Aku terbangun sambil merasa bahwa tubuhku masih terbakar. Kulitku perih. Kerongkonganku terasa sekering pasir.
Aku melihat langit biru dan pepohonan di atasku. Aku mendengar air mancur berdeguk, dan mencium juniper dan cedar dan berbagai tumbuhan beraroma manis lain. Aku mendengar ombak juga, dengan lembut berdebur di pantai yang berbatu. Aku bertanya-tanya apa aku sudah mati, tapi aku tahu lebih baik. Aku sudah pernah pergi ke Negeri Orang Mati, dan di sana tak ada langit biru. Aku mencoba duduk tegak. Ototku rasaya meleleh.
"Tetaplah diam," kata suara seorang gadis. "Kau terlalu lemah untuk bangun."
Dia menghamparkan kain dingin di keningku. Sendok perunggu melayan di atasku dan cairan diteteskan ke dalam mulutku. Minuman itu menyamankan kerongkonganku dan meninggalkan rasa hangat cokelat setelahnya. Nektar para dewa. Lalu wajah si gadis muncul di atasku.
Dia punya mata berbentuk buah badam dan kepangan rambut sewarna karamel di atas salah satu bahu. Umurnya ... lima belas? Enam belas? Sulit ditebak. Dia punya wajah yang tampaknya tidak lekang dimakan usia. Dia mulai menyanyi, dan rasa nyeriku menghilang. Dia sedang melakukan sihir. Aku bisa merasakan musiknya terbenam ke dalam kulitku, menyembuhkan dan memperbaiki luka bakarku.
"Siapa?" kuakku.
"Ssst, Pemberani," katanya. "Beristirahatlah dan pulihkan dirimu. Takkan ada bencana yang menimpamu di sini. Aku Calypso."
Kali berikutnya aku terbangun aku berada di dalam gua, tapi menurut standar gua, aku sudah pernah masuk ke gua yang lebih parah. Yang ini langit-langitnya berkilau berkat formasi kristal beraneka warna—putih dan ungu dan hijau, seakan aku berada dalam salah satu potongan batu vulkanik yang kaulihat di toko suvenir. Aku berbaring di ranjang yang nyaman dengan bantal isi bulu serta selimut katun putih. Ada mesin tenun besar dan harpa yang tersandar di salah satu dinding. Di dinding lain tersandarlah rak-rak yang ditumpuki toples-toples awetan buah yang tertata rapi. Tanaman obat yang dikeringkan tergantung dari langit-langit: rosemary, thyme, dan lain-lain. Ibuku pasti bisa menyebutkan nama semuanya.
Ada perapian yang dibangun dalam salah satu dinding gua, dan kuali yang berbuih di atas api. Baunya lezat, mirip semur daging.
Aku duduk tegak, mencoba mengabaikan rasa sakit yang berdenyut-denyut di kepalaku. Aku melihat tanganku, yakin bahwa akan ada bekas luka mengerikan, tapi lenganku tampak baik-baik saja. Sedikit lebih merah jambu daripada biasanya, tapi tidak parah. Aku mengenakan T-shirt katun putih dan celana serut katun putih yang bukan milikku. Kakiku telanjang. Panik sesaat, aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada Reptide, tapi aku meraba-raba sakuku di sanalah bolpenku, tepat di tempatnya selalu muncul kembali.
Bukan cuma itu, tapi peluit anjing es Stygia kembali ke sakuku juga. Entah bagaimana peluit itu telah mengikutiku. Dan itu tak terlalu membuatku nyaman.
Dengan susah payah, aku berdiri. Lantai batu dingin membekukan di bawah kakiku. Aku menoleh dan mendapati diriku sedang menatap cermin perunggu mengilap.
"Demi Poseidon," gumamku. Beratku, yang tak bisa turun-turun, kelihatannya sudah berkurang sepuluh kilogram. Rambutku seperti sarang tikus. Tepi rambutku hangus seperti jenggot Hephaestus. Kalau aku melihat wajah itu pada seseorang yang berjalan menyusuri persimpangan jalan untuk minta-minta uang, aku pasti akan mengunci pintu mobil. Aku berpaling dari cermin. Pintu masuk gua ada di kiriku. Aku menuju ke cahaya matahari siang hari.
Gua terbuka ke padang rumput hijau. Di kiri ada kebun pohon cedar dan di kanan ada taman bunga besar. Empat air terjun berdeguk di padang rumput, masing-masing meluncurkan air dari pipa batu berbentuk satir. Tepat di depan, rumput melandai ke pantai berbatu. Ombak di danau menyapu bebatuan. Aku bisa tahu kalau itu danau karena ... yah, pokoknya bisa. Air tawar. Bukan air garam. Matahari berkilau di permukaan air, dan langit biru jernih. Tampaknya seperti surga, yang seketika membuatku gugup. Setelah berurusan dengan mitologi-mitologia selama beberapa tahun, kau akan belajar bahwa surga biasanya adalah tempat kau terbunuh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Adventures of Demigod #4 (k-idol)
AdventureJimin pindah sekolah (lagi!)... tapi kali ini lebih parah, ketika orientasi murid baru, Jimin sudah bikin kekacauan. Belum-belum Jimin sudah berhadapan dengan monster yang menyamar jadi cheerleader. Dan Jimin pun sebenarnya sudah kehabisan waktu, p...