Setelah menyimpan surat di loker nya Gama, Sha diminta untuk mengantar Muti ke supermarket depan rumah Sha, sekalian mengantar Sha pulang.
Habis itu Sha langsung pulang ke rumah nya, padahal Muti ingin Sha main ke rumah nya untuk menemani diri nya. Tapi, Sha menolak dengan alasan bunda nya juga sendiri di rumah.
Selesai makan siang bersama bunda nya, Sha kembali lagi ke kamar nya. Biasa nya Sha akan menonton televisi bersama bunda nya. Tapi, kali ini Sha ingin ke kamar nya.
Sha duduk di meja belajar nya. Bukan, bukan untuk belajar atau pun membaca buku pelajaran yang ia pelajari saat di sekolah tadi. Terlebih lagi pelajaran terakhir itu Sosiologi, Sha mana mau.
Namun, Sha memutar kursi nya mengarah ke luar jendela. Ia mengambil sebuah gitar berwarna cokelat, gitar itu hadiah ulang tahun dari sang bunda.
Sha memang bisa memainkan beberapa alat musik, Sha juga suka musik. Tapi tidak ada yang mengetahui itu, hanya ayah dan bunda nya saja. Sahabat nya pun tidak tau, Muti.
Menghadap ke arah jendela yang langsung menyorot pemandangan kompleks tempat tinggal nya. Sudah menjelang sore, dan setiap hari nya kompleks yang ia tinggali tidak begitu ramai. Senyum Sha melengkung begitu sempurna di bibir kecil nya, tanpa sebab.
Entah mengapa hati nya menghangat ketika membayangkan wajah Gama?
"Kenapa sih, jatuh cinta sedeg-degan ini? Apalagi kalo deket Lo Gam" ucap Sha pada diri nya sendiri. Ia menatap gitar coklat kesayangan nya yang jelas-jelas tidak akan bisa memberikan tanggapan dari ucapan Sha barusan.
Perlahan ia mulai memetik gitar cokelat di tangan nya. Kali ini, ia memilih lagu Tolong dari Budi Doremi untuk ia nyanyikan di siang hari menjelang sore ini.
Kurasa 'ku sedang jatuh cinta
Karena rasanya ini berbeda
Oh, apakah ini memang cinta?
Selalu berbeda saat menatapnyaMengapa aku begini?
Hilang berani dekat denganmu
Ingin 'ku memilikimu
Tapi aku tak tahuBagaimana caranya?
Tolong katakan pada dirinya
Lagu ini kutuliskan untuknya
Namanya selalu kusebut dalam doaSampai aku mampu
Ucap, Maukah denganku?Kurasa 'ku sedang jatuh cinta
Karna rasanya ini berbeda
Oh, apakah ini memang cinta?
Selalu berbeda saat menatapnyaDi sini aku berdiri
Menanti waktu yang tepat
Hingga akhirnya kumampu
Katakan padamuTolong katakan pada dirinya…
Suara indah Sha berhenti ketika ponsel yang berada di kasur berbunyi. Sha meletakkan gitar cokelat nya di pojokan kamar nya. Ketika Sha lihat ternyata Rafael---kaka kelas nya yang menghubungi diri nya. Ada apa Rafael mengubungi Sha?
"Halo ka?"
"Halo Sha, gue ganggu nggak?"
"Enggak sih.."
"Bagus dah, kaki Lo lagi sakit nggak?"
"Hah"
"Hoh"
"Eh hahaha, kaki gue sehat"
"Bisa jalan dong?"
"Bisa lah, orang kaki gue sehat gini"
"Mau kapan? Sekarang?"
"Maksud nya?"
"Kata nya bisa jalan, ayo"

KAMU SEDANG MEMBACA
Pengagum Rahasia [ON GOING]
Teen FictionPengagum Rahasia? Ngga ada salah nya kita menjadi pengagum rahasia seseorang. Tapi apa kalian tau syarat menjadi pengagum rahasia? • Harus menjadi seseorang yang sabar • Peka dengan keadaan sekitar • Sadar diri Masih banyak lagi sih, kalian juga har...