Oxy langsung memutar mobilnya. Jalanan terlihat sepi memudahkan Oxy untuk membanting stir. Oxy memarkirkan mobil di pinggir jalan, tepat menghadang sebuah lorong yang menuju ke proyek gedung yang tak kunjung selesai.
Ia membuka pintu dan berusaha mendengar teriakan dan gesekan sepatu dengan pasir yang menyeruak di malam yang sepi. Ia mendengar jelas suara yang kian meminta tolong itu, tepat di dalam gedung yang masih saja berupa kerangka.
Anjing-anjing tak henti menggonggong walaupun mereka tengah di rantai menandakan jika ada aktivitas di dalam sana.
Sembari melangkah lebih cepat serta langkah yang terkesan mengendap. Oxy menyelusuri gedung itu.
Akhirnya ia menemukan segerombolan lelaki itu tengah mengikat seorang wanita dengan sangat kencang. Wanita itu kian meronta dikuncian tali itu. Ia diam, setelah tamparan keras mendarat di pipinya.
Derai air mata dan ringisan menggema di sela-sela gedung. "Teriak saja dan nikmati saja! Gak ada yang bakal nolongin lo!"
Geraham Oxy saling beradu, membuat gigi-giginya gemertak. Ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, amarah kian merasuki otaknya dan melebur menjadi ambisi yang berapi-api. Wanita itu adalah Laila Nur Fajah. Oxy tidak bisa melihat dengan jelas namun suaranya dan pikirannya menuntun Oxy untuk menolongnya.
Suara sobekan baju terdengar kuat di telinga Oxy. "Kalian bangsat! Laknat! Jahanam!"
Hanya umpatan yang bisa ia lakukan, tenaganya telah terkuras. "Lepaskan dia!" Oxy berhanti menjadi mata-mata, ia tidak ingin hal yang buruk terjadi.
"Wah-wah, ada pahlawan datang. Mau apa lo?!" sergah mereka. Jumlah mereka berenam dengan tubuh yang kurus, mungkin saja makanan tak ingin tercerna di tubuh-tubuh manusia yang begitu laknat.
"Lepaskan dia!" Oxy mengepalkan tangannya dan berjalan dengan tegap. Secerca harapan muncul di mata Laila. Rahang kokoh Oxy sepadan dengan sorot matanya yang menajam.
"Wah seorang bos besar sepertinya.... Kerjaan lo tuh di kantor bukan ngurusin nih cewek! Ya gak?!" gelak tawa mereka menggema di gedung yang beratap langit tersebut.
Tanpa memperpanjang waktu, mereka mengambil beberapa besi sebagai senjata. Seseorang menunggu Laila sembari mengitari dan beberapa saat ia tersenyum sumringah.
Serangan dimulai, mereka dengan gencar mencari titik lemah Oxy. Seakan ingin membuatnya wafat lebih awal agar mereka tetap melanjutkan aksinya.
Tangkisan demi serangan pun Oxy keluarkan. Laila hanya menatap Oxy tak berkedip sembari berdoa agar lelaki itu tetap selamat.
Laila sedikit berharap jika lelaki itu tetap hidup, walaupun mungkin Oxy tidak bisa menyelamatkan dirinya. Semua ini karena keegoisannya sendiri, seharusnya ia menunggu Oxy sebelum pulang. Namun karena lelah menunggu ia memutuskan untuk meninggalkan para satpam yang berusaha menghentikannya dan kesialan akhirnya mendatanginya. Bagi Laila, sosok Oxy adalah pimpinan yang baik walaupun terkadang ia terkesan aneh namun lelaki itu tidak membiarkan Laila merasa lapar sedikitpun ketika bekerja.
Lelaki yang tidak terhitung lagi berapa kali ia umpat kini tengah bertaruh nyawa demi harga dirinya.
"Lo jangan seneng dulu!" sergah lelaki yang tengah menunggu Laila. Ia melihat Laila tersenyum ketika melihat Oxy berhasil menumbangkan kekuatan beberapa orang di antara mereka. Laila ditampar sekali lagi, cairan merah kembali turun dari sudut bibirnya.
Suara tamparan itu memecahkan konsentrasi Oxy, penglihatannya teralihkan dan menangkap sorot wajah Laila yang dihiasi cairan walaupun tanpa cahaya menyinari.
Oxy melihat dengan jelas jika mata Laila perlahan menutup, khawatir kian menyelimuti hatinya. Seakan lupa dengan keadaannya sekarang, jantungnya seakan lebih memilih untuk berhenti berdetak. Tiba-tiba, perasaannya hancur seketika namun murkanya menjadi-jadi.
Matanya terkesiap menjadi tidak fokus. Seorang lelaki mengarahkan besi yang ia genggam ke arah dada Oxy. Oxy mengelak dengan cepat namun gerakannya dikalahkan. Ujung runcing besi itu kini mengelupaskan kulit lengan Oxy. Darahpun menetes dengan derasnya dan jatuh membasahi lantai tanah.
Kulitnya seakan terbelah, sedikit terbuka dan melihat bagian-bagian merah. Darah melimpah seakan memberontak dan bebas dari pertahanannya.
"Udah gue bilang! Kerjaan lo itu di kantor bukan ngurusin nih cewek!" gelak tawa kembali menjelajah seisi penjuru.
Mata Laila berusaha kuat melawan panas pipinya bekas tamparan. Ia melihat dengan lemah ke arah lengan Oxy, darah menetes dengan deras.
Laila berusaha membuka matanya dengan lebar dan memperjelas penglihatannya serta berharap yang ia lihat hanyalah mimpi.
"Akhirnya lo bangun! Liat tuh pahlawan lo bakalan mati!" gertak lelaki yang telah menampar Laila.
"Lari pak.." lirih Laila, energinya kian terkuras bersama kepekaan lidahnya merasakan sumber dari cairan asin dari dalam mulutnya.
Fokus Oxy kembali teralihkan ke lirihan yang menyebut gelarnya. Laila kembali siuman dari pingsannya. Entah mengapa, Oxy merasa senang karena suara itu kini terdengar lagi di telinganya.
"Wah-wah ternyata ini bosnya, pantes aja jadi pahlawan. Lo masih gak mau lari? Lo masih mau nyelametin nih cewek? Lo gak liat nih cewek udah pasrah? Oh gue tau, lo mau nganterin nyawa lo kan?!" tawa lelaki itu terkesan jahat.
"Jangan harap!"
"Bacot lo!" Seorang pria memukul Oxy dari belakang dengan gerakan yang teramat cepat dan berhasil membuat Oxy tumbang ke arah depan. Pria itu tepat memukul di bagian tengkuknya, bagian itu kini teramat sakit.
Matanya meremang dan pikirannya jauh melayang.
Pemandangan masa lalu kini berada di pandangannya. Kejadian saat pertempuran dengan Robert kembali tersingkap dalam ingatannya. Ia kini hanya menjadi penonton, kala Gio dan Lidya bersatu untuk mengalahkan Robert. Ia masih saja terpaku dan melihat Lidya yang mulai tumbang. Ia menjadi penonton dan tetap menjadi penonton.
Pikirannya terpental kala Lidya kembali bertarung tepat di hadapannya, potret Lidya ketika melawan rekan bisnis yang menghinanya.
Ia masih merindukan Lidya, ia tidak ingin serangan segerombolan berandalan ini mengalahkan rasa rindunya kepada saudara kembarnya. Ia tidak ingin menjadi penonton atas nasib buruk yang akan dialami Laila.
Matanya terbuka ketika sebuah kaki terpijak tanpa hak di atas punggungnya. Ia berbalik dengan cepat dan membuat orang itu terjatuh, dengan cepat Oxy membuat orang yang jatuh itu menjadi semakin lemah.
"Berharap untuk membunuhku? Mimpi!" Oxy kembali berdiri. Ia siap untuk kembali melawan, sebuah harapan kini membangkitkannya. Ia hanya berharap Lidya akan datang untuknya sebentar lagi, memeluknya dan ia dapat melepas rindu. Tentu saja, ia telah menantikan hal ini berbulan-bulan.
"Masih punya nyali juga lo?!" Semua menyerang dengan serentak. Namun, kekuatannya menjadi berkali-kali lipat, bayangan Lidya kini menetap di pelupuk matanya. Oxy membuat mereka tumbang.
Lelaki yang sedari tadi menjaga Laila akhirnya turun tangan. Ia menyerang Oxy namun Oxy balik menyerang. Lelaki itu tumbang.
Tanpa membuang waktu, Oxy berlari membuka ikatan Laila. Laila hanya tersenyum lemah, "pergi saja, aku baik-baik saja. Kau akan mati."
Belum sempat menjawab sepatah kata pun, para lelaki tadi telah mengelingi mereka berdua dan mendongkan senjata berupa besi yang telah mereka genggam dari tadi.
"Apa yang aku bilang..."
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri, lebih baik kita mati bersama-sama daripada mereka berhasil merenggut harga dirimu."

KAMU SEDANG MEMBACA
Leave The World with Yourlove [Lathfierg Series] [End]
DragosteBook 3 of Lathfierg Series Tuntutan ekonomi yang menjadi penyebab masuknya Laila Nurfajah ke dalam kehidupan Oxyvier Lathfierg. Ditambah lagi dengan pekerjaan Oxy yang semakin memadat membuatnya harus mencari pengganti Lidya dengan segera. Mereka be...