“Sayang, kita makan dulu ya” ajak seorang wanita paruh baya namun tetap terlihat cantik dan anggun, lalu mendekati gadis kecil yang berada di rooftop rumah elite tersebut sambil memandangi indahnya langit yang berwarna orange tersebut.
Gadis tersebut menoleh kebelakang dengan tersenyum, dengan awas matanya mengikuti pergerakan wanita tersebut tepat disampingnya. Gadis itu mengangguk “tapi makannya sambil lihatin senja, boleh kan Nek?” pinta gadis cantik itu dengan memandang neneknya dengan pupy eyes nya. Dilihat dari bentuk keningnya yang mengkerut, sudah dipastikan wanita tersebut sedang berpikir.
“emm...boleh nggak ya?”
“Nenek” ujarnya dengan melas, bahkan kini matanya sudah berlinang cairan bening, yang siap jatuh jika saja pemiliknya berkedip.
Melihat respon cucunya, Nenek Asri tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala cucunya dengan sayang.
“Tidak, apa-apa sayang, Nenek juga menyukai senja karena warna identiknya” jawab Nenek Asri “kalau gitu baca do'a makannya dulu ya sayang”. Gadis itu mengangguk cepat
“Dewi juga suka senja nenek” ucapnya tak mau kalah
“pelan-pelan sayang, nanti tersedak lo” ucap sang nenek memperingati, lantaran cucunya terlalu antusias berbicara padahal mulutnya penuh dengan makanan. “sebagian orang menyukai senja sayang, bukan hanya nenek ataupun cucu nenek yang cantik ini” ujarnya sambil menarik hidung Dewi pelan yang dibalas kekehan kecil oleh gadis itu.
“kenapa sebagian Nenek?. Padahal senja itu cantik, kenapa tidak semua orang suka dengan senja?”
“karna setiap pribadi memiliki karakter dan selera yang berbeda sayang. Contohnya, seperti Dewi suka senja tapi Kak Gibran suka nya Bulan”
“tapi, Qilla juga suka senja, persis seperti Dewi” ujarnya tampak berpikir “tapi kenapa kak Gibran nggak suka senja ya Nek? Terus kak Gibran juga nggak suka sama Dewi, padahal Dewi nggak pernah nakal. Terus kak Gibran juga nggak bolehin Dewi main kekamarnya lagi, padahal dulu Dewi sering tidur di kamarnya kak Gibran sama Qilla juga” adunya dengan wajah merah menahan tangis.
Nenek Asri hanya tersenyum menanggapi aduan dari cucunya tersebut. “Baiklah, sekarang kita harus sholat dan mengaji dulu ya sayang, jangan sampai kita terlalu mengagumi ciptaan-Nya lebih dari pencipta-Nya” ajak sang nenek yang dibalas anggukan cepat cucunya.
“Dewi,,Dewi,,Hallooo” samar-samar Dewi mendengar ada yang memanggilnya dan mengguncang tubuhnya. Seketika, ia tersadar dari lamunannya.
“kenapa kamu nangis?” tanya Qilla dengan raut wajah khawatir “apa yang membuat mu sedih, hm? Kamu bisa cerita sama aku De, aku sahabat kamu. Tapi kalau belum sanggup cerita juga nggak apa-apa, aku nggak bisa paksain kamu” ucapnya dengan tersenyum “tapi aku saranin kamu jangan pendem sendirian ya”.
“Terimakasih” ucap Dewi dengan senyum tipis, sehingga hanya dia saja yang tau senyuman itu.
“Baiklah, ayo sholat” ajak Qilla sambil mengulurkan tangannya mengarah ke Dewi, namun Dewi tak bergeming, ia tetap dalam posisinya. Qilla menarik uluran tangannya dan mendengus kasar “baiklah, aku diluan, jangan lupa untuk sholat dan selalu do'akan orang yang kamu sayang” setelah mengatakan itu, Qilla berlalu pergi.
Dewi tersenyum pedih Doa 'kan orang yang kamu sayang? Dulu aku sering melakukannya. Namun apa yang terjadi? Bahkan Ia yang katanya Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyanyang tidak mengabulkannya. Hah, lucu sekali” batinnya pedih
%%%%%%
Holla epribadi!!
Devi_

KAMU SEDANG MEMBACA
LENTERA SENJA
Spiritual"Buat apa aku menyembah-Nya sedangkan ia tak perduli dengan ku? Apa kau tahu hah!! semua sudah kulakukan. Aku selalu mengikuti perintah-Nya aku selalu berdoa semoga Allah memberi kesembuhan untuk Nenekku tapi APA? HAH!! APA? BAHKAN IA SEAKAN TULI DA...