Warning !!!
Cerita mengandung banyak unsur kata kasar dan prilaku yang tak patut di contoh. Mohon bijak dalam menanggapi cerita karena ini hanya fiksi belaka. Tidak disarankan mengambil sikap negatif yang terdapat dalam alur cerita ini. Sekali lagi mohon kerja samanya. Terima kasih.***
**
*Angin sejuk berhembus menerpa wajah kecil pria yang duduk di halte bis, matahari baru saja menenggelamkan dirinya. Bukan warna jingga lagi yang menghiasi langit, lampu jalanan mulai menggantikan sang mentari menyinari setiap tempat.
Semakin gelap, cuaca mulai tak bersahabat, sebentar lagi musim akan berganti. Tubuh kurusnya memeluk diri sendiri dengan erat, matanya melirik arloji yang ia genggam. Ia mulai tak tahan dengan angin yang terus berhembus, tubuhnya kelelahan, ia baru saja pulang dari pekerjaannya. Ia ingin istirahat dan menikmati malam tenangnya.
"Dingin" pria itu meringkuk memeluk lututnya, kulit halusnya terlihat kedinginan, iris ungunya memejam, pipinya mulai memerah. Entah kenapa wajah cantik itu terlihat mempesona, bagaimana seorang pria bisa menunjukkan aura seperti itu.
"Izana?" tak sadar sedari tadi seorang pria bersurai hitam menatap Izana dalam diam. Izana menoleh, ia sedikit terkejut melihat pria di depannya, membenarkan posisinya berhadapan dengan pria itu.
"Kakucho? Apa yang kau lakukan disini?" yang di tanya menggaruk tengkuk kebingungan, sejujurnya ia juga tak mengerti mengapa bisa bertemu Izana di tempat seperti itu. Namun ia tahu Izana baru saja menyelesaikan pekerjaannya, bercak merah di leher tak dapat lagi di sembunyikan, mata seindah anggrek kesukaannya terlihat kelelahan, tubuh itu menginginkan istirahat.
Kakucho menunduk, matanya memejam dan mengepal erat tangannya, mengambil napas dalam sebelum berbicara.
"Hehe tadinya aku sedang mencari alamat temanku, tapi entah kenapa malah kebingungan dan begitulah ..."
Bohong. Kakucho tidak kemari untuk alasan konyol. Bohong, Kakucho tidak ingin bertemu orang lain. Bohong, ia tidak sebodoh itu. Ia terus berbohong demi Izana, dari awal tujuannya memang si pria manis.
"Dasar bodoh, perbaiki kebiasaan burukmu" netra ungu itu melirik Kakucho, setidaknya ia masih punya tenaga untuk mengejek Kakucho.
"Iya, iya hehe. Kalau begitu besok saja ke rumah temannya, bagaimana kalau kau ke rumahku?" Izana hanya terkekeh geli.
Selalu seperti ini, ketika dirinya ingin menyerah pria jangkung di depannya sekarang selalu membuat Izana ingin hidup lebih lama.
Mereka sudah bersahabat lama, tapi dari dulu tak pernah ia melihat Kakucho menyerah. Berbeda dengan dirinya, walaupun Kakucho sering mengeluh tapi dia selalu menyelesaikan semua masalah. Berbeda dengan dirinya, Izana selalu merasa hanya lari, lari dan terus lari.
Kakucho mendorong kenop pintu, mempersilahkan Izana masuk ke dalam rumahnya. Biasanya akan ada pelayan yang membuka pintu, tapi jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kakucho hanya memerintahkan mereka bekerja sampai jam sembilan malam, jadi sekarang ini mereka mungkin sudah tidur di kasur masing-masing.
Sang pemilik rumah melangkahkan kakinya menuju dapur, perutnya sudah mengeluarkan bunyi yang menggangu pendengaran, pasti sahabat kecilnya itu juga kelaparan, jadi Kakucho memutuskan membuat makanan untuk keduanya.
"Izana sebaiknya mandi dulu, aku akan menyiapkan makanan. Kau bisa memakai kamar kosong yang ada di sebelah kamarku" Kakucho tersenyum lembut, entah kenapa senyuman itu jadi kegemaran Izana ketika melihatnya, rasanya semua penat yang ada di tubuhnya terangkat dalam sekejap.
Kakucho memberi arahan kalau letak kamarnya tak jauh dari pintu masuk. Si surai putih hanya mengangguk meninggalkan pemilik rumah melakukan tugasnya.
"Kenapa kau masih melakukannya" tak lama setelah Izana pergi senyuman lembut itu menghilang, sorot matanya menunjukkan kesedihan dan amarah. Wajahnya terus menunjukkan raut seperti itu sembari memasak makanan.
Kakucho dan Izana adalah sahabat dekat ketika masih di panti asuhan dulu, Izana selalu menjaga Kakucho seperti adik kandungnya sendiri, Kakucho sangat merindukan masa-masa itu. Senyuman, tatapan kesal jika Kakucho menjahilinya, dan tawa manis kesukaan Kakucho. Semua lenyap dalam sekejap ketika ia di adopsi oleh sepasang suami istri kaya, yang membuat dirinya mau tidak mau harus berpisah dengan Izana.
Setelah menyelesaikan pendidikan dan pekerjaannya di luar negeri Kakucho memutuskan untuk kembali dan mencari Izana, namun semuanya seakan sudah terlambat. Setelah kepulangannya, ia bertemu Mucho teman sekolahnya dulu, Mucho mengatakan selama ini dirinyalah yang menjaga Izana, hidup pemuda itu hancur ketika ia di adopsi.
Ayahnya kejam, pemabuk dan ibunya yang gila akan harta. Bukan hal aneh jika tubuh itu tak pernah sembuh dari luka lebam, bukan hal baru mata ungu itu menangis setiap malam, tak ada hari tanpa rasa sakit, terus menerus seperti itu hingga ia lulus sekolah menengah. Ayahnya mati keracunan obat-obatan, ibunya semakin tidak waras, menyiksa lalu memperkosanya, dan menjual Izana ke pemilik bar. Izana tak menolak, lebih baik menjauh dari keluarga malapetaka ketimbang terluka setiap hari.
Tak disangka si pemilik bar adalah teman sekolah mereka dulu, bukannya memilih lari saat ditawarkan keselamatan, Izana malah meminta pada Mucho ingin berkerja sebagai gigolo di bar miliknya. Tubuh indah yang selalu Kakucho puja-puja dijamah dengan mudahnya oleh orang yang tak pernah ia kenal.
Kakucho tak sanggup. Ia sangat membenci takdir buruk yang menimpa pujaan hatinya. Pria keren yang selalu ia puja sebagai raja dan akan selalu begitu.
Usai menyiapkan makan malam, mereka melahap makanan dengan suasana canggung. Izana merasa tak enak karena di pertemuan ini ia sangat kacau, dan masih belum bisa menjelaskan apapun pada Kakucho.
Bisa-bisa Kakucho mati tersedak karena ia bercerita tentang kehidupan kacaunya.
"Ngomong-ngomong mau tinggal di sini?"
Izana membelalak, tawaran Kakucho barusan bukanlah sebuah candaan?
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Izana tanpa menatap mata pria di depannya.
"Sejujurnya aku merindukan tinggal bersamamu, maaf membuatmu terkejut dengan perkataanku. Tak usah dipikirkan"
Bibir indah itu tersenyum simpul, Kakucho memang tak berubah di matanya. Masih lugu dan terus terang terhadap perasannya sendiri.
"Kalau untuk tinggal mungkin aku belum bisa, tapi bagaimana kalau aku menginap malam ini ?" iris ungu itu melirik ke arah Kakucho, bulu mata lentik dan senyuman menggodanya amat mempesona, kalau boleh jujur menurut pemikiran Kakucho, Izana itu adalah pria cantik yang sangat keren.
"Boleh"
Keduanya tertawa kecil, lalu kembali melanjutkan acara makan malam dengan tenang.
Terbesit sebuah ide gila dalam benak Izana, kali ini ia ingin memonopoli Kakucho lebih lama, mungkin Kakucho akan sedikit terkejut nantinya, tapi biarlah, Izana sangat ingin mendapatkan pria bersurai hitam itu.
Seusai menyantap makan malam, mereka melanjutkan kegiatan dengan menonton film, ditemani beberapa kaleng bir dan camilan. Duduk di sofa sembari menyandarkan kaki di meja, Izana memang tak pernah berubah, Kakucho sama sekali tak terganggu dengan sikap si kulit tan, ia malah jadi bernostalgia.
"Tidak mengantuk?" tanya Kakucho saat Izana mulai menggosok sebelah matanya.
"Sangat. Aku sangat lelah" ujarnya sembari menyandarkan kepala di bahu Kakucho.
"Tidurlah"
Kakucho membencinya, bekas kissmark yang mengintip dari balik kerah amat mengganggu indra penglihatannya. Hatinya seolah dicubit keras, ingin marah namun tak dapat berbuat apa-apa.
Dilepasnya kacamata, mengusap surai putih itu lembut kemudian mengecup pelan.
"Maafkan aku Izana. Tunggulah sebentar lagi, aku akan membebaskanmu dari mimpi buruk ini" gumam Kakucho.
.
.
Bersambung ...
07/11/2021Sebenernya greget up karena udah lama disimpen di draf.
Lanjutkah ?

KAMU SEDANG MEMBACA
Finale [Kakuiza ft. Hankisa]✔
Fanfic[Tamat] Bagaimana jika Izana, sang gigolo yang selalu memuaskan, dan mendominasi pelanggan wanitanya ditaklukan oleh seorang pria penurut yang merupakan sahabatnya sendiri. Kakucho hanya ingin membebaskan 'rajanya' dari mimpi buruk dan kembali bers...