[•9]

15 4 0
                                    

Motor sport yang di kendarai oleh Gama memasuki area parkir sekolah yang begitu luas. Gama membenarkan tataan rambut yang agak berantakan akibat helm yang ia kenakan tadi. Selepas selesai ia melangkahkan kaki nya berjalan menuju koridor kelas.

Gama memasang headset di kedua telinga nya dengan tas di bahu kanan nya. Sesekali ia memejamkan kedua mata nya menikmati alunan musik yang ia dengar lewat headset.

Hingga tanpa ia sadari, ketika diri nya hendak berbelok, tanpa sengaja ia menabrak kepala seseorang. Gama tersadar dan langsung melepas headset yang ia gunakan, Gama mendengar suara pekikan dari seorang siswi. Ia menundukan kelapa nya mensejajarkan diri nya dengan siswi itu agar untuk melihat siapa siswi yang tidak sengaja di tabrak nya.

Namun, di waktu yang bersamaan siswi itu mendongakkan kepala nya juga untuk melihat siapa yang sudah menabrak diri nya ini.

"Lo!" ucap Gama

"Eh Gama" ucap siswi itu, sebenar nya siswi itu hendak marah. Karena yang menabrak pujaan hati nya, jadi nya tidak jadi. Ia harus menjaga image nya di depan laki-laki yang ia suka. Siswi itu memanggil Gama dengan nada manja nya, siapa lagi kalau bukan Lisa dengan softlen ngejreng nya.

"Lo mah kalo jalan enggak pernah liat-liat, jadi ketabrakan hati gue" lanjut Lisa

"Dih, apaansih" ujar Gama bergidik ngeri

"Lo mau ke kelas ya?"

Gama menghiraukan pertanyaan Lisa. Lalu pergi meninggalkan Lisa disana.

"Lah gue di tinggal" ucap Lisa

"GAMA TUNGGU BARENG" teriak Lisa

Banyak siswa-siswi yang berlalu-lalang melihat Lisa dengan tatapan tidak suka. Padahal kelas Gama dan Lisa berbeda.

📝📝📝


Setelah jam terakhir pelajaran di nyatakan selesai, Sha bernafas lega. Ia sangat kewalahan, padahal ia hanya mencoret-coret buku tulis bagian belakang nya ketika bu Siti guru Sosiologi sedang menjelaskan di depan kelas nya. Ia sangat benci dengan mata pelajaran Sosiologi.

Raga Sha memang ada di dalam kelas itu, namun pikiran nya sudah pergi keluar kelas duluan. Tidak ada yang bisa membangkitkan mood Sha ketika belajar Sosiologi, Muti pun tidak bisa. Ketika ada tugas dan soal Sha hanya menyalin jawaban nya dari Muti. Kalau Muti sebalik nya dengan Sha, Muti sangat suka dengan pelajaran Sosiologi.

Sha memang pintar di semua mata pelajaran. Tapi tidak dengan Sosiologi.

Membayangkan wajah Gama, Sha bisa merasakan bagaimana indah nya dunia.

Alay.

"Aduh" Sha meringis ketika tangan nya sedang menopang dagu nya di dorong oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Muti pelaku nya.

"Mut Lo bisa diem dulu enggak bentar? Jangan ganggu gue dulu bisa?"

"Aw galak banget mbak nya" jawab Muti terkekeh

"Ngga usah tawa, muka Lo jelek jadi tambah jelek" cibir Sha

"Ye kampret Lo!"

"Bercanda"

"Ayo pulang Sha" ajak Muti beranjak dari kursi nya.

"Lo duluan ke depan aja, gue mau ke kantor dulu"

"Mau ngapain?"

"Ngapain kek udah gede ini"

"Eh nyolot ya"

"Udah sana ke depan duluan, tapi tungguin ya! Jangan di tinggal" ucap Sha seraya mendorong tubuh Muti keluar kelas

📝📝📝

Setelah dari kantor Sha jalan terburu-buru, takut Muti meninggalkan diri nya. Kalau Sha di tinggal nanti ia akan pulang dengan siapa? Kan lumayan tumpangan gratis.

Hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang di belokan koridor dekat tangga.

"Aw" Sha meringis mengusap kening nya

Seseorang itu menatap Sha yang sedang menunduk.

"Eh elo Sha, sorry ya. Kita tabrakan mulu jangan-jangan kita jodoh Sha" ucap Rafael, seseorang yang di tabrak Sha adalah Rafael. Kaka kelas nya.

Sha menghiraukan ucapan Rafael, karena tangan nya masih sibuk mengusap kening nya yang terasa sakit.

Melihat Sha yang masih memejamkam mata nya sambil mengusap kening nya, Rafael meraih tangan Sha yang masih berada di kening nya sendiri. Sha terkejut, sontak membuka pejamanan mata nya dan menatap Rafael tidak percaya.

"Sorry deh." tangan kekar Rafael mengusap pelan kening Sha. "Sakit ya emang nya?" lanjut nya.

Pikir aja sendiri, badan Lo kan keker ka. Pasti sakit lah.

Bagaimana tidak sakit, orang ia menabrak headphone yang berada di pundak nya.

Sha terdiam ketika ketika tangan kekar milik Rafael mengusap dan menyentuh kening nya dengan lembut. Sha mendongak untuk melihat wajah Rafael dengan jelas, wajah mereka sangat dekat. Bahkan, Sha dapat merasakan hembusan nafas Rafael.

idung nya mancung, alis nya tebal, bulu mata nya lentik. Tapi, maap ya masih gantengan Gama ka.

"Ganteng ya?" ucap Rafael. Sontak Sha mengalihkan pandangan nya dan memundurkan tubuh nya beberapa langkah. Ia menunduk malu.

"Eh.. Ap-apasih ka!"

Rafael terkekeh melihat wajah Sha yang gugup seperti itu. "Muka gue emang udah ganteng dari sana nya, jadi gini deh"

"Ih pede banget ya"

"Ko Lo belum pulang?" tanya Rafael

"Iya, abis dari kantor"

"Mau pulang bareng nggak?"

Sha menggeleng seraya tersenyum, hingga kedua lesung pipit yang berada di pipi nya terlihat. "Enggak usah ka, makasih banyak. Gue bareng sama Muti"

"Yaudah kalo gitu hati-hati" ucap nya sambil mengusap kepala Sha

Jangan baper gila!!!

"I.. Iya ka"

Bersamaan dengan kepergian nya Rafael ponsel Sha berdering telepon dari Muti masuk.

"Halo, Sha lama bet"

"Bentar, ini lagi jalan ke parkiran"

"Gue udah pegel bor"

"Tinggal duduk di mobil, otak udang gini nih"

"Gue pegen nya di luar, sambil liat cogan lewat"

"Yee dasar, yaudah gue matiin ya. Dah"

Tut!

Sha sampai di parkiran, Sha dan Muti masuk ke dalam mobil. Mereka langsung pergi meninggalkan area parkir sekolah.

📝📝📝

Pengagum Rahasia [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang