21+
Sementata ini Panji sibuk membantu Riski mengurus toko penyewaan dan jual alat-alat outdoor mereka. Tidak jadi mengambil pekerjaan sebagai juru parkir dari Dishub. Kebetulan bisnis Riski memang ramai. Cukup untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Jerih payah yang tidak ada habisnya akhirnya berbuah manis.
"Pak. " panggil Panji pada Riski yang sedang mencatat daftar pembelian dari supplier.
"Apa Ji? " jawab Riski.
"Bapak sadar tidak? Sikap Iqbal sepertinya berubah. Kecewakah ia pak? "
Riski meletakkan bolpoinnya. Akhirnya ia menjumpai topik berat yang sangat ingin ia hindari. Keluarganya memang sering diterjang angin. Namun kedua putranya yang terlibat cinta segitiga, jujur, membuatnya pusing.
"Hhh.. Bapak tidak tahu Ji. Tapi, kalau dia benar mencintai Lina, apa yang akan kau lakukan? " Riski malah balik bertanya.
Panji terdiam. Tentu saja ia akan memilih kata hatinya. Dan Lina pun menerimanya dengan tangan terbuka. Salahkah Panji di bagian ini? Apa ia yang memaksa Lina memilihnya?
"Panji akan tetap menikahi Lina. Karena Lina juga menerima Panji Pak. ""Kalau begitu. Jangan sampai kamu memperlihatkan seolah Iqbal kalah dan kamu menang. Menikah itu bukan ajang menang kalah. Itu qodar. Jadi hargai perasaan adikmu. Jangan mengumbar kemesraan. Ngerti? "
"Iya, ngerti kok pak."
Riski beranjak menuju balkon belakang toko. Di belakang sana pemandangan Semeru dan Bromo terlihat berkabut. Tak sadar waktu cepat berlalu saat ia dan keenam putra remaja dan satu putrinya melakukan camp di kaki gunung Bromo. Tidak sampai mendaki.
"Bapak sudah selesai mencatat? " Panji mengikuti ayahnya yang sedang melamun.
"Panji. Orang jatuh cinta itu seperti terserang racun. Penawarnya adalah bertemu. Kalau racun itu tidak segera dihilangkan, lama-lama akan menggerogoti inangnya. " kata Riski. Itu artinya, apakah Iqbal sudah terinfeksi racun bernama cinta. Menjadi bucin? Sedikit rasa bersalah terbersit dibenak Panji.
Selesai membereskan pekerjaannya, Panji kembali pulang seperti biasa. Ia memilih menginap dipondok alih-alih di rumah. Karena ingin menjaga perasaan Iqbal seperti nasehat bapaknya.
"Assalamu'alaikum.. "ucap Panji saat memasuki rumah mertuanya.
"Waalaikum salam warohmatullah.. " jawab Lina menyambut Panji. Rumah terasa sepi. Hanya ada Lina yang duduk sendiri di sofa ruang keluarga.
"Mana Abi sama Umi, Sayang? "
"Abi dan Umi ke rumah Pakde. Ada hajatan disana. Katanya menginap. " kata Lina dengan pipi merona. Panji mengelus pipi istrinya penuh sayang.
"Tolong ambilkan handukku sayang. Mas mau mandi!"
Sembari membawa jaket dan tas Panji, Lina mengambilkan handuk untuk suaminya. "Sudah malam, kok mandi mas? "
"Tidak apa. Mas Panji mau mandi aja."
Lina mengunci rumah dan menunggu Panji selesai mandi. Banyak sekali hal yang mampir di kepalanya. Terutama ingatan mengenai seseorang yang dulu sering Abi dan Umi jodohkan dengan dia. Perasaan Lina menjadi sesak. Ia berdebar. Rasa bersalah mulai menggelayut berat didadanya.
Astaghfirullahadzim.. Apakah ini cobaan orang menikah?
"Ada apa Sayang? " Panji melihat Lina yang duduk disisi tempat tidur dengan menekan dadanya. Seolah kesakitan.
"Tak apa, " ucap Lina. Dia menatap sosok suaminya, tersenyum.
Panji tidak suka melihat istrinya terlihat tersiksa seperti ini. Seakan pernikahan mereka adalah kesalahan dan tidak seharusnya terjadi. Ia ikut duduk disamping Lina. Hati-hati merengkuh dagu Lina untuk saling menatap.
"Jangan berbohong padaku, sayang. Katakan, " ucap Panji selembut mungkin, mencari celah dari tatapan Lina yang nanar.
"Aku tidak apa-apa. Sungguh. " aku Lina.
Panji gemas. Ia mencium dahi Lina sayang. Merengkuh tengkuk Lina dan mengulum bibir lembut Lina. Hanya sapuan-sapuan saja.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar mencium Lina dengan pendekatan yang intim. Hati-hati memainkan bibir plum Lina yang terasa nikmat. Membawa mereka dalam melodi cinta yang semakin memanas. Panji mengeram. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Lina dan membawanya ke pangkuannya.
"Lina. Aku.. mencintaimu.. Aku ingin selalu.. kau tahu.. " Panji mengucapkan itu sungguh sungguh dan mencium bibir Lina lagi dan lagi. Membuatnya candu.
Panji menjeda ciumannya untuk menatap istrinya. Dahi mereka saling bertautan. Nafas mereka beradu. Jantung mereka menghentak-hentak tak karuan. "Aku adalah istrimu Mas. " bisik Lina.
"Ya. Aku tahu!" Panji melanjutkan lagi menciumi Lina. Perlahan turun mencium leher Lina yang wangi aroma susu. Sangat segar. Panji membuat tanda disana. Membuat Lina menggeliat dan mendesah. Lina sama sekali tak menolak suaminya memperlakukannya. Membuat dirinya juga ikut memanas. Ia sebisa mungkin membalas mencium Panji di pangkuan Panji walau terasa awam. Ia merasakan milik Panji dibawah sana mengeras dan menegang.
"Lina.. " Panji melepaskan Lina dan membaringkan Lina di tempat tidur.
"Tidurlah! "
Panji mengikuti Lina tidur dan memunggungi Lina! Sementara Lina hanya bisa menatap punggung Panji, sedikit kecewa. Ia sudah pasrah Panji melakukan apa saja terhadap dirinya. Namun sampai saat ini dirinya masih saja perawan!***
Well, Panji masih merasa dia tak pantas untuk Lina.. 🤔
Bagaimana? Lina cocok dengan Panji, atau Iqbal???

KAMU SEDANG MEMBACA
PANJI (Completed)
SpiritualBagaimana rasanya saat hidup hanya dihantui dosa besar? Dosa itu bahkan menjadi penyebab ia harus putus kuliah. Dosa itulah yang membuat ia pergi jauh dari keluarganya, dan menjalani kehidupan di jalan dengan terlunta-lunta. Dosa itu tak terhapuskan...