Part 8. Retak

345 74 8
                                    

Third membanting ponselnya ke atas kasur. Ia mengacak rambutnya prustasi. Porsche yang ditelponnya dari tadi tidak mau mengangkat telponnya. Otaknya benar-benar kalut. Bayangan Sarina dan teman-temannya selalu saja menghantui. Ia tak pernah menyangka semuanya akan serumit ini. Harusnya teman-temannya tidak mengetahuinya yang telah terlanjur menyatakan perasaan pada Sarina yang justru menolaknya mentah-mentah.

Temen-temen gue? Atau Sarina yang jelas nolak gue? Tapi, gue udah cinta sama dia, gimana dong?

Third menyambar jaketnya dan berlari ke luar dari kamarnya. Tempat yang ditujunya sekarang adalah rumah Porsche. Berharap dia ada di rumah dan Third bisa menjelaskan semua yang terjadi.

******

"Aaaaaakh! Kenapa dia nggak ada di rumah sih?" Third menendang pintu rumah Porsche. Hal biasa baginya. Sudah dari tadi ia memanggil Porsche, tapi tak ada sahutan.

Third mengacak rambutnya prustasi. Ia mengambil ponselnya. Dan Third kaget ada notifikasi dari Porsche.

Porsche Raja Buli: Kalau lo masih mau sahabatan sama kita, lo harus lupain Sarina. Cuma itu jalan ke luarnya. Ingat lo harus hati-hati sama cewek cupu. Gue sebenernya takut lo dikhianati kayak Kakak gue dulu.

Third menghela napasnya. Ucapan Porsche ada benarnya. Sarina cupu, tapi sebenarnya dia itu seperti gadis biasa lainnya. Lalu, haruskah ia harus melepas Sarina?

Third menggeram. Dengan perasaan kesal ia mengirim pesan pada Porsche.

Third LN: Lo sekarang di mana?

Beberapa menit kemudian masuk balasan dari Porsche.

Porsche Raja Buli: Lo nggak perlu tahu. Lo selesain dulu masalah lo itu. Ingat hanya dua pilihan. Dua pilihan itu ada di tangan lo.

Oke, jika itu mau lo. Gue ambil pilihan yang menurut gue baik. Sekali pun kita nggak saling kenal lagi.

******

Pagi ini proses belajar mengajar berjalan seperti biasanya. Sarina fokus mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru bahasa Indonesia. Sedangkan Third tidak mengerjakan tugas sedikit pun. Pikirannya melayang ke mana-mana.
Sarina yang mengetahui itu berinisiatif mengejutkan Third yang melamun.

"Lo kenapa melamun? Kerjain tugas lo, nanti nggak selesai lagi." Sarina membukakan buku Third yang kosong. Ia membatalkan idenya yang ingin membuat Third terkejut. Ia kasihan melihat Third yang seperti orang sttres.

Third menatap Sarina. Sarina terkejut. "Lo kenapa lihatin gue kayak gitu? Emang ada apa di wajah gue?" Sarina menyentuh wajahnya.

"Nggak ada apa-apa."

Sarina mendengus dan melanjutkan kembali aktifitasnya.

Third mengambil ponselnya. Ia berniat men-chat Porsche.

Third LN: Nanti pulang sekolah tungguin gue. Ada yang mau gue omongin.

Tak ada balasan dari Porsche sampai pelajaran pertama berlangsung. Third semakin stress. Ternyata Porsche benar-benar menjauh darinya.

Sarina merapikan buku-bukunya dan bergegas mengisi perut ke kantin. "Lo nggak ke kantin?"

Third menggeleng. "Nggak. Tumben lo nanya-nanyain gue?"

"Gimana nggak gue tanyain, dari tadi lo kayak orang sttres aja." Sarina menggeleng-geleng. "Ya udah gue ke kantin dulu.

"Lin, Ngel, cus ke kantin." Sarina, Angel dan Celine berjalan beriringan. Meninggalkan Third yang seperti orang bego.

Kalau gue pilih sahabat gue, udah jelas mereka akan terus membuli Sarina yang gue suka. Tapi, jika gue milih Sarina. Temen-temen gue bakal kandas semua. Siapa lagi dong yang mau jadi temen gue?

*******

Seminggu kemudian...

Third menyalin tugas milik Sarina. Ia sama sekali tidak membuat tugas bahasa Indonesia Minggu lalu yang diberikan guru. Untungnya ada Sarina yang bersedia meminjamkan tugasnya. Seminggu pula Third tidak bertemu dan berbicara dengan Porsche, Marc, Heksa dan Erick. Benar-benar putus kontak. Namun, akhir-akhir ini ia semakin dekat dengan Sarina.

"Hmm ... Third."

Third menoleh. "Ya?"

"Gue lihat akhir-akhir lo nggak main sama geng Porsche lagi. Kenapa?"

"Karena lo."

"Hah? Jangan bercanda Third."

Third tersenyum tipis. "Gue nggak bercanda. Bukannya lo tahu gue itu suka sama lo? Jadi masuk akal aja kan kalau gue bilang itu?"

Sarina terdiam. Ia memandangi wajah Third yang terus fokus menyalin tugasnya. "Kalau bener karena gue? Berarti lo rela tinggalin temen-temen lo itu demi gue?"

"Semacam itulah. Sayangnya lo udah nolak gue."

Kerongkongan Sarina serasa tercekat. Ada rasa sakit di dadanya. "Gu-gue sebenarnya punya alasan nolak lo. Dan lo–"

"Dan apa?" tanya Third cepat.

"Dan lo udah berhasil menghapus alasan itu."

Third terkejut. "Maksudnya apa? Coba lo jelasin"

*******

Porsche, Marc, Heksa dan Erick tertawa di depan loker masing-masing. Mereka mengambil seragam olahraga mereka. Heksa tiba-tiba saja mengeluarkan bom atom yang amat bau. Semuanya menjauh terbirit-birit.

"Woi kentut lo bau jigong, njir." Marc menutup hidungnya.

"Emang." Heksa nyengir.

"Dasar. Ya udah yok baris." Erick melambaikan tangannya, mengajak ketiga temannya.

"Pors," panggil seorang gadis dari luar pintu mereka. Ke empat remaja itu menoleh.

"Gue mau ngomong 4 mata dulu sama lo." Gadis bernama Chintami itu menarik lengan Porsche. Porsche mengerutkan keningnya bingung.

"Ngomong apaan?"

Chintami terus saja menarik Porsche hingga berhenti di dekat depan kelas 12 yang saat itu sepi.

"Kenapa sih Chin? Kok gaje." Porsche mengacak rambut gadis bermata coklat di depannya.

Chintami menepis tangan Porsche. "Lo temen gue, kan? Lo pasti berat pisah sama gue, kan?"

"Nanya apaan sih? Ya, berat lah." Porsche menggeleng-geleng.

"Berarti lo berat pisah sama Third, kan? Dia itu temen lo Pors, temen gue juga. Lalu kenapa kalian retak kayak gini?"

Porsche terdiam. "Lo tahu dari mana?"

"Bukan itu yang gue tanya Pors."

Porsche membuang muka. "Third bukan temen gue lagi."

"Hanya karena dia sayang Sarina?"

Pertanyaan Chintami menyudutkan dirinya. Porsche mengelap bibirnya yang agak basah. Lalu memandangi Chintami. "Gue benci itu Chin. Justru gue takut Third terjerumus ke dalam kepolosan Sarina yang mungkin saja palsu."

"Lo masih trauma?"

Porsche mengangguk.

"Orang itu nggak semuanya sama Pors. Lo harus buka mata lo. Lebar-lebar. Sarina itu baik kok, gue tahu itu."

"Lo tahu semua ini dari siapa sih?" Porsche mengguncang bahu Chintami pelan.

"Lo nggak perlu tahu. Yang sekarang lo harus baikan sama Third. Jangan buli Sarina lagi."

"Gue tetap buli Sarina."

Chintami melotot. "Kenapa sih lo suka banget ganggu hidup orang? Emang lo suka lihat gue dibuli sama orang? Nggak kan?"

Porsche lagi-lagi terdiam. Kata Chintami ada benarnya. Apa ia harus baikan dengan Third?  Dan berhenti menganggu dan membuli Sarina?

*******

Votement ya!

Love Warning [Completed]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang