihatnya. Dia tersenyum dan melambaikan tangan untuk formalitas tanda kasih sayangnya pada Putri. Lalu beralih menatap Adam dengan tatapan perhitungan.

"Mas!"

"Apa lagi?"

Wanita yang sudah berkepala empat itu menghela napas tidak habis pikir. "Kamu tuh ya! Kenapa sih begitu banget sama anakmu?!" pekiknya kesal.

Adam menutup bukunya dan meletakannya di samping sofa. "Kamu udah tau kan alesannya? Gara-gara tuh anak, naskah saya rusak, saya jadi dianggap tidak profesional oleh penerbit!" terangnya berapi-api.

"Itu udah bertahun-tahun yang lalu mas, Putri masih kecil waktu itu! Kejadian itu juga karena dia kurang kasih sayang dari kita, lagian sekarang kamu udah bisa nerbitin banyak buku 'kan? Apa masih kurang?" tutur Evelyn memelan. Sambil menatap nanar mata Adam, berusaha menerobos masuk ke hatinya.

Adam mengerjapkan matanya dan mengalihkan pandangan. "Terserah kamu," balasnya singkat. Dia tetap gengsi--tidak mau salah, sama seperti beberapa tahun belakangan.

"Dia satu-satunya anak perempuan kamu, kalo dia kenapa-napa karena kamu sebagai ayah gak becus, kamu bakal nyesel!" Evelyn bangkit dan melenggang pergi ke arah kamar. Dia kesal sekali dengan kepala batu milik Adam itu.

~•~

Sengaja kali ini dia ingin naik taksi, supaya nanti di Pasar Malam, dia tinggal berjalan kaki--bersantai sembari menikmati lampu-lampu tumblr yang menerangi jajanan kecil yang berjejer di pinggir kota. Pupil gadis itu membesar ketika melihat dari jendela mobil bagaimana secercah lampu berwarna-warni itu mulai muncul seolah mendekatinya.

"Pak, udah pak sampe sini aja," tuturnya tanpa beralih dari jendela.

Sontak mobil pun berhenti. "Het, dikira saya angkot kali," celetuk supir taksi itu.

"Yes akhirnya sampe," gumam gadis itu seraya membuka safety belt-nya antusias.

"Oh iya pak, nih uangnya." sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas. Dia pun membuka pintu mobil, dan keluar.

Supir taksi itu meraih uanganya. "Woke." tanpa berkata apa-apa lagi, mobil pun pergi.

Pupil gadis itu membesar ketika melihat berapa indahnya malam ini yang dihiasi lampu-lampu kecil berwarna-warni yang seolah ingin menyaingi bintang. Tak lupa dengan kios-kios mini yang berjejer menyajikan berbagai makanan kecil. Bianglala pun tampak kecil dari sini, dia menyembul--menerobos keluar dari siluet pohon yang batangnya dihiasi lampu juga.

Bibirnya tersenyum lebar sampai matanya menyipit. Dia langsung menghampiri stand sosis bakar favoritnya dengan berlari kecil. Ketika sampai di hadapannya, tampak jelas bagaimana mengkilapnya minyak bumbu yang melumuri sosis panas yang sedang terbakar itu. Sontak air liur pun membanjiri lidah Putri.

"Gila, ngiler gue," gumamnya. "bang, beli lima ya!" pesannya dengan antusias.

Penjual itu pun langsung membungkus sosis bakar yang baru saja diangkat dari arang panas dengan bungkus kertas. Setelah selesai Putri meraih makanannya lalu memberikan sejumlah uang untuk membayar.

Aromanya sama seperti dulu, ketika ayah dan ibunya membawa dia ke sini untuk pertama kali. Dia pun berbalik dan lanjut berjalan-jalan sambil menikmati pemandangan ini. Tangan kanannya mengambil satu sosis lalu dia langsung memakan dengan satu gigitan dengan lahap.

"Tuh 'kan! Gila, enak parah nih makanan!" gerutunya senang sendiri.

Saat sedang asik menyunyah, dia melihat bianglala di depannya yang terpampang besar menyala-nyala. Lampu merah, kuning, dan pink yang mendominasi kelap-kelipnya wahana ini, berhasil selalu membuat Putri tertarik untuk menaikinya.

Pupil gadis itu membesar ketika dia mendongak ke atas bagaimana megahnya kelap-kelip lampu-lampu bianglala.

Dia pun tersenyum lalu berlari begitu saja hendak mendekati bianglala tersebut. Namun tiba-tiba ada yang menyelengkatnya, sehingga dia tersungkur jatuh ke arah depan dengan keras.

"Aaakhh!" Gadis itu berteriak kaget plus sakit, membuat orang-orang di sekitar langsung memperhatikannya dengan mata mendelik.

Putri merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit. Dia melirik tangan kirinya yang memegang bungkusan sosis yang baru saja dia beli. Tampak sosis itu baik-baik saja, masih tertutup rapat dengan bungkus kertas yang lumayan kebal. "Untung selamat," gumamnya kecil.

Dia pun langsung bangkit. Dengan wajah marah, gadis itu membersihkan pasir-pasir yang menempel di baju dan telapak tangannya yang tampak terluka.

Setelah selesai, dia berbalik dengan mata mendelik marah. "Siapa sih yang nyelengkat gue!!" pekiknya.

Tiba-tiba muncul satu cowok sambil bersedekap tangan seraya tersenyum sinis ke arahnya. "Gue."

Mata Putri pun melotot kaget dan kakinya otomatis mundur satu langkah.











To be continue

MATSA

Ayo, siapa ya? Jangan-jangaann..


MATSA [ Tamat ] 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang