Author's POV
Eunsang hanya duduk termangu pada bangku yang ada di taman rumah sakit. Setelah meluapkan tangisannya tadi, ia hanya bisa diam.
"Eunsang-ah...", ujar seseorang yang kemudian duduk di sebelah Eunsang.
"Eo, Yunseong hyung.", jawab Eunsang pelan.
"Aku sudah mendengarnya dari eomma dan appa. Kau tahu, kami sama frustasinya denganmu.", lirih Yunseong.
"Aku tahu hyung. Maafkan aku.", balas Eunsang.
"Tidak apa. Begitulah besarnya perasaanmu pada Junho.", Yunseong tersenyum tipis pada Eunsang.
"Kau tahu? Junho dulunya adalah anak yang sangat ceria. Sejak orangtua kami bercerai, hidupnya seakan runtuh seutuhnya. Orang-orang lebih sering memanggilnya robot. Awal kembali ke Seoul pun dia sangat diam dan hanya ngomong pada orang-orang tertentu saja. Tapi perlahan-lahan dia mulai membuka diri pada teman-temannya di sekolah. Eunsang-ah, aku ingin berterimakasih karena kau menjadi salah satu alasan naik-turunnya mood Junho selama ini.", Yunseong terkekeh kecil.
"Maksudmu hyung?", tanya Eunsang tidak mengerti.
"Junho jadi lebih ekspresif tiap kali membicarakanmu. Kurasa dia benar-benar nyaman berada di sampingmu.", ujar Yunseong lagi membuat sebuah senyum tipis mengambang pada wajah Eunsang.
"Justru aku yang berterimakasih bisa bertemu dengan Junho. Meski aku tidak mengerti apa yang diinginkan takdir ketika membuat Junho terbaring tak sadarkan diri seperti saat ini.", Eunsang menatap sendu pepohonan di depannya.
"Eunsang-ah, aku percaya segala sesuatu terjadi dengan maksud tertentu. Tidak ada yang terjadi tanpa alasan yang jelas. Semuanya sudah diatur, jangan menyalahkan takdir. Yang perlu kita lakukan saat ini hanyalah berdoa dan berharap Junho bisa segera bangun.", Yunseong menepuk bahu Eunsang dan memberi sebuah senyuman pada Eunsang.
Yunseong benar, jika keluarga Junho bisa tetap tegar menghadapi ini, apa alasan baginya untuk menyerah? Tidak. Eunsang tidak akan menyerah. Ia yakin, Junho akan segera bangun.
Mereka kembali ke kamar rawat Junho mendapati Jungwon yang sedang duduk di samping putranya, Junho.
"Kemana appa?", tanya Yunseong.
"Appa ada jadwal yang tidak bisa ditinggal.", jawab Jungwon dengan senyuman tipis.
"Eunsang-ah, kau mau duduk disini?", tanya Jungwon kemudian melihat Eunsang. Eunsang hanya mengangguk pelan kemudian berjalan ke arah kursi di sebelah kasur Junho dan duduk disana setelah Jungwon berdiri.
"Imo-nim, maafkan aku. Tidak seharusnya aku marah seperti tadi.", ucap Eunsang.
"Panggil eomonim saja Eunsang-ah, dan kami mengerti. Wajar jika kau marah. Kami juga sama marahnya denganmu.", Jungwon mengacak pelan rambut Eunsang.
"Tetap saja, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu.", sesal Eunsang. Jungwon hanya mengelus pelan bahu Eunsang, mengerti bagaimana perasaan anak laki-laki di sampingnya itu.
Eunsang menggenggam tangan Junho kembali. Tangan Junho masih tetap dingin. Ia merindukan hangatnya tangan Junho yang biasa ia genggam. Ia mengelus pelan punggung tangan Junho seolah berusaha menghangatkannya.
"Kumohon, cepatlah sadar Junho-ya. Kami merindukanmu.", lirik Eunsang yang membenamkan wajahya dengan genggaman tanganya dan Junho.
"Eugh...", sebuah lirihan terdengar membuat Jungwon, Yunseong dan Eunsang terkejut dan segera melihat ke arah sumber suara tersebut.
Ya, suara itu berasal dari Junho.
"Junho-ya!", panggil Eunsang. Tanpa menunggu lagi, Yunseong langsung berlari keluar dan memanggil perawat yang bertugas.

KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Beautiful Encounter [Lee Eunsang x Cha Junho] | Junsang AU
Fanfiction"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa belum pulang?", tanya Eunsang pada Junho. "A-aku sedang menunggu hyungku.", Junho menjawab Eunsang. Apakah ini deja vu? Takdir harus memisahkan mereka. Tetapi waktu mempertemukan mereka kembali. Apakah mungkin b...