16. Aku Membuka Peti Mati

108 36 1
                                    

Melompat ke luar jendela setinggi 150 meter dari permukaan tanah biasanya bukanlah bayanganku soal bersenang-senang. Terutama saat aku mengenakan sayap perunggu dan mengepak-ngepak lenganku seperti bebek.

Aku terjun bebas ke arah bukit dan batu-batu merah di bawah. Aku cukup yakin aku bakal menjadi setitik noda di Taman Para Dewa, saat Seulgi berteriak dari suatu tempat di atasku, "Rentangkan lenganmu! Lalu luruskan lenganmu!"

Bagian kecil dari otakku yang tak dicekam rasa panik mendengarnya, dan lenganku merespons. Segera setelah aku merentangkan lenganku, sayap yang kukenakan menjadi kaku, menangkap angin, dan kecepatan jatuhku melamban. Aku melayang ke bawah, tapi dengan sudut terkendali, seperti layang-layang yang sedang meluncur ke bawah.

Aku coba-coba mengepakkan lenganku sekali. Aku menukik ke angkasa, angin bersiul-siul di telingaku.

"Yeah!" teriakku. Perasaan ini tak dapat dipercaya. Setelah berhasil menguasainya, aku merasa seolah sayap itu adalah bagian dari tubuhku. Aku bisa melayang dan menukik dan terjun ke mana pun yang kuinginkan.

Aku berbalik dan melihat teman-temanku-Rose, Seulgi, dan Jungkook-berputar-putar di atasku, memincingkan mata menghalau sinar matahari. Di belakang mereka, asap membubung dari jendela bengkel kerja Daedalus.

"Mendarat!" teriak Seulgi. "Sayap ini tidak akan bertahan selamanya."

"Berapa lama?" seru Rose.

"Aku tak mau mencari tahu!" kata Seulgi.

Kami menukik ke bawah menuju Taman Para Dewa. Aku melakukan putaran sempurna di sekeliling salah satu batu yang menjulang dan menakuti beberapa orang pendaki. Lalu kami berempat melayang menyeberangi lembah, di atas jalanan, dan mendarat di teras sebuah pusat pengunjung. Saat itu sudah sore dan tempat itu kelihatannya lumayan kosong, tapi kami mencopot sayap kami secepat yang kami bisa. Melihat sayap-sayap itu, bisa kulihat bahwa Seulgi benar. Segel perekat yang melekatkan sayap ke punggung kami sudah meleleh, dan kami telah merontokkan bulu-bulu perunggunya. Sayang sekali, tapi kami tidak bisa memperbaikinya, dan tidak bisa meninggalkannya untuk para manusia fana, jadi kami menjejalkan sayap-sayap itu ke tempat sampah di luar kafetaria.

Aku menggunakan kamera binokular wisatawan untuk melihat bukit tempat bengkel kerja Daedalus berada, tapi bengkel itu sudah lenyap. Tidak ada asap lagi. Tidak ada jendela yang pecah. Yang tampak hanyalah sisi sebuah bukit.

"Bengkel kerja sudah pindah," tebak Seulgi. "Entah ke mana."

"Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?" tanyaku. "Bagaimana kita kembali ke dalam labirin?" Seulgi menatap ujung Puncak Pikes di kejauhan. "Mingkin kita nggak bisa. Kalau Daedalus tewas ... dia bilang daya hidupnya terikat dengan Labirin. Semuanya mungkin hancur. Mungkin itu bakal menghentikan penyerbuan Taemin."

Aku memikirkan Grover dan Tyson, masih ada di suatu tempat di bawah sana. Dan Daedalus ... meskipun dia pernah melakukan hal-hal buruk dan membahayakan semua orang yang kusayangi, cara mati seperti itu tampaknya cukup mengerikan.

"Tidak," kata Jungkook. "Dia belum mati."

"Bagaimana kau bisa yakin?" tanyaku.

"Aku tahu saat orang mati. Aku mendapat firasat seperti ada dengungan di telingaku."

"Bagaimana dengan Tyson dan Grover, kalau begitu?"

Jungkook menggelengkan kepalanya. "Itu lebih susah. Mereka bukan manusia atau blasteran. Mereka tidak punya jiwa fana."

"Kita harus ke kota," Seulgi memutuskan. "Kesempatan kita untuk menemukan pintu masuk ke Labirin bakal lebih bagus. Kita harus sampai kembali ke perkemahan sebelum Taemin dan pasukannya."

Adventures of Demigod #4 (k-idol)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang