Emotional part I

44K 3K 96
                                    

Haii haii

Chek dong siapa yang masih melek😂

Absen malam...😂

Kuy lah.. Hasil vote di lapak Imperfect mom adalah Seto Secha..

So... Here it is...

Happy Reading all😍

Vote yang banyakkk😂 (maksa nihh)

Seto menatap luar jendela kamar inapnya dengan tatapan kosong, ia nampak begitu terpukul dengan semua kejadian yang menimpanya.

Fokus Seto teralihkan, saat ia merasakan seseorang mengusap pundaknya,"Sudah le, ora popo, sing ikhlas.. Gusti Allah punya jalan yang lebih baik buat kamu, Secha dan calon cucu ibuk kelak.. Percaya sama ibuk yo..", tutur Ratih begitu lembut.

Seto diam, ia mengusap tangan keriput wanita tua yang telah melahirkannya itu.

"Seto gagal yo buk.. Seto cuma bisa ngrepotin bikin Secha sedih terus..", adu Seto, ia tak pernah selemah ini di depan siapapun, kecuali di depan ibunya, dan itupun sangat amat jarang, atau bahkan kali ini yang paling parah.

Lelaki itu menangis..
Ia menangis, menangisi nasib teragis bayi mungilnya yang lahir prematur dengan kondisi buta, begitu juga dengan kondisi kakinya yang kini kembali memburuk setelah terjatuh kemarin, dan mungkin akan memakan waktu lebih lama untuk bisa sembuh dan kembali normal.

"Anakku buk...", ucap Seto ditengah tangisnya.

"Le.. Percaya sama ibu, cucu ibu pasti bisa sembuh.. kita semua akan berusaha yo.. Kamu harus kuat demi Secha juga..", bisik Ratih sambil memeluk Seto yang kini duduk dikursi roda, ya.. Lelaki itu kini bergantung pada kursi rodanya.

Seto mengangguk patuh, benar kata ibunya, ia tidak boleh lemah! Ia harus kuat demi Secha dan buah hati mereka.

Secha masih belum juga siuman sejak melalui operasi sesar tengah malam tadi.

Seto mengusap tangan kanan Secha yang bebas dari jarum dan selang infus.

"Kamu tau sayang.. Putri kita sangat cantik, sama seperti kamu..", ucap Seto sambil terus mengusap tangan lemas Secha dalam genggamannya.

"Dia istimewa sayang..", bisik Seto dengan suara serak, batinnya selalu saja bersedih kala mengingat bahwa putri cantiknya tidak bisa melihat keindahan dunia ini, kala ia mengingat bahwa mata indah putrinya tak bisa menangkap apapun.

"Maafin mas ya sayang.. Mungkin nanti mas justru akan semakin menambah bebanmu, tapi mas janji akan berusaha sekuat tenaga agar bisa kembali berjalan denan normal.. Mas janji sayang.."

"M-mass..", lenguh Secha dengan suara seraknya.

Seto buru-buru menghapus air matanya dan menyambut Secha dengan senyumannya.

"Kamu haus sayang?", Secha mengangguk, dengan cekatan Seto meraih gelas berisi air putih di nakas dan memberikannya pada Secha.

"Anak kita mas?", tanya Secha was-was, perasaannya mendadak tak enak.

Seto tersenyum, "Anak kita sudah lahir, dia perempuan.. Cantik, sangat cantik.."

Senyum penuh kelegaan menghiasi bibir Secha.

"Biar mas panggilkan dokter dulu ya..", Secha awalnya mengangguk, namun sejurus kemudian tatapannya menelisik.

"Mas? Kenapa mas pakai kursi roda?", tanya Secha khawatir.

Seto terdiam, ia bingung memilah kata apa yang tepat untuk ia sampaikan kepada sang istri, tentang keadaannya, tentang keadaan putri mereka.

Pastilah Secha akan bersedih, atau bahkan mungkin ia malu dengan kondisi suami dan anaknya?

"Mas...", tegur Secha saat Seto melamun.

"Sorry Cha..", lirih Seto.

Lelaki itu kembali menggenggam tangan Secha, "kamu kenapa sih mas?", tanya Secha mulai gemas, karena Seto tak kunjung menjawab pertanyaannya.

"Aku.. Aku harus kemabali mengulang terapiku dari awal.. Dan mungkin akan memakan waktu lebih lama..", sesal Seto, ia tak berani menatap wajah sang istri.

Ia takut secha marah, dan ia sangat takut melihat wajah sedih Secha.

"Maafkan aku cha.."

Batin Seto seolah teremas mendengar Secha menghela nafas panjang.

"Mas..", suara lembut Secha membuat Seto mendongak, terkejutnya ia tak menemukan ekspresi marah maupun kecewa di wajah ayu Secha, justru sebuah senyuman manis dan menghangatkan yang ia terima.

"Mas kenapa harus minta maaf? Kalau memang harus mengulang terapi, tidak masalah.. Secha akan selalu ada disamping mas.. Mas harus tetap semangat ya.. Mas nggak boleh pesimis.", ujar Secha dengan senyum tulus di bibirnya.

Sungguh ia tak apa, ia justru amat sangat khawatir, namun ia tau, bukan saatnya ia menunjukan ekspresi khawatir, karena ia tak ingin membuat Seto semaki  merasa bersalah. Ia tau yang Seto butuhkan adalah sebuah dukungan, bukan rasa kasihan.

Seto tak kuasa menahan tangisnya,"Thank you Cha.. Beruntungnya aku memiliki istri sebaik kamu.. Aku janji Cha.. Aku janji akan selalu buat kamu bahagia... Aku janji.."

CUT😋

Kalau mau lanjut klik bintang yang buanyaakk

(un)Loved Wife [END/COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang