10. Perjalanan kita

546 90 15
                                    





Taehyung dan Seulgi sekarang berada didalam pesawat. Si pria begitu tenang tapi tidak dengan si wanita. Setelah ia mendudukkan dirinya disamping Taehyung dia langsung memberikan tatapan seolah ingin membunuh Taehyung saat itu juga. Taehyung menggunakan business class yang menurut Seulgi adalah bagian pemborosan yang keterlaluan. Taehyung melihatnya acuh, membuat Seulgi semakin geram. "Kita bahkan bisa memanggil tim ahli lain untuk ikut bersama dengan dana yang kurang dari pengeluaran yang ada sekarang, Kim Taehyung." Ucapnya sinis. "Ini adalah standarku, Seulgi. Kamu seharusnya merasa beruntung dan menikmatinya."




"Bodoh! Aku bukanlah wanita yang suka menghamburkan uang!"

"Dasar pria boros!"

Seulgi tidak peduli jika sekarang ia telah mengatai atasannya. Walaupun ini termasuk dalam perjalanan bisnis, tapi mereka bukan berada didalam kantor. Dia merasa lebih bebas untuk mengeluarkan kejengkelannya terhadap Taehyung.



Seulgi hanya menyerngit melihat Taehyung tersenyum padanya. Satu hal yang jarang dilihatnya setelah menjadi partner kerja. "Terima kasih, Seulgi." Untuk apa berterima kasih? Sungguh, jika ada yang menyuruhnya untuk menebak Taehyung maka yang akan dia lakukan adalah mengibarkan bendera putih. "Untuk apa bilang itu? Kamu harusnya minta maaf bukan terima kasih!" Omel Seulgi lagi. "Pengeluaran kita besar sekali, Taehyung. Baru tiket pergi sudah habis berapa dollar? Belum visa kita, penginapan, transportasi, dan makanan kita selama satu minggu?"




"Iya bodoh aku minta maaf." Tanpa disangka Taehyung mengacak rambut Seulgi. Ini kali pertama Taehyung bersikap seperti ini setelah berbulan-bulan fokus dengan pekerjaan. Gerak spontan itu membuat Seulgi bungkam. Apakah pipi Seulgi sudah merona? Dia merasakan panas di bagian pipi. Jantungnya pun rasanya ingin keluar saat itu juga. Debaran itu membuat dirinya gugup. "Aku jamin tidak akan ada pemborosan dalam perjalanan kita."




"Dan terima kasih karena kamu sudah cerewet seperti ini. Mengingatkan ku jika kamu masih bisa bersikap seperti waktu kita sekolah dulu."






Deg.






Ingin Seulgi menangis saat itu juga. Memukuli Taehyung sekuatnya sambil berteriak tak kauran. Meluapkan amarah yang dipendam sekian lama. Tapi dia sadar tempatnya berada sekarang. Airmata pun keluar tanpa permisi.






Dan Lebih kagetnya lagi Taehyung menangkup pipi Seulgi lalu menghapus airmatanya. Membuat tangis itu pecah seketika. Dia menahan isak tangisnya dengan menutup mulut.





Taehyung langsung pergi ke sebelah dan langsung memeluk Seulgi yang terisak. Untunglah kursi kelas bisnis dalam pesawat itu mampu untuk menampung dua orang. Jujur dalam hati Seulgi ia tidak mau terisak seperti ini. Karena selain mengganggu orang disekitar, dia juga terlihat lemah dihadapan Taehyung. Tetapi ucapan Taehyung barusan sangat menyentuhnya.




***




Seulgi bangun dari tidurnya dan mendapati Taehyung sedang membaca buku. Dia tidak tahu buku apa yang dibaca karena bahasa yang digunakan dalam buku tersebut. Ya, bahasa inggris. Taehyung melihatnya sekilas sebelum mengeluarkan ucapannya. "Sudah agak baikan?" Tanya pria itu dengan mata yang terkunci pada buku. "Mmm.." Balas Seulgi dengan suara serak. "Aku tadi sudah tidur. Tetapi pas aku bangun kamu belum saja bangun. Padahal yang tidur duluan adalah kamu, Seulgi."






"Apakah kamu masih suka dengan kebiasaan tidur seperti beruang di musim dingin?" Mendengar pertanyaan itu Seulgi pun mem-pout-kan bibirnya. "Kerja lembur dikantor ditambah persiapan untuk berangkat membuatku kurang tidur beberapa hari, Taehyung." Taehyung mengentikan aktivitasnya lalu menatap Seulgi dengan ekspresi yang sulit diartikan. Taehyung tersenyum simpul lalu mencubit pipi Seulgi. "Untuk saat ini fokus dengan project kita, hmm?"





Antropologi Rasa | vseulTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang