Pagi hari telah menyapa para jiwa yang lemah, mereka masih saja membutuhkan nyawa untuk tetap hidup. Laila bangun lebih awal, gertakan Aluna membangunkannya ketika mimpi indahnya tengah terlihat dalam pandangan gelap yang ia miliki.
"Jam berapa lo bangun?" Mila datang dan menepuk pundak Laila tiba-tiba. Laila sedikit terkejut dan membalas tepukan Mila pada pundaknya.
"Jam empat tadi," jawab Laila singkat lalu duduk dan merilekskan kepalanya.
"Sukurin Lo! Udah gue bilang kerja di perusahaan Lathfierg memang dapet duit yang banyak tetapi sekali lo buat masalah, habis lo!" gerutu Mila menyiapkan kepergiannya.
"Lidya emang nyeremin kah?" tanya Laila, tangannya sedikit gemetar. Mila hanya mengangguk dan mengangkat bahunya.
"Yang gue denger, kekuasaan dia semakin banyak dan untuk ngelawan dia itu, hal yang MUS TA HIL!"
Setengah jam telah berlalu, Mila dan Laila akhirna siap melangkah ke luar dan menyongsong pekerjaannya. Ketika mereka membuka pintu, mereka merasa tersentak kaget. "Kalian siapa?"
"Gue Rozi, kakak dari Lidya. Lidya minta gue buat ngawasin kalian berdua, terutama yang bernama Laila!" tegas Rozi. Laila hanya menatap Mila dan meneguk ludahnya, kerongkongannya terasa kering tiba-tiba.
"Iya gak mungkin kan lo ngikutin kami berdua naik angkot ke perusahaan, lagian lo kek gak ada kerjaan," tukas Laila dengan mengumpulkan segenap keberaniannya. Mila menepuk dahinya, masih saja Laila dapat membantah dalam kondisi darurat seperti ini.
"Gue bawa mobil, kalian berdua ikut gue."
"Jangan! Gue gak percaya sama lo! Entar lo nyulik kami berdua," potong Laila dengan cepat dan menarik Mila agar segera mengunci pintu dan pergi dari area ini.
"Mau pergi ke mana kalian?" Rian mencegat arah mereka ingin beranjak pergi. Laila hanya memutar bola matanya, dia kehabisan akal. Benar apa yang dikatakan Mila, berurusan dengan keluarga Lathfierg tidak akan mudah ataupun menguntungkan Laila.
"Tidak ingin ke mana-mana," gumam Mila merasa ngeri. Apapun yang terjadi hari ini, ia hanya ingin menyalahkan sepupunya dan sifat malas yang Laila miliki.
Rian merogoh handphone di sakunya, ia menelepon seseorang. "Halo kak Lidya.
Dia mengaktifkan pengeras suaranya. "Ada apa Rian? Mengapa kau menghubungiku?"
"Kami telah sampai di depan rumah yang kau maksud, mereka tidak mau mengikuti kami. Sebab itu, aku menghubungimu," terang Rian sambil menatap ke arah Laila dan menaikkan satu alisnya. Aura Rian hampir sama dengan aura yang Gio miliki.
"Tidak apa-apa jika mereka tidak ingin pergi," gumam Lidya dengan nada yang teramat datar. Lidya langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Nah lo denger gak? Gak apa-apa kalo kami berdua gak ikut! Kaliannya aja yang maksa!" gerutu Laila. Kemenangan berada di pihaknya.
"Mil handphone lo bunyi," gumam Laila sembari menyenggol lengan Mila. Mila langsung merogoh handphonenya dalam saku. "Telepon dari siapa?"
"Pak Erick," jawab Mila singkat lalu mengaktifkan pengeras suaranya. "Ya pak ada apa?"
"Kalian yang ada apa. Mengapa masih saja kalian tidak mengikuti orang yang menjemput kalian kini? Mereka adalah orang kiriman Lidya, jangan sampai membuat Oxy terlalu lama menunggu. Jika tidak, Aluna yang akan menjemput kalian berdua!" suara Erick terdengar kesal. Dia langsung menutup teleponnya secara sepihak.
"Bagaimana? Lagian kami berdua adalah penjahat yang elite, menculik kalian tidak akan membayar usaha kami," guman Rozi. Mila hanya menghela nafas dan beranjak mengikuti mereka berdua.
***
Laila berlari terburu-buru ke ruangan Oxy. Erick baru saja meneleponnya dan membiarkan Aluna menghitung mundur.
"Dua...." Aluna kini tengah berhitung drngan ria. Laila langsung membuka pintu. Ia melihat ke sekelilingnya, ia ditipu. Hanya ada ruangan kosong tanpa kehidupan, ia terlihat begitu bodoh.
Ia memasang wajah datarnya dan beranjak mengerjakan tugasnya yang terlihat menumpuk. Pintu dibuka dan menampilkan figur Oxy, bosnya.
"Bener-bener tampan," batin Laila berkecamuk. Ia segera menepis hal itu dengan pikiran negatif tentang Oxy.
Lelaki itu masuk dan meletakkan beberapa dokumen ke mejanya, ia berbalik arah tanpa menyapa ataupun menatap kehidupan di meja sekretaris barunya itu. Dia berjalan lebih santai, seakan ia tidak melihat seorangpun di ruangan.
Pintu ditutup dan Laila hanya bisa bergumam, "Gue yakin tuh mata orang gak berfungsi."
Tugas Laila hampir masuk berada di tahap 'selesai'. Erick dan Oxy masuk beriringan. Mata Laila terfokus sejenak pada dua lelaki tampan itu, bagaimanapun dia adalah wanita normal.
"Aku ingin kau menyelesaikan beberapa dokumen karena tiga hari yang akan datang akan ada presentasi penting, jangan sampai kau akan melakukan kesalahan yang sama!" perintah Oxy memecahkan lamunan Laila.
"Dan Pak Oxy yang akan langsung membantu kamu. Aku ada pekerjaan penting di Finlandia," pamit Erick lalu berbalik arah dan sedikit menundukkan kepala ketika melewati Oxy.
"Apa-apan ini?" gumam Laila sebentar sembari menepuk dahinya.
"Aku tidak akan membuatmu nyaman bekerja di sini setelah berhasil menyusahkanku kala itu," lirih Oxy sembari menyunggingkan senyumnya.
***
Tiga hari mereka bekerja bersama-sama. Perasaan Laila? Laila sangat menyesali hal ini. Bukannya bersenang-senang bekerja di perusahaan yang terbilang sukses dengan bos yang begitu tampan. Ini hal yang membuatnya kesal!
"Apa ini nasibku? Kerja lembur sampai malam hanya dikasih makan siang. Mana ongkos pulang ditanggung sendiri lagi dan pak bos yang terhormat itu kini tengah bersantai entah di mana ia berada," gerutu Laila tak hentinya.
Pintu dibuka namun hanya ada satpam yang terlihat. "Bu Laila, kantor akan ditutup ini udah jam delapan malam."
Laila menghela nafasnya, besok pagi ia harus pergi bersama Oxy untuk melakukan presentasi. Bagaimana tugasnya ini bisa selesai?
"Tetapi tugasku belum selesai Pak," hela Laila.
"Kalo Bu Laila mau, Bu Laila boleh ngerjain tugasnya di pos satpam. Aku bakal bawain dokumen itu ke pos satpam," tawar satpam tersebut. Mata Laila berbinar-binar, akhirnya ia menemukan titik terang.
"Bapak serius? Ayo!" Laila akhirnya memindahkan seluruh pekerjaannya di pos satpam. Begitu hening dan sunyi.
Beberapa waktu telah berlalu, Laila bahkan tidak sempat melihat ke arah jam dinding. "Bu Laila tidak pulang?"
"Sebentar lagi Pak," henti Laila tanpa menoleh sedikitpun.
"Akhirnya selesai," hela Laila sembari meregangkan ototnya.
"Ibu mau pulang?" tanya satpam tersebut dengan serius.
"Ya..." mata Laila membelalak kaget. Tepat jam 12 malam, bagaimana dia bisa pulang?
"Kok bapak enggak ngomong sih?" Laila berdecak kesal.
Laila berada di dalam keadaan dilema. Jika pulang, tidak akan ada yang menjamin keselamatannya. Jika dia tetap berada di sini, bagaimana dia akan rebahan?
Laila memutar akalnya dan ia akhirnya menemukan titik terang. "Boleh gak pak kalo Laila nginep di sini?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Leave The World with Yourlove [Lathfierg Series] [End]
RomanceBook 3 of Lathfierg Series Tuntutan ekonomi yang menjadi penyebab masuknya Laila Nurfajah ke dalam kehidupan Oxyvier Lathfierg. Ditambah lagi dengan pekerjaan Oxy yang semakin memadat membuatnya harus mencari pengganti Lidya dengan segera. Mereka be...