24. tak tahu🤡

11 0 0
                                    

Belaga bodoh hanya untuk menutupi sesuatu yang tak pasti.

SM, 28 Februari 2020

"Kamu harus sabar. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya!"

Aldi menahan kesedihannya. "Dia adalah orang yang aku sayang kemudian meninggalkanku setelah kamu."

"Jika dia jodohmu, dia nggak akan jauh ke mana. Tinggal bagaimana cara kamu berusaha mendapatkan dia kembali."

Kata-kata itu seakan membius pikiran Aldi yang galau. Aldi menatap kedua mata Lala, dia sahabat yang membuatku galau juga kembali membangkitkanku. Gumamnya.

"Terima kasih, semangatku telah kembali!"

Lala tersenyum mendengarnya. Dan akan turun kembali. Pikir Lala.

Lala duduk di kursi depan rumahnya, memainkan ponsel pintarnya.

"Bibi, ambilin minum!" Teriak Lala dari luar.

Wari membawakan segelas air putih. Tapi airnya tumpah di baju Lala, Lala berdiri. "Bibi! Gimana sih?" Bentaknya membuat Wari merasa ada yang beda dengan Lala.

Wari membersihkan baju Lala menggunakan tisu yang ada di meja. "Nggak usah, kerja yang bener!" Bentaknya lagi, lalu ia masuk ke dalam rumah.

Wari terdiam memikirkan sikap Lala barusan.

Lala duduk memukul kasurnya, ia kesal dengan sikap Sekar yang seolah benar-benar mencintai Saga, orang yang selama ini ia suka. "Kenapa semua yang aku inginkan, harus ia yang memiliki? Kenapa?" Teriaknya frustasi.

Lala menatap cermin, melihat bayangan dirinya. "Kamu itu bodoh, kamu nggak boleh lemah, nggak boleh! Saga milik kamu!" Lala menunjuk-nunjuk dirinya dan terus berkata.

Ponselnya berdering dengan pesan dari Saga.

Saga

Gue bakal balik besok, La. Excited nggak lo?

Mau nitip apa?

Bales dong, lo 'kan online!

Lala tersenyum miris membaca pesan itu,baru ia membalasnya.

Kamu, udah kasih kabar Sekar duluan 'kan?

Udah dari tadi, kenapa?

Lagi-lagi ia kecewa dan bertambah bencinya pada Sekar.

Tak ada niatan lagi untuk membalas pesan dari Saga. Ia biarkan ponselnya hidup di pesan Saga tanpa ia baca. Lala pergi keluar rumah dari pada ia harus menahan rasa sakit hati.

Kok nggak dibales?

Cemburu yah? Itu artinya lo suka sama gue? Ngaku deh!

Tapi kita itu sahabatan. Tapi boleh lah lo jadi yang kedua setelah Sekar kalau mau wkwkwk

Piss✌ becanda. Lo nggak mungkin suka sama gue, lo cocoknya sama Fahri yang pinter, keren itu. Izinin gue yah buat taaruf Sekar wkwkwk

Etdah cuman diread. Udah sampe berbusa mulut gue ngomong nih!

Balas oy!

Balas oy!

😣 balas.

Di butik, Lala duduk di meja bos. Ia menghitung dana masuk dan keluar selama beberapa minggu ini.

"Fitri!" Teriaknya.

Karena tak ada jawaban, ia membawa buku pengeluaran dana untuk menemui Fitri, penjaga kasir di butik.

Dengan wajah kesal, ia setengah berlari mencari Foto di penjuru ruangan butik yang terbilang luas. Ditemuinya Fitri di ruangan yang sering digunakan untuk istirahat. Ia sedang memakan bekal yang ia bawak.

Seketika Lala langsung membanting buku itu di depannya dengan kuat, membuat beberapa karyawan yang ada di sana terkejut. "Kamu bawa kabur kemana uang butik!" Sentaknya.

"Maksud Mbak apa?"

"Kamu itu korupsi! Kemana aja dana keluar, sampai tinggal segini?"

Tidak terima dengan tuduhan itu, Fitri menguak yang sebenarnya di depan karyawan lain. "Selama ini Mbak yang pakai, kenapa nuduh saya?" Ujarnya lantang dengan sikap berdiri menghadap Lala. Mata mereka beradu dengan tatapan tajam yang menakutkan.

Karyawan lain yang melihat itu, tidak ada yang berani mendekat bahkan, beberapa lainnya memilih mundur dari area mereka. "Berani sekali kamu!" Tangan Lala lepas mendarat di pipi Fitri, membuat ketakutan karyawan lainnya bertambah dua kali lipat.

"Sini kamu!" Lala menyeret tangan Fitri keluar dari ruangan.

"Lepasin dia!" Cegah seseorang dari pintu.

Tap!

Pandangan Lala teruntuhkan dengan kedatangan seorang itu.
"Saga?"

Ya. Dia Saga yang telah kembali. Di belakangnya ada Fahri dan Sekar yang dengan sengaja memberitahu sikap Lala.

Ingin sekali Lala menghambur di pelukan Saga tapi ia takut, Saga merasakan perubahan dengannya.

"Ikut gue!" Kini Saga membawa Lala menuju mobil, juga bersama Fahri dan Sekar.

"Saga, kapan pulang?"

"Cepet amat? Kangen yah sama Lala?"

"Gimana keterima kuliahnya? Lancar 'kan tes nya?"

"Sepi lho nggak ada kamu di sini."

Ucapan Lala tak ada yang diidahkan oleh Saga. Sikap Lala seakan melupakan apa yang baru terjadi, dia tidak berpikir apakah Saga tahu atau tidak tentang tadi.

"Kok diem?"

Apa Saga merasakan sikapku berubah? Semoga tidak.

"Kak Saga lagi fokus nyetir kali, La." Jawab Sekar yng menyambung dan tidak tega dengan sikap kacang Saga pada Lala.

Kenapa harus Kak sih?

Lala mengangguk dan memilih diam. Setelah itu tak ada aktivitas pembicaraan lainnya dalam mobil.

Ternyata mereka pergi ke sebuah gedung, yang ada lapangan di atasnya.

Lala kaget karena kehadiran, Kiya, Vita, Vivi dan Aldi di sana.
Di tengah mereka, Saga meraih tangan Lala, menatapnya sampai ke dalam mata. Tatapan yang sulit dimengerti, membuat degup jantung Lala berdetak dengan kencang. Masih dengan tangan yang digenggamnya, wajah Saga sulit untuk dibaca dengan apa yang akan ia lakukan.

Evolusi Waktu (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang