17.Tahajudan dengan sang Imam

2K 173 0
                                    


Waktu menunjukan pukul setengah empat. Luna terbangun dari tidurnya. Seperti biasa jika jam segini,ia selalu melaksanakan sholat malam. Karena manfaat dari sholat malam sangatlah banyak diantaranya juga bisa mempermudah segala urusan.

"Dan pada sebahagian malam,maka kerjakanlah sholat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu,mudah mudahan tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji."(Q.S Al Isra 79).

Luna mendekati Alif yang sedang tertidur pulas disofa. Memang ada tiga kamar dirumah ini. Awalnya Alif hendak tidur dikamar sebelah saja. Tapi Luna melarangnya. Gadis itu merengek tak mau pisah kamar dengan alasan takut sendiri. Padahal itu hanya alibinya supaya tetap bersama Alif.  Akhirnya pria itu mau mengalah, daripada Luna terus berbica dan membuat kepalanya pusing. Mungkin, dengan cara seperti itu Luna menjadi lebih mudah untuk melakukan pendekatan dengan suaminya.

Ingin rasanya ia sholat malam bersama dengan Alif yang menjadi imamnya. Walau itu hanya sekali saja. Tapi nyalinya menciut. Ia tak berani membangunkan Alif. Namun disisi lain, ia harus berani toh ini untuk kebaikan. Lagipula Alif kan sering melakukannya, sayang bukan jika ditinggalkan. Dengan megumpulkan segenap keberaniannya akhirnya Luna membangunkan Alif dengan mengguncangkan tubuhnya pelan.Tak lama pria itu membuka matanya.

"Mas,"

"Hmm..."

"Bangun gih udah jam setengah empat. Bukannya biasanya kamu selalu sholat malam?"

Perlahan kelopak nata Alif terbuka sempurna.
"Astaghfirullah "ucap Alif sambil mengusap wajahnya. Tanpa basa-basi Alif beranjak bergegas mengambil air wudhu.

"Mas,"panggil Luna

"Hm?"

"Boleh gak kalo Luna jadi makmum Mas Alif malam ini?"cicit Luna pelan yang masih bisa Alif dengar.

"Ok."memdengar itu senyum Luna mengembang.

Mereka menjalankan ibadah itu dengan khusyuk. Luna menangis haru. Impiannya telah terwujud untuk sholat bersama Alif. Sungguh rasanya lebih menyenangkan daripada apapun.

Setelah selesai memanjatkan do'a,Luna lantas menyalami tangan Alif. Perasaan aneh menggelenyar dalam hatinya tatkala punggung tangannya menempel pada benda kenyal itu.  Padahal hal ini bukan yang pertama kalinya Luna lakukan padanya. Namun kenapa saat ini rasanya begitu berbeda? Ada rasa damai dan nyaman dalam hatinya. Tapi tak mungkin jika ia dapat mencintai Luna secepat itu. Dalam hatinya saja masih terukir nama Sasha dengan indah. Bahkan Alif berencana untuk melepaskan Luna setelahnya menikahi Sasha nantinya. Entah mengapa ia ingin sekali melakukan itu. Padahal Alif tau betul tentang Agama. Bukankah perceraian amat dibenci Allah?

"Luna,"panggil Alif.

"Iya mas,"

"Ada yang ingin saya bicarakan padamu."

"Tentang?"

"Pernikahan kita."

"Saya ingin menikahi Sasha."

Jleb

Pernyataan Alif sungguh menusuk relung hatinya. Seoalah ada belati tajam yang memghujam setelah itu ditaburi dengan garam. Perih.

"Lalu bagaimana dengan Luna?"

"Bagaimana jika seandainya saya melepaskan kamu?"

Hancur sudah pertahanan Luna agar tidak menangis. Air matanya luruh begitu saja.

"Mas berniat mempermainkan pernikahan ini?"

"Tidak. Kamu tahu alasa dibalik pernikahan ini karena perjodohan. Kita sama-sama tahu menjalin hubungan terpaksa tidak akan baik kedepannya."

Alone in Love (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang