Suasana di rumah Gama tampak ramai sore ini. Mereka sedang bermain game online bersama. Di iringi dengan obrolan-obrolan toksik, di sana ada Dafa, Irvan dan juga Gama pasti nya. Kemana pergi nya Arkan? Hari ini Arkan absen dulu karena ia sedang ada urusan kata nya.
"Yah dikit lagi itu anjir"
"Ah jingan, awas dongo"
Ketika sedang asik bermain tiba-tiba ponsel Gama berdering.
Drtt... Drttt
"Astaga siapa sih jadi kalah kan" kesal Gama
Gama menyengitkan dahi nya bingung, ketika melihat layar ponsel nya yang tertera nama 'Arkan' di sana. Padahal baru setengah jam yang lalu Arkan menghubungui diri nya. Ada apa Arkan menghubungi nya kembali?
Tidak mungkin hanya karena gabut. Arkan ini tipe orang yang irit pulsa.
"Hiks... Hiks.. Gam"
Tunggu dulu, tidak mungkin kan suara Arkan menjadi suara perempuan? Sedang nangis pula, ini ada apa sebenarnya?
Bingung.
"Ini gu-gue Muti adek nya Arkan hiks.." lanjut nya
"Iya tau, ko Lo nangis? Kenapa?" tanya Gama mulai penasaran
"Abang gu-gue hiks..."
"Kenapa Arkan? Hp nya ko bisa sama Lo"
"Abang gu-gue kecelakaan Gamaaaa hiks..." ucap Muti agak sedikit berteriak di sebrang sana
Gama menjauhkan ponsel nya dari terlinga nya. "Share lock nanti gue sama temen-temen ke rumah sakit"
Tut!
Sambungan terputus.
"Arkan kecelakaan, buruan kita ke rumah sakit"
"Lah ko bisa?"
"Parah kaga?"
Gama membekap mulut Irvan dan Dafa. "Nanyanya entar aja, gue juga nggak tau gimana cerita nya" ujar Gama
Gama, Irvan dan Dafa beranjak, kemudian mengambil sesuatu yang penting untuk di bawa. Mereka bergegas ke rumah sakit menggunakan mobil nya Gama supaya sampai nya bersama.
"PELAN-PELAN GAMAA"
"ANJING BERASA PUNYA NYAWA SEMBILAN"
"GAMA BABI BANGET NGGAK DENGER LO! TULI? PELANIN DIKIT ANJING"
"AWAS ADA TUKANG BAKSO ITUU"
Gama mengendarai mobil di atas kecepatan rata-rata, dengan lihai Gama menyalip kendaraan lain nya. Laki-laki itu tidak memikirkan bagaimana bahaya berkendara di atas kecepatan rata-rata. Padahal ia membawa tiga nyawa di dalam mobil nya.
Mungkin terlalu khawatir dengan keadaan teman nya yang sedang terkulai lemas di rumah sakit. Nama nya juga teman, pasti tidak mau hal aneh terjadi yang menimpa salah satu teman nya. Karena Arkan teman Gama sejak SMP.
"Allhamdulillah sampe juga" ucap Dafa mengusap dada sambil menghembuskan nafas lega
"Sumpah kasian tadi, akang bakso hampir di serempet" ujar Irvan memegang dada nya, menetralkan detak jantung nya
"Banyak bacot Lo pada, ayo turun" ajak Gama
Dengan langkah lebar tiga laki-laki itu memasuki rumah sakit. Mata nya menyipit, saat ia melihat Muti adik nya Arkan tengah menangkup wajah nya di depan ruangan Arkan berada. Muti tidak sendiri di sana ada Sha teman yang kerap menemani nya.
Sha juga sama seperti Gama, ia di hubungi dengan Muti. Sha mendengar kabar Arkan kecelakaan itu lantas buru-buru ke rumah sakit untuk menenangkan Muti, Sha juga tidak tega dengan keadaan Muti, mata nya begitu sembab. Pasti Muti sangat sayang dengan abang nya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Pengagum Rahasia [ON GOING]
Teen FictionPengagum Rahasia? Ngga ada salah nya kita menjadi pengagum rahasia seseorang. Tapi apa kalian tau syarat menjadi pengagum rahasia? • Harus menjadi seseorang yang sabar • Peka dengan keadaan sekitar • Sadar diri Masih banyak lagi sih, kalian juga har...