Masa kecilku bukanlah hal yang menyenangkan. Berulang kali terbangun di atas meja operasi. Mendapati bekas sayatan pada kulit bertambah tiap tahunnya. Ada yang berkata bahwa aku tak akan menghirup wangi dunia lebih lama. ‘Anak Penyakitan’ atau ‘Putri Tidur’, julukan yang entah sejak kapan tumbuh bersama diriku. Kupikir kehidupanku tak akan menjadi lebih buruk lagi. Setidaknya begitu harapanku, akan tetapi, harapan dan kenyataan lebih sering bersimpangan.
Papa dan Mama mungkin lelah merawatku. Mereka pergi lebih dulu tanpa sempat memberi tahu. Mereka terbang bersama pesawat yang mengangkut penumpang lain, menuju tempat yang lebih indah dan abadi. Begitu kata Kakek saat membawaku menuju rumahnya yang terletak di daerah perbukitan. Tersembunyi di balik pohon-pohon cemara yang tumbuh menantang bulan dan bintang. Di atas salah satu puncak cemara, aku melihatnya. Menatapku dengan matanya yang berkilau. Begitu tersadar mata kami saling berserobok, ia melompat. Hinggap di atap rumah Kakek.
Aku menyebutnya, Bocah Bulan. Seorang anak laki-laki yang selalu duduk di atas atap rumah Kakek. Terkadang ia akan berdiri di puncak pohon cemara atau pagar rumah. Matanya yang berwarna seperti bintang bergerak-gerak, bersamaan dengan jemarinya yang menunjuk-nunjuk titik cahaya di langit. Aku heran dia tak pernah bosan melakukannya. Sementara aku sampai hitungan dua puluh langsung menyerah. Bintang-bintang di langit itu kelihatan sama semua. Aku sampai tak tahu menghitung yang mana.
“Kamu tahu enggak, Bintang? Kalau bintang di langit mati, mereka akan meledak dan berubah menjadi partikel bebas di galaksi?” Ia berkata suatu hari, saat langit tak diselimuti mega.
“Kamu mau doain aku mati juga?” Aku menggoda, walau sebenarnya aku tahu betul bahwa ia tak akan pernah bertanya seperti itu.
“Ih, bukan kamu, Bintang. Tapi bintang yang ada di langit itu, mereka juga bisa mati, lho. Kayak makhluk hidup,” imbuhnya sambil menggeleng-geleng bak anak kecil yang menolak teori bumi bulat.
“Emang, kalau mati jadi partikel bebas di angkasa artinya apa?”
“Ya, mereka bebas. Udah enggak ada tugas lagi. Artinya mereka udah bisa beristirahat.” Kulihat pancaran dari matanya yang indah, walau percikan cahaya di matanya meredup kemudian. “Aku mungkin juga menanti saat itu, mati.”
Bocah Bulan, terperangkap dalam tubuh dan mental anak laki-laki sebelas tahun. Ia hanya tahu kalau malam bangun dan menghitung bintang. Pada siangnya ia akan lenyap seakan tak memiliki jejak kehidupan di mana pun. Ada alasan lain mengapa aku menyebutnya Bocah Bulan. Ia memiliki rambut yang berwarna persis seperti purnama. Helai-helai rambutnya yang dimainkan angin malam adalah hiburan tersendiri buatku. Dia adalah teman yang berharga. Hanya dia yang mau menjadi temanku selama ini.
Hanya dia, immortal kekanakan yang tak memandang cairan infus dan kantung darah yang selalu kubawa ke mana-mana. Dia terpukau saat melihat kantung darah milikku untuk pertama kali. “Aku baru tahu kalau darah bisa ditampung kayak gini. Coba udah ada pas zamannya Sumi masih ada. Pas zaman penjajahan dulu, dia ditembak. Darahnya mengucur kayak keran, coba masih bisa ditampung kayak gini, mungkin dia masih hidup kali, ya?”
Itu hanya satu dari ceritanya saat bosan menghitung bintang. Kadang kala, dia akan bercerita tentang seorang anak di zaman entah kapan yang selalu membawa sesaji sambil memohon agar bisa memenangkan perang dan memperluas negaranya. Dia juga pernah bercerita tentang seorang gadis kecil yang dinikahkan dengan pria bermata biru dan berkulit pucat. Gadis kecil itu meninggal ketika melahirkan anak pertamanya. Bocah Bulan bisa melihat arwah sang gadis dan bayinya melesat ke langit.
Sebagai satu-satunya lawan jenis yang kukenal dalam artian dekat, terkadang aku merasakan getar asing di dada. Tepat di sebelah kiri, bagian di mana bagian tubuhku itu berulang kali dibelek. Getar itu terasa mengusik kadang-kadang, membuatku bertanya-tanya. Apa yang salah lagi dengan jantungku? Padahal aku sudah mendapat donor jantung, melaksanakan operasi, dan bedrest. Semua perintah dokter telah aku turuti, tetapi, rasa itu kian mengusik. Hari yang berlalu, pertemuan kami di balkon kamar, senyum di wajahnya, celotehnya, tanpa terasa membuat getar itu bertumbuh.
“Menurut Om Dokter, Bintang masih sakit?” tanyaku pada dokter Evan yang telah menjadi dokter pribadiku selama sepuluh tahun. Terkadang ia akan mengajak serta putranya yang sebaya denganku, tapi anak lelaki itu tak ada niatan untuk berteman. Ia lebih senang memanjat pohon mangga atau menangkap ikan di sungai. Kelakuan nakalnya sering membuat dokter Evan marah. Pernah aku melihat dokter Evan menjewer telinganya sampai merah.
Ia urung menjawab. Alih-alih memberikan jawaban atas rasa penasaranku, ia malah tersenyum. “Itu namanya bukan sakit, Bintang. Apa yang kamu rasakan itu indah, udah saatnya kamu cari tahu sendiri. Kamu udah besar, ‘kan?”
“Tapi Bintang masih tiga belas, Dok. Bintang baru mau masuk masa remaja.” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada.
“Kamu aja belum menstruasi, belum masuk tahap remaja, dong. Tapi, enggak ada salahnya cari tahu sendiri. Itu menyenangkan, kok,” imbuh Dokter Evan sembari mengulurkan sebuah buku bersampul merah muda dengan gambar hati.
“Ini buku apa, Dok? Bintang belum pernah baca buku yang kayak gini.” Aku menimang buku tersebut dalam genggaman. Melirik isinya sedikit.
“Yang jelas bukan dongeng dan ensiklopedi buat anak-anak. Itu bacaan buat anak menjelang remaja kayak kamu,” pungkas Dokter Evan mengakhiri sesi check up kami.
Ia berjanji akan membawa lebih banyak buku seperti itu jika aku berhasil menyelesaikannya dalam waktu seminggu. Ya, siapa yang tak tergiur dengan hadiah? Aku tengah menyiapkan hati untuk membaca buku tersebut, ketika sebuah ketukan dari jendela membuat niat membaca buku menguap. Bocah Bulan, ia mengambang di udara. Masih menanti diriku membuka jendela.
' “Kamu lama,” komentar Bocah Bulan lantas cemberut.
“Aku lagi dapat PR sama Pak Dokter, kamu mau bantuin?” tanyaku sambil mengangkat novel, menunjukkan judulnya.
“Boleh, sih, tapi aku enggak bisa baca,” guraunya lantas terkikik geli.
Maka, kami saling sibuk dengan kegiatan masing-masing di balkon. Dia menghitung jumlah bintang di langit sementara aku meneruskan membaca. Ah, ada untungnya dia tak bisa membaca dan tak ikut bergabung denganku menuntaskan novel. Dari bab pertama, aku sudah tahu ke mana novel tersebut membawa pembacanya. Romansa anak remaja yang baru mengalami cinta pertamanya. Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlintas. Apa aku jatuh cinta sama Bocah Bulan?

KAMU SEDANG MEMBACA
Antologi Cinta Pertama Vol. II [TELAH TERBIT]
ContoCinta pertama. Manis terdengar, tetapi belum tentu manis untuk dirasakan. Ada yang sukses menggapai cinta pertamanya, ada yang harus menunggu kesempatan untuk meraihnya, ada pula yang menjadi terobsesi karenanya. Cinta pertama adalah sebuah perjuang...