Jangan lupa vote dan komen ya..
Bacanya pelan-pelan..
~•~
Setelah sampai di UKS, Angga mengedarkan pandangannya mencari PMR yang biasanya duduk-duduk depan UKS sembari waspada bilamana ada yang membutuhkan mereka. Tetapi kali ini mereka tidak ada.
"Ngapain?" tanya Putri sarkas. Dia tahu Angga mencari PMR, tapi cowok itu lupa memakai otaknya bahwa sekarang ini waktunya masuk kelas, jadi pastinya mereka tidak sedang berjaga.
Angga menghadap ke arah Putri. "Nyari PMR lah--," ucapnya terhenti. "eh iya ya sekarang 'kan udah bel masuk," tuturnya lalu mengangguk lehernya.
Putri mengangguk sekali dan menyodorkan tangannya. "Yaudah cepet nih, darah gue keburu abis," perintahnya sambil mengerjapkan mata seraya membuang muka.
Angga pun langsung masuk ke dalam ruangan rawat dan mengambil kotak P3K yang berada di nakas ranjang UKS. Dengan cepat dia menghampiri Putri.
"Nih, duduk dulu." cowok itu mengarahkan Putri untuk duduk di kursi panjang.
Gadis itu menurut sambil menekan telapak tangannya untuk menahan darah keluar lebih banyak. "Ih kok bisa banyak gini sih," gerutunya.
Angga berlutut di depan Putri dan membuka kotak obat itu. "Bentar." cowok itu meraih tangan Putri dan perlahan membuka kain kasa yang sudah berubah warna itu.
Putri meringis, geli melihat darah. "Kok lo gak jijik sih?" tanyanya sambil menahan perih.
"Enggak lah." Angga mengambil obat merah dan meneteskannya ke luka gadis itu.
"Aww sakit!" rengek Putri, refleks menarik tangannya, tetapi di tahan Angga. "pelan-pelan kek! Haduh huhu," pekiknya kesal lalu merengek hampir menangis.
Angga langsung gelagapan. "Bentar nih udah udah," tuturnya pelan untuk menenangkan Putri. Dia lalu mengambil kain kasa baru dan mulai membungkus luka gadis itu lagi.
"Kulit lo lukanya lumayan dalem, Put," ungkap cowok itu sambil meringis.
Tidak memperdulikan pernyataan Angga, Putri makin meringis saat Angga hendak menempelkan plester untuk menahan kain kasa membuka.
Gadis itu menjambak rambut Angga. "Aduhh, sakit, jangan dipencet!" pekiknya.
Angga pun selesai dan melepaskan tangan Putri. "Udah tuh udah, haduh," katanya lalu meringis mengusap kepalanya.
Gadis itu menatap tangannya miris dan mengelusnya sambil menyernyit. Tak lama dia mendongak saat Angga berdiri di depannya.
"Lo gak pa-pa, telat masuk kelas?" tuturnya pelan.
Angga mendekatkan wajahnya. "Hah?" tanyanya tidak mendengar.
Putri menggeleng. "Enggak."
Cowok itu menyengir. "Haha, lo mau bilang makasih 'kan? Iya sama-sama cantik," ledeknya sambil tersenyum manis ke arah gadis itu.
Pipi Putri terasa memanas, dia pun membuang muka sok dingin. Tetapi Angga malah tambah gemas karena dia sudah terlanjur melihat pipi gadis itu yang memerah.
"Yaudah, gue ke kelas dulu ya. Lo gak pa-pa 'kan sendiri?" tanya Angga.
Putri mendongak lagi. "I-iya udah sana," tukasnya cuek. Lebih tepatnya gugup.
Angga pun tersenyum lagi ke arahnya lalu berbalik dan melenggang pergi.
Putri menatap punggung itu, dan tiba-tiba bicara, "Makasih."
Langkah Angga terhenti lalu tersenyum merdeka di baliknya. "Sama-sama, cantik." lalu kembali berjalan.
Gadis itu memandanginya dari jauh dan menutup wajahnya kasar.
Apa-apaan sih ini - benaknya.
~•~
Beberapa menit yang lalu bel pulang terdengar nyaring ke seluruh penjuru sekolah SMA Purnama. Siswa-siswa bertebaran keluar menuju gerbang ramai-ramai. Kini Angga, Reza, dan Fion berada di mobil.
Kali ini Reza sangat malas mengendarai mobilnya sendiri, sehingga dia menyuruh Fion untuk duduk didepan untuk menyetir mobilnya.
"Eh Ja, gue belom lancar nyetir nih," tuturnya sembari menoleh ke jok belakang.
Tampak Reza tidak bergairah sambil menatap ponselnya tanpa bergeming. Angga yang duduk di samping Fion menepuk punggungnya.
"Udah yon, biarin dah ayo gas!" katanya bersemangat. Mengingat hari ini adalah hari yang paling hebat baginya.
Fion merengut ke arahnya. "Takut mati Ngga," tutur cowok itu. "hah, yaudahlah." Fion pun langsung memakai save belt-nya bersiap-siap.
Angga pun sebenarnya bisa menyetir, tapi rasanya hari ini malas sekali, dia hanya ingin bersantai dan tersenyum sambil mengingat Putri.
Fion menatap kedua sahabatnya bergantian. "Kalo ngapa-ngapa jangan salahin gue ya," tuturnya memastikan.
"Iye udah, cepet jalan," sahut Reza dari belakang sambil bersender hampir tiduran dengan santai.
"Emang gue supir lo apa," gerutu Fion lalu mulai menjalankan mobil dengan perlahan.
Di tengah perjalanan suasana pun menjadi sepi--tidak seperti biasanya. Fion dengan tegang menyetir mobil, Angga sedang asik melamun, sedangkan Reza terus menstalker media sosial milik Putri.
Dia baru tahu bahwa ternyata Putri suka buku. Terlihat dari beberapa postingannya yang menunjukan gadis itu sedang berselfie di perpustakaan kota.
"Tumben lo Ja, mantengin hape terus?" terdengar suara Angga tiba-tiba.
"Biasa, lagi lope lope dia," sahut Fion tanpa menoleh. Dia agak lega sedikit ternyata dia lumayan lebih lancar menyetir dari pada sebelumnya.
Reza agak terkejut dan menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Emang siapa ceweknya?" tanya Angga pada Fion sambil melirik Reza ledek.
Fion mengangkat kedua bahunya. "Gak tau dah."
Angga lalu menoleh ke arah Reza. "Ja kalo ada cewek yang lo suka, kejar dong! Kayak gue nih, haha," tuturnya lalu tertawa bangga pada dirinya sendiri.
Reza mengangkat satu sudut bibirnya diam-diam lalu mendengus. "Pasti dong gue kejar."
To be continue
MATSA
Reza oh Reza...
Ramein kolom komentar ya (σ≧▽≦)σ
Gue tantang kalian, spam komen sampe 50+ gue bakal update lagi hari ini !!!
Ayo semuanya
┻━┻ ︵ヽ('Д´)ノ︵ ┻━┻*komen apa aja, 'P' doang juga boleh.

KAMU SEDANG MEMBACA
MATSA [ Tamat ] 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶
Teen FictionHanya cerita si cewek yang mati rasa bernama Putri. Sudah berkali-kali dikecewakan oleh cowok-cowok yang selalu mempermainkan dirinya, membuat Putri menutup diri dan tidak peduli lagi dengan apapun yang berhubungan dengan laki-laki, apalagi ternyata...