22.Sayatan hati

2K 171 0
                                    


Angin sepoi sepoi menerpa wajah gadis cantik yang kini tengah duduk seorang diri sambil menikmati pemandangan yang tampak dari jendela bening disebuah cafe. Akhir akhir ini, ia sering sekali mengunjungi cafe sekedar untuk mendinginkan otak atau mencari hiburan.

Luna menyeruput minumannya. Ia berpikir andai saja ada Alif dihadapannya, membawakan sebuket bunga mawar lalu melafalkan kata kata romantis. Pasti semua akan terasa menyenangkan. Namun sayang, harapannya hanyalah sebuah khayalan semu yang mungkin tak akan tersampaikan.

Luna mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru arah. Ia melihat sepasang kekasih yang tak asing lagi dimatanya. Seperti Alif dan Sasha. Tapi apakah mungkin dijam sekarang Alif ada disini?bukankah biasanya Alif sibuk mengajar?
Ia mengamati setiap gerik Alif. Kebetulan sekali Alif melangkahkan kaki kemeja yang ada di depannya jadi ia bisa dengan mudah menguping pembicaraan antara Alif dengan Sasha. Luna menutupi wajahnya dengan kertas menu digenggamannya.

"Kamu mau bicara apa mas?"tanya Sasha

"Seb---"

"Permisi...mbak,mas mau pesen apa?"tanya seorang pelayan memotong pembicaraan Alif.

"pesen Lemon tea nya dua ya!"Jawab Alif tersenyum singkat.

Setelah pelayan itu pergi, Alif dan Sasha melanjutkan pembicaran yang tadi sempat terpotong.

"Jadi?"kata Sasha mengernyitkan kening.

"Aku..."

"Aku?"

"Sebenarnya..."
Alif jadi ragu untuk jujur kepada Sasha tentang pernikahannya dengan Luna.

"Ck...kamu kalo ngomong jangan setengah setengah dong mas! yang jelas kamu mau ngomong apa?"
Cerocos Sasha tidak sabaran.

"Insyaa Allah sekitar dua atau tiga bulan lagi aku akan segera melamar kamu,"entah mengapa malah kalimat itu yang keluar dari bibir Alif. Padahal ia sudah merancang kata kata untuk mengatakan semuanya kepada Sasha tentang Luna. Tapi ia belum mempunyai nyali. Alif takut Sasha akan marah nantinya dan meninggalkannya. Alif belum siap jika semua itu terjadi.

Deg!

Hati Luna teriris saat mendengar pernyataan Alif. Lagi dan lagi Alif harus membuat air matanya jatuh.

Luna sudah tak kuat jika harus mendengarkan pembicaraan selanjutnya.Ia memilih pergi. Daripada harus berperang batin.

Sasha menghela nafas panjang.
"Kamu serius mas?ini udah kedua kalinya kamu ngomong begitu tapi belum ada buktinya."
Tanya Sasha dengan pandangan yang meminta kepastian.

"Iya... In syaa Allah, aku akan segera datang kerumahmu."

"Jujur, aku kecewa karena selama ini kamu hanya sering berucap tapi tidak ada pembuktian. Semoga niatmu kali ini tidak akam membuatku kecewa lagi."

Alif hanya tersenyum singkat.

Dilain tempat...

Luna masuk kedalam kamarnya dengan perasaan campur aduk. Ia menutup pintunya kuat. Luna menepuk dadanya berulang kali berharap rasa sakit itu segera sirna. Tubuhnya luruh kelantai. Air mata saling berjatuhan secara bergantian. Rasa sesak menelusup kedalam rongga dadanya. Dunia serasa tak adil bagi Luna. Mengapa ia selalu disakiti oleh orang orang yang dicintainya?mengapa semua seakan mempermainkan perasaannya?Apakah ia tak pantas untuk jatuh cinta?apa ia tak pantas merasakan sebuah kebahagiaan walau sesaat?

Luna terisak. Meratapi nasibnya yang sungguh miris. Sesaat Luna tersadar bahwa ia tak boleh mengeluh . Apapun yang terjadi dalam hidupnya sudah Allah gariskan. mau tak mau ia harus menerimanya. Bukankah seseorang yang sedang diuji pertanda Allah sayang padanya?Lalu untuk apa ia teru terusan meratapi nasib. Bukankah seharusnya ia berjuang, berusaha, dan bertawakal. Luna yakin bahwa akan ada kebahagiaan dibalik penderitaannya saat ini.

Alone in Love (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang