Duniaku berputar ketika menyadari sesuatu mendarat di bibirku. Sesuatu yang hangat, hingga seolah merasuk ke sumsum tulang.
Aku meleleh.
Namun itu hanya beberapa detik. Arga segera menarik tubuhnya ketika terdengar suara ketukan di jendela mobil.
Dengan perasan linglung, aku melihat siapa di balik jendela. Kellen! Ia terus mengetuk-ngetuk kaca, sementara Arga kelihatan frustasi. Rasa kagetnya akan tindakannya barusan terhadapku masih bersisa. Ia berkali-kali melirikku gugup. Sementara Kellen terus mendesak.
Akhirnya, Arga membuka pintu mobilnya, dan terpaksa menghadapi Kellen yang terlihat marah. Aku sedikit bergidik. Laki-laki jika cemburu, jauh lebih menyeramkan dari wanita. Nekat sekali Kellen mengintervensi kami. Bukannya menjauh, ia malah ngotot memisahkan aku dan Arga.
Aku mencoba mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.
"Ada apa lagi, Kellen?"
"Please, Arga. Jangan berbuat seperti itu. Aku tahu kamu masih..."
"Stop. Aku sudah memilih kehidupanku, Kellen," Arga berkata tegas.
Apa? Arga ternyata benar-benar sudah memutuskan untuk berubah haluan? Tak dapat kupungkiri, aku teramat senang.
"Lalu kenapa kemarin-kemarin kau masih menghubungiku? Kau cemburu aku bersama seorang wanita ketika bertemu denganmu?"
Arga diam dan membuang pandang. Kata-kata Kellen menyapu bersih rasa senangku tadi. Jadi Arga sempat menghubungi Kellen setelah kami bertemu dengannya di mal?
Aku tak suka. Benar-benar tak suka. Rasanya seperti seorang istri yang mengetahui jika suaminya masih menghubungi mantan pacar.
Bodoh sekali, memang seperti itu adanya. Bagaimanapun, aku dan Arga suami istri. Seharusnya laki-laki itu, Kellen, tidak berhak mengintervensi kami seperti ini. Sama sekali tak berhak mengetuk-ngetuk jendela dan menuntut Arga untuk tidak mengabaikannya.
Apakah aku harus mengambil tindakan?
Tidak, Sofia. Kendalikan dirimu. Jangan karena kejadian tadi, perasaanmu lantas terombang-ambing! Biarkan itu tetap menjadi urusan mereka seperti yang kalian sepekati dari awal!
Aku menggeleng-gelengkan kepala mencoba berusaha mengembalikan kewarasan. Sementara masih terdengar mereka bertengkar."Ikutlah denganku ke Amerika. Disana kita bisa bersama."
Ya Tuhan, aku ingin menutup telingaku. Gatal sekali telingaku ini. Jika mendengar lebih banyak lagi aku pasti akan muntah. Namun rasa penasaran mengalahkan segalanya.
"Tidak, Kellen. Mohon mengertilah. Aku sudah punya kehidupan yang lebih baik. Kita tidak seharusnya seperti ini. Apa yang kita lakukan salah."
"Lalu mengapa kau bersedia bersamaku selama lima tahun? Lima tahun! Sekarang aku sulit bernapas, kau tahu? Bagaimana kau akan bertanggung jawab akan hal ini?"
"Lupakan aku, Kellen. Yang kita lakukan salah."
Jeda lama sekali. Hingga akhirnya bulu kudukku sedikit meremang mendengar ucapan Kellen.
"Aku tahu kau tak akan mungkin bisa mencintai wanita itu. Aku tahu kau hanya mencintaiku. Aku bersedia menunggumu hingga kau kembali."
Oke, fix aku mual. Tidak bisa kulanjutkan kegiatan menguping ini lagi. Arga, Arga. Kau telah terjebak dalam lingkaran setan. Apakah aku sanggup menarikmu keluar?
Ya Tuhan, apa yang akan kulakukan?
"Selamat tinggal, Kellen."
Arga membuka pintu, melemparkan diri pada jok, lalu mulai menginjak pedal gas dalam posisi mundur. Tak lama mobil pun menderu kasar meninggalkan Kellen yang masih terlihat belum puas.

KAMU SEDANG MEMBACA
She or He? (Telah dinovelkan)
RomanceBagaimana jadinya bila seorang wanita menikah dengan seorang gay? Sofia, seorang pemilik WO terkenal, menikahi Arga yang juga bekerja di bidang pernikahan. Namun sedari awal, Arga sudah berterus terang pada Sofia jika ia adalah gay. Sofia tetap maju...