17. Dewa Yang Hilang Berbicara

102 37 0
                                    

Kami lari sampai kecapekan. Rose mengarahkan kami menjauhi jebakan-jebakan, tapi kami tidak punya tujuan tertentu dalam benak kami—semata menjauhi gunung gelap dan raungan Kronos.

Kami berhenti di terowongan yang terbuat dari batu putih basah, seperti bagian dari gua alam. Aku tidak bisa mendengar apa-apa di belakang kami, tapi aku tak merasa lebih aman. Aku masih bisa mengingat mata keemasan tak wajar yang menatap dari wajah Taemin, dan perasaan bahwa kakiku pelan-pelan berubah jadi batu.

"Aku nggak bisa pergi lebih jauh lagi." Rose tersengal-sengal, memeluk dadanya.

Seulgi mengangis sepanjang waktu saat kami berlari. Sekarang dia terjatuh dan meletakkan kepalanya di antara lututnya. Isakannya bergema di terowongan. Jungkook dan aku duduk bersebelahan. Jungkook menjatuhkan pedangnya di samping pedangku dan menarik napas dengan gemetar.

"Sial," katanya, yang menurutku merangkum segalanya dengan cukup baik.

"Kau menyelamatkan hidup kita," kataku.

Jungkook mengelap debu dari wajahnya. "Salahkan cewek-cewek karena menyeretku ikut mereka. Itulah satu-satunya hal yang bisa mereka sepakati. Kami harus membantu atau kau bakal mengacau."

"Senang sekali kalian sepercaya itu padaku." Aku menyorotkan senterku ke seberang gua. Air menetes dari stalaktit-stalaktit seperti hujan yang bergerak lambat. "Jungkook ... sepertinya, eh, kau membongkar identitasmu."

"Apa maksudmu?"

"Dinding batu hitam itu? Lumayan keren. Kalau Kronos tidak tahu siapa kau sebelumnya, dia pasti tahu sekarang—anak dari Dunia Bawah."

Jungkook mengerutkan kening. "Bukan masalah besar."

Aku tidak meneruskan pembicaraan. Kurasa dia mencoba menyembunyikan betapa takutnya dia, dan aku tidak bisa menyalahkannya.

Seulgi mengangkat kepalanya. Mataya merah karena menangis. "Apa ... apa yang salah dengan Taemin? Apa yang mereka lakukan padanya?"

Kuberi tahu dia apa yang kulihat dalam peti mati, bagaimana potongan terakhir jiwa Kronos memasuki badan Taemin saat Yuta Nakamoto bersumpah melayaninya.

"Nggak," kata Seulgi. "Itu nggak mungkin benar. Dia nggak mungkin—"

"Dia menyerahkan dirinya pada Kronos," kataku, "Aku ikut sedih, Seulgi. Tapi Taemin sudah tiada."

"Nggak!" Dia berkeras. "Kau lihat waktu Rose melemparinya."

Aku mengangguk, memandang Rose dengan hormat. "Kau melempari mata Raja Titan dengan sikat rambut plastik biru."

Rose terlihat malu. "Cuma itu barang yang kupunya."

"Tapi kau lihat," Seulgi berkeras. "Waktu sikat itu menabraknya, sedetik saja, dia terbengong-bengong. Dia kembali sadar."

"Jadi mungkin Kronos nggak sepenuhnya mendiami badannya, atau apalah," kataku. "Bukan berarti Taemin-lah yang mengendalikan."

"Kau ingin dia jadi jahat, begitu ya?" teriak Seulgi. "Kau nggak kenal dia sebelumnya, Jimin. Aku kenal!"

"Ada apa dengamu?" bentakku. "Kenapa kau terus-terusan membelanya?"

"Tenanglah kalian berdua," kata Rose. "Jangan bertengkar."

Seulgi menoleh padanya. "Jangan ikut campur, Cewek Fana! Kalau bukan karenamu ...."

Apa pun yang akan dikatakannya, suaranya terputus. Dia menundukkan kepalanya lagi dan terisak dengan sengsara. Aku ingin menenangkannya, tapi aku tidak tahu caranya. Aku masih merasa linglung, seolah efek pelambat-waktu Kronos sudah memengaruhi otakku. Pokoknya aku tak bisa memahami apa yang kulihat. Kronos sekarang hidup. Dia bersenjata. Dan kiamat mungkin sudah dekat.

Adventures of Demigod #4 (k-idol)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang